Lukisan Seribu Wajah

Lukisan  seribu wajah

Oleh: Nurul Hi

 

Udara begitu bersih. Angin berhembus pelan menyelinap diam-diam diantara perdu dan semak. Menyapa rerumputan, mengintip sinar matahari yang berpendar dalam perangkap embun pagi di pucuk dedaunan. Kemudian jatuh, masuk ke tanah, menjelma sungai. Atau lenyap ke awan, menjelma hujan. Dan menjadi embun lagi. Begitu seterusnya. Selalu. Toh tidak ada yang jemu. Atau lelah. Seperti hidup ini. Seperti kota kami yang menjadi begitu hidup. Seperti hari-hari yang begitu cerah. Dan jiwa kami yang sarat dengan gairah  menyambut matahari. Berpacu, berkejaran. Gembira. Pergi ke kantor, ke sekolahan, toko , pasar, tempat parkir, jalanan atau dimanapun. Bekerja. Menari. Bercinta. Anak-anak rajin sekolah, dan masakan ibu-ibu terasa lezat. Masjid-masjid tak lagi lengang. Juga gereja-gereja, dan kelenteng. Hidup menjadi begitu menyenangkan. “Terpujilah matahari yang tersenyum, mencairkan kebekuan kota yang hampir mati”

Dulu kota ini seperti menunggu ajal. Setelah perkelahian massal itu. Sebuah peristiwa yang tak terhindarkan setelah bertahun-tahun saling mendendam. Diteror dan meneror,  dijarah dan menjarah, dibantai dan membantai, diserang dan menyerang. Ya. Kami saling serang, saling hujat, saling bantai. Bergulat bangkai. Hingga kehabisan tenaga, lumpuh bersama runtuhnya gedung-gedung.  Semua atas nama Tuhan. Dan kebenaran. Semua sirna. Selain nafas kami yang  tinggal sengal-sengal menjerit pelan: Makan! Makan! Hidup adalah melalui sebuah hari dengan perut terisi.

Tapi itu telah berlalu. Sekarang kami mempunyai hidup baru, sejak kedatangan orang asing itu di kota kami. Suatu pagi.

“Mungkin ia seorang Nabi”

“Atau Syeh Siti Jenar”

“Atau….”

“Hush! Hati-hati bicara. Bisa-bisa kita ditangkap”

**

     Kami tak tahu siapa dia. Tiba-tiba saja sudah berada di kota ini. Tak satupun warga kota ini  mengenalnya sebelumnya. Juga kapan ia datang dan darimana. Asing. Setiap hari datang ke tepi Alun-alun dekat pasar dan duduk di bawah pohon rindang, bersanding dengan sebuah lukisan. Bukan pengemis ataupun gelandangan. Pakaiannya terlalu bersih untuk profesi itu, bahkan dibandingkan dengan pakaian yang dikenakan orang-orang yang senantiasa berlalu-lalang di depannya, dari pasar dan ke pasar. Tubuhnya juga tampak bersih, hanya agak pucat dan kurus. Selalu tersenyum dan menyapa setiap orang yang lewat. Mempertontonkan lukisannya. Bercerita panjang lebar. Beberapa orang menengoknya sambil lalu, beberapa memperhatikan sambil senyum-senyum. Lumayan buat hiburan. Dan mungkin suatu pagi begitu banyak orang yang butuh hiburan. Berkerumun di tepi alun-alun. Orang-orang yang baru datang segera ikut nimbrung, mengira ada obral baju impor dari luar negeri. Bagus-bagus dan murah: lumayan buat kondangan.

Orang asing tersenyum mengembang. Seperti seorang tukang gembala diantara domba-domba, Ia berdiri di tengah kerumunan orang-orang yang duduk melingkarinya.

“Ketika para nabi terilhami, mereka bahasakan dalam kitab-kitab suci, Al Qur’an, Injil, dan Taurat. Ketika orang-orang suci mencium parfum Ilahi, terhamparlah musik dan tari-tarian. Ketika para sufi ekstase, mengalirlah syair-syair! Dan Saya!, saudara-saudara!” Membungkuk, tersenyum, “..Wahyu itu saya gelar dalam lukisan ini”

         Sebenarnya hanya sebuah lukisan sederhana.  Hanya goresan-goresan berupa titik-titik berwarna-warni bergerombol membentuk sebuah lingkaran besar penuh warna. Semua warna. Meriah. Seperti pasar sekatenan. Di ujung bawah tertulis: ‘seribu wajah’. Kami tak mengerti maksudnya. Dan tak peduli. Toh kami bukan pengamat lukisan, bukan pemerhati, apalagi kritikus. Tapi orang asing itu bicara yang enggak-enggak.

“Setiap titik yang tergores adalah sebuah episode yang diberkahi”

Kami menjadi penasaran. Lalu orang asing itu menunjuk sebuah titik dan berseru: “Oh! Lihat saudara-saudara! Lihat di sini. Batu-batu terjal ini. Inilah gua Hira’ di mana Nabi di bai’at. Lihat dengan seksama”

Beberapa orang maju. Aku juga. Khusuk mengamati. Lama.

“Bagaimana? Ada apa?” Saling bertanya. Aku menggeleng, mengangkat tangan. Yang lain pada senyum-senyum. Lucu.

“Berkah tidak datang kepada yang lengah” sebuah sindiran halus.

Kami mencoba lagi. Penuh konsentrasi. Kupandangi tanpa berkedip. Lama. Titik-titik-titik-titik-titiii…kk. Pusing. Mau muntah. Mataku berkunang-kunang. Mengalihkan pandang, bertumbukan dengan pandang mata si orang asing. Bergetar. Hah, apa-apaan ini?.

“Bagaimana anak muda?”.Lembut. Sialan!

“Ah, ya! Aku melihatnya” Akhirnya.

“Bohong” Orang-orang tak percaya

“Sungguh! lihat saja sendiri” beberapa maju. Berkonsentrasi. Khusuk. Lama. Berkeringat. Rasain!

“Iya. Benar! Oh…”

Heh?

“Iya juga. Benar juga. Oh…”

“Iya. Iya. Oh..”

“Oh…”

**

          Berita tentang lukisan itu segera menyebar hingga sudut-sudut kota kami. Dan semakin banyak orang datang berduyun-duyun ke alun-alun. Banyak orang. Bukan hanya orang-orang yang mampir lewat ke pasar. Banyak yang sengaja menyempatkan diri, dating dari jauh. Bahkan para agamawan juga datang. Kiai. Ustadz dan para santri. Pastor, pendeta, biarawati. Biksu dan biksuni. Juga datang rombongan atas nama instansi, partai, dan organisasi.

          Setiap hari orang asing itu dengan semangat bercerita panjang mengenai lukisannya. Dari pencariannya. Perjalanannya ke tempat-tempat suci. Mekah. Roma. Tibet. Mesir, Yerusalem, sampai sungai Gangga. Meditasinya, puasanya dengan segala macam puasa, dan tirakatnya. Dan berpuncak pada pengalamannya merasai kehadirat Ilahi di suatu malam yang senyap, di bawah bulan purnama dan bintang-bintang cemerlang. Ia merasakan itu. Sebuah wahyu, isyarat yang begitu kental, untuk menciptakan lukisan tersebut. Kemudian ia akan menjelaskan detil-detil lukisan yang berupa kumpulan titik-titik berwarna-warni itu dengan sangat meyakinkan. Bahwa  setiap titik yang tergores menggambarkan perjalanan spiritual para nabi dan orang suci terdahulu. Sambil duduk bersila dan mata tak berkedip dia akan menunjuk ke sebuah titik pada lukisan itu, dan orang-orang akan segera mengikutinya. Memandang titik yang sama. Penuh konsentrasi. Dan berseru,”Oh, Kekasih Allah samudra kasih. Al Masih yang dirahmati. Oh …….….” Kemudian menangis tersedu. Orang-orang terharu. Hanyut. Menagis Meraung. Menjerit.

          Di lain hari, ia menunjuk suatu titik yang lain lagi,”Oh! Inilah pohon Bodhi itu! Pohon kebijakan yang menyaksikan pernikahan Sidharta dengan semesta”. Pandangannya menyiratkan ketakjuban yang begitu dalam, menyeret orang-orang dalam sebuah tarian. Massal.

           Semua orang terpana. Hanyut. Larut. Ada yang menangis tersedu-sedu. Menjerit. Meraung-raung. Bergerak menari-nari. Berputar, melingkar. Meratap menyebut-nyebut nama Tuhan. Tersenyum bahagia, bersujud memuji Tuhan, bernyanyi. Semua terpikat. Semua. Bersama. Ya. Bersama-sama. Bersatu lagi. Saling sapa, saling bagi. Alangkah indah. Hipnotis? Entahlah. Siapa peduli. Jangan ganggu kebahagiaan ini!

Dan semangat itu telah membawa perubahan hidup kota kami, menjadi lebih bergairah. Membuatku penasaran untuk mencoba lagi. Lagi. Dan lagi. Nihil. Tapi tak ada yang tahu. Kalau ini adalah sebuah kegagalan aku telah berhasil  menyembunyikannya.

Berbohong demi kebaikan adalah baik adanya. Apalagi demi kebersamaan dan kebangkitam kembali kehidupan kota kami.  “Dulu ada seorang suci tinggal di kampung orang gila. Oleh orang-orang kampung justru ia yang dianggap gila, karena berbeda. Setelah orang suci itu menjadi benar-benar gila, orang-orang kampung mengatakan ‘Ia telah sembuh” begitu Japar, temanku,  selalu menghibur. Ia juga belum pernah berhasil melihat bayangan aneh di lukisan orang asing itu.

“Apa maksudmu? Bahwa kita gila?”

“Bahwa kita adalah orang suci. Walaupun gila” He-he.

“Tapi itu melanggar kebenaran”

“Kebenaran adalah kenyataan yang sedang terjadi. Bahwa hidup menjadi lebih berarti”

“Bahwa kita bersatu lagi?”

“Bahwa tak ada benci lagi”

“Dan bisa makan banyak lagi?”

“ Ya. Makan. Makaaaa…nnnn”

***

          Orang asing itu telah menjadi bagian hidup kota kami. Kami semua senang bersamanya. Damai. Hidup. Dengan lukisannya, dengan cerita-ceritanya. Setiap hari  kami menemuinya di alun-alun itu, sebelum hari menapak senja, saat kami pulang ke rumah kami dan orang asing itu, kami tak tahu dimana ia berada setiap malam. Biarlah dia tinggal dimanapun dia suka, selama dia masih membuat kita suka.

          Suatu hari kami dikejutkan oleh hilangnya orang asing itu. Dia belum juga muncul padahal matahari sudah lewat di atas kepala. Hingga sore, belum tampak juga. Kami kelimpungan, beramai-ramai mencari ke segenap penjuru kota. Di tempat-tempat ibadah. Di masjid-masjid. Di gereja. Di kelenteng. Kosong. Di gedung-gedung. Di warung-warung. Di gang-gang. Di rumah-rumah penduduk. Nihil. Kemanakah ia pergi? Pulang ke rumahnya kah?  Tapi di mana rumahnya? Kami merasa sedih. Dan sangat kehilangan, tapi tak bisa  berbuat apa-apa.

“Kita tidak boleh menjadi lemah lagi karena kepergiannya. Setiap pertemuan toh selalu berpasang dengan perpisahan”  Pak Walikota berpidato, mengucapkan belasungkawa.

***

           Suatu  sore. Rasa kehilangan itu belum juga lepas. Kami berkumpul di tepi alun-alun itu.  Ketika kemudian datang serombongan orang mengenakan seragam hijau keluar dari sebuah mobil dan mendekati kami. Seorang yang berkumis lebat menghampiri kami, menunjukkan sebuah foto. Astaga, foto si orang asing! Di pojok bawah tertera identitasnya: Bakar, usia 60, No.pasien 735 . Glk!. Sebutir rambutan tertelan. Kulirik Japar . Terkejut. Kami berpandangan. Bingung. Tak mengerti. Mana mungkin? Bagaimana ini? Tak boleh begini. Akhirnya kami dapat meyakinkan mereka  bahwa orang yang mereka cari tidak pernah singgah di kota kami. Tidak pernah, sekejap-pun. Puji Tuhan, mereka percaya dan segera pergi. Fotonya tertinggal di tanganku, kumasukkan saku. Syukurin!

“Mau apa mereka?” Penjaga pasar tiba-tiba muncul.

“Ah, hanya orang-orang tersesat” kami menjawab bersamaan. Sebuah jawaban yang tepat. Sangat. Kuremas foto di saku celanaku. Lumat. Lebih baik tidak ada  yang tahu. Juga rombongan petugas rumah sakit itu, lebih baik tak pernah ada. Biarlah kami bergairah dengan kenangan yang tertanam di kepala kami. Biar, walau aku harus bergulat sendirian melawan ketakmengertian ini. Biar. Demi kota kami. Demi kebersamaan. Demi keindahan ini. Siapa yang tega? ”Setiap orang bisa menjadi nabi. Dengan caranya sendiri-sendiri”, demikian alam bersabda. Kami tinggal mengamini.

(Magelang-Bogor, 2002-2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s