Kata si Bapak dari perusahan benih….

Hanya sebuah obrolan singkat, mengenai kita bekerja untuk siapa.

Bulan lalu, saat makan pagi di Kafetaria IRRI, saya duduk semeja dengan beberapa teman Indonesia. Mereka adalah  3 orang dari Balai Karantina Departemen Pertanian dan satu orang bapak dari sebuah perusahaan perbenihan (saya tak menyebut namanya). Mereka akan berada di Los Banos ini selama 2 minggu untuk melakukan uji sampel padi.

Perbincangan dimulai:

“Yah….kita-kita ini kesini untuk memikirkan bagaimana memberi makan orang Indonesia….” Bapak dari perusahaan memulai perbincangan.

“Untuk memastikan rakyat Indonesia bisa makan dan tidak kelaparan….” lanjutnya.

….Wah mulia banget pekerjaan si Bapak ini… Sekilas terbersit pertanyaan dalam pikiran: Pasti bapak ini seorang sukarelawan dan perusahan tempat kerja si Bapak ini akan mengimport beras dan akan dibagi-bagikan secara gratis kepada rakyat Indonesia. Hmm…Departemen Sosial pasti kalah deh!

Tapi suwer, itu hanya pertanyaan/pikiran nyeleneh sekejap aja…..

 

Lalu, saya lupa bagaimana kalimatnya, tapi Si Bapak dengan berapi-api memberikan komentar-komentar ‘cerdas’nya. Tentang demplot pertanaman padi di IRRI dan tentang beberapa peneliti breeder/pemulia padi di Indonesia.

Menurutnya (kurang lebih) begini:

Padi hibrida di IRRI menggunakan tetua yang kurang bagus, katanya,”Kalo pake tetua seperti itu mah gak akan bisa menghasilkan sampe….(berapa ton/hektare ); coba pake tetua….(dia menyebutkan beberapa nama varietas unggul) nanti kan hasilnya bisa tinggi….”.

Ada pikiran nyeleneh lagi: Wah Bapak ini hebat ya….coba kalo IRRI belajar ato meng-hire si Bapak ini…hehehe.

Lalu tentang dana penelitian yang mungkin sangat besar tapi tidak bisa memproduksi padi dalam jumlah yang besar. Kata si Bapak: IRRI ini kan dana penelitiannya sangat besar, tapi lihat, mana hasilnya? Berapa ton yang bisa dia hasilkan? Dia tidak bisa memproduksi beras untuk kebutuhan rakyat sini (Philipine) sendiri….

Pikiran nakalku: Hm…kalo mengikut pola pikir si Bapak ini bahwa seharusnya IRRI bisa memproduksi padi dalam jumlah besar….wow, mustinya kalo dana penelitian yang ada itu gak usah dipake buat penelitian; tapi dipake buat nanam padi ato beli beras langsung pasti lebih dari cukup. Misalnya dana satu project kecil saja dananya berapa M; kalo buat beli beras itu dah banyak banget kan….? Weleh-weleh….

Kalo dana penelitian dipake buat beli beras kan enak…Orang2 gak usah kerja, gak usah susah2 penelitian. Kalo dananya dipake langsung buat beli beras pasti masih banyak bersisa, …. Nanti IRRI bukan menjadi lembaga penelitian lagi, tapi jadi lembaga perdagangan padi, hihihi….

Kira-kira si pemberi dana gimana ya komentarnya?

 

Ah si Bapak mungkin lupa, bahwa varietas-varietas yang bagus dan berdaya hasil tinggi itu adalah juga merupakan produk dari hasil penelitian….

Mungkin si Bapak lupa bahwa sebuah lembaga penelitian dimandati untuk mencari solusi dengan  menciptakan terobosan-terobosan baru, dengan kemanfaatan yang sustainable. Dan bukannya untuk menyalurkan sembako ato BLT.

….*…^…*

 

Lalu si Bapak mengeluh mengenai kondisi di Indonesia, dimana pemerintah tidak bisa mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Balai-balai penelitian tidak mampu mencukupi kebutuhan benih padi dan pemerintah ….

Hm…jujur, aku juga sedih mengenai hal ini.

Tapi pikiranku saat itu lagi nakal. Pikiranku bilang gini: Pak, bukannya hal ini menguntungkan bagi perusahaan Bapak? Kalo pemerintah dan masyarakat kita sudah bisa mencukupi kebutuhan padinya, lalu perusahaan Bapak mau ngapain? (Wah maaf Pak…maaf pisan…..)

 

Ada lagi komentar si Bapak ini mengenai salah seorang pemulia padi, Pak Satoto dari Balitpa, Sukamandi.

Dengar apa komentar si Bapak ini: “….Pak Satoto itu, punya banyak penelitian dan banyak galur unggulan, tapi gak mau kerjasama ke perusahaan….padahal kalo mau kerjasama ke kita kan bisa dapat berapa tuh, lumayan besar….(Aduh!)…..Sebenarnya penelitian kan ujung-ujungnya juga cari duit….”

Aih, gubrag deh! Hla tadi baru bilang bahwa dia ke sini (Pilipine) adalah dalam rangka mikirin rakyat Indonesia (buat bisa jualan ke Rakyat Indonesia dan dapet untung), nha sekarang malah pinginnya peneliti kerjasama dengan perusahaan demi uang; gimana to si Bapak ini?

Padahal sikap beliau Pak Satoto itu adalah sikap yang sangat mulia:

Beliau seorang peneliti yang abdi negara, bukannya seorang pedagang penjual harta bangsa.

Beliau tidak menjual hasil karyanya ke perusahaan. Beliau menyerahkan hasil karyanya kepada negara demi kemanfaatannya bagi seluruh rakyat Indonesia. Beliau bekerja bukan demi kepentingan pribadi, tapi demi rakyat…(Salam hormat buat Pak Satoto)

Kepada Bapak dari perusahaan…..Bapak yang begitu bersusah payah memikirkan rakyat Indonesia, yang rela melakukan perjalanan dan jauh dari keluarga demi bangsa Indonesia, siapakah rakyat Indonesia yang anda maksud? 

Sepertinya makna Indonesia dari cara pandang perusahaan dan cara pandang peneliti itu sangat berbeda. Ah namanya juga dunia: Ono rupo-rupo menungso….

Mari kita belajar bersama tentang arti Indonesia! 

Tuhan, semoga kau mampukan kami menjadi bagian dari yang bisa memberi manfaat bagi (bukannya mengambil manfaat dari) negara tercinta kami, Indonesia.

 Salam damai Indonesia.

Suatu pagi disekitar bulan bulan Februari ato Maret 2011, beberapa bulan yang lalu.

Los Banos, 31 Oct 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s