Menjelang Ajal

Waktu itu semakin Mendekat.

Sesuatu yang mestinya sudah ku posting, tapi bisa diposting kapanpun selagi masih …..b e r n a f a s

Waktu itu semakin mendekat. Kurasai begitu. Dan aku bahagia. Dan kemudian bahagia. Ajalku.

Entah sejak kapan saya selalu memprediksi waktu ajalku. Saat masih kuliah di Jogja dulu saya sempat berkali-kali memprediksi waktu ajalku. Saya tidak ingat pasti waktu-waktu yang menjadi prediksi itu. Misalnya akhir desember 1997, tahun 2002, saat usia saya sekian, sebelum ayah-ibuku wafat, dan tahun 2007.
Entah mengapa saya suka menebak-nebak ajalku sendiri. Apa aku depresi? Atau tak punya harapan? Bukankah biasanya orang yang depresi bosan menjalani hidup dan berharap segera lepas dari permasalahan hidup ini? Orang-orang yang sedang ditimpa masalah dan beban berat yang tak tertanggungkan bisa saja berkeluh: lebih baik mati……Demikiankah saya? Saya pikir bukan itu, walau saya sendiri tidak begitu yakin apa alasan dan latar belakang kesukaanku menebak ajal pada saat itu.
Tapi beda untuk saat ini. Saya merasai waktu ajalku yang semakin dekat. Bukan karena sedih, bukan karena beban tak tertanggungkan, tapi karena sebuah rasa: rasa bahagia.

Saat yang kian mendekat
Sekian waktu yang lalu kutuliskan sebaris kalimat: Aku ingin mati saat bahagia. Mati dengan bahagia. Dan mati dan bahagia.
Saya tahu ada alasan sendiri (yang di rahasiakan ole Tuhan) tentang waktu untuk dihentikan waktu seseorang dari kampung dunia ini dan dipanggil-Nya di kampung akhirat. Setiap saat orang mati dalam berbagai keadaan dan kondisi. Sebagaimana alasan kematian untuk manusia, Tuhan juga punya alasan yang diberikan kepada seseorang mengapa ia dititahkan hidup di muka bumi ini: sebuah tugas suci dlam berbagai bentuknya. Tuhan bisa memanggil hamba-Nya ketika tunai sudah tugasnya, atau karena alasan lain yang kita manusia gak tahu: semua ada dalam rencana-Nya.
Ah, tentang itu semua kita semua pasti tahu. Setidaknya kita tak putus-putus menyatakan diri sebagai ’manusia beriman’.

Sebuah kematian yang bahagia.
Adakah itu sebuah kemewahan? Tapi siapa yang tidak menginginkannya? Seberapapun kurangnya kualitas keimanan diri saya, saya menginginkan kematian yang bahagia. Akan sangat mudah melihat dangkalnya keagamaan saya, apalagi kalau diukur dengan berbagai parameter keimanan yang lazim digunakan, lihat saja berbagai deretan pengakuan ini:
1. Saya bukan orang yang rajin puasa sunah. Hanya puasa Ramadhan yang setia kujalani.
2. Saya bukan orang yang rajin membaca kitab suci Al-Qur’an. Seumur hidup mungkin baru sekali khatam al-Quran. Kalau sholat pun saya cenderung membaca surat-surat yang sudah terjadwal. Shalat subuh dan Isya membaca ayat kursi pada rakaat pertama dan tiga surat pendek pada rakaat kedua. Dhuhur membaca dua surat pendek: Al Ikhlas/Alam Nasyrah/ Ad-Dhuha dan An-Nass. Ashar membaca Al Asr dan An- Nass, Maghrib membaca At Tiin/ Al Kautsar dan Al-Falaq/An-Nass. Saya jarang menjalankan shalat sunat. Kalau shalat sunat saya lebih sering hanya membaca al-Fatihah tanpa surat tambahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s