Mengenang Bapakku (Jacob Darmo Suwito)

Tiba-tiba merasa kangen bapak dan ibuku.

 

Bapakku….yang fleksibel

Yang rela kupanggil dengan berbagai panggilan, membuatku merasa seakan aku anak kesayangannya. Kupanggil Romo, beliau berkenan, kupanggil Babe dia oke, kupanggil Daddy dia ready. Dan aku lebih sering memanggilnya Mo….bukan karena namanya Jacob Darmo Suwito, tapi sebagai singkatan dari Romo…

 

Bapakku yang petani,

Yang konon setiap tiba waktu tanam padi dia akan melakukan ritual penanaman bibit pertama dan berdo’a: Gusti semoga apa yang kutanam akan menjadi rizki untuk menyekolahkan anak-anakku hingga sarjana.

 

Bapakku yang memberikan kami tempat tinggal yang begitu nyaman.

Ketika saat kecil kami mengeluh dan protes mengapa kita tinggal di pelosok kampong yang terpencil dan jauh dari kota,  Romo akan menjawab dengan bijak,”Beruntunglah kita semua tinggal di tempat ini. Kita punya langit yang lebih tinggi, paling tinggi ! Coba lihat di ujung sana…..langitnya lebih rendah, bahkan hampir menyentuh bumi. Bayangkan kalau kalian tinggal disana, mungkin kepala kita sundul (menyentuh) langit….”Kata Romo orang-orang yang tinggal di ujung-ujung dunia itu tubuhnya pendek-pendek nggak bisa tinggi…..karena kepalanya membentur langit.

 Oh begitu…..untung kami tinggal di rumah kami, sehingga kami bisa tinggi.

Makasih Babe! 

 

 

 

Romoku yang pinter…

Bagiku ayahku adalah orang yang pinter. Bukan karena orang2 datang untuk menanyakan hari2 baik untuk berhajat, bukan karena orang datang belajar primbon, dan bukan karena kitab arab gundul dan keris yang disimpan dan tak pernah dirawat itu….tapi karena ilmu pengetahuannya.

Walaupun hanya tamat SR (atau smp ya…?) tapi dimataku dia seorang ilmuwan hebat. Dialah yang pertama kali menyatakan bahwa bumi itu bulat. Bukan Galileo. Ayahku bilang lebih dulu.

Ayahku menceritakan bahwa bumi itu bulat sejak saya masih anak-anak, belum masuk SD. Sementara Galileo menyatakan teorinya setelah saya SMP.

 Saya curiga, jangan-jangan Galileo berguru sama Ayahku,

 

 

Ayahku yang penyayang binatang…

Ayahku juga penyayang binatang….bukan karena dia peternak ayam dan ikan lho!.

Hari itu kami tebarkan benih ikan sawah. Pulang dari sawah hujan turun deras. Dalam dinginnya hujan kita berdiskusi. Aku merasa sedih membayangkan bahwa ikan-ikan baru kami akan kegitu kedinginan…

Romo merasa sedih bersalah telah membiarkan ikan-ikan itu terendam air; kan bisa busuk……Dan kami larut dalam kesedihan hari itu.

Romo yang gemar ikan juga tiba2 tak mau makan ikan ketika ikan kesayangan kami jatuh sakit. Ikan itu rencananya akan dihadiahkan kepada keponakan saat wisuda nanti, tapi belum selesai kuliah si-Ikan keburu sakit.

Tidak diketahui pasti sakit apa. Kayaknya sakit mulas2. Bukan stroke, karena kami lihat ia masih bisa gerak. Ia hanya lemah (bukan lemah syahwat). Dan kita sepakat melakukan pembedahan terhadapnya.

Dan benar; di dalamnya kita temukan ikan yang lain. Oh, jadi ternyata ikan ini memakan temannya. Oh bukan temannya, tapi mungkin anak, cucu, atau keponakan temannya, soalnya masih cukup kecil. Hmmm ikan kanibal. Tau mungkin ikan kecil inilah yang nekat berlindung dalam perut si Ikan kesayangan.

 

 

Ayahku yang …

Suatu sore saya protes dan minta dibelikan tape recorder. Saat itu kita hanya punya radio, dan aku tak mungkin meminta TV dan internet karena internet belum ada dan TV masih jauh dari jangkauan kami.

+: Be, beli tip dong….tetangga dah pada punya…

– : YAh sudah sore….toko2 dah pada tutup!

Ugh!

 

Ayahku juga pandai statistik …..

Suatu saat peternakan ayam kakak mengalami banyak kematian. Pada sekitar hari keempat saja sudah hampir 200-an yang mati. Ada diskusi antara pegawai kandang dengan ayahku:

+: Kung (Mbah Kakung, panggilan untuk ayahku), untung kita tebar 2000 ya, jadi walaupun banyak yg mati masih banyak sisanya…..

Kung : Iya. Jadi bersyukurlah masih ada yang tersisa…. Coba bayangkan kalau nebarnya hanya duapuluh dan mati lima puluh……kan harus nombok…..

Ia tak peduli bahwa sebenarnya sebuah peluang hanya terjadi dalam lingkup ruang contoh. Ah, tapi mungkin juga justru pemikiran Romo yang tidak terbatas pada dimensi ruang.  

 

Ayahku juga seorang peneliti; suka berexperimen…

Pasca tahun 2000 self healing dan back to nature menjadi trend baru.Mulai dari pengobatan herbal, dan ramuan tanaman local seperti buah noni (mengkudu), apple vinegar, etc. Romo Babe yang kreatif pun tak mau ketinggalan. Meskipun telah sangat sering keluar-masuk Rumah Sakit, ia masih selalu mencoba bereksperimen. Cuka apel ia coba. Mengkudu ia ramu. Dan lidah buaya pun ia siapkan. Romo berharap, sesuai teorinya, bahwa lidah buaya itu bisa menghilangkan lender di tenggorokan dan membuat pernafasan menjadi lebih lega. Sayangnya ia kurang teliti mengenai jenis2/varian lidah buaya yang bagaimana yang berkhaasiat obat yang sesuai untuknya. Sehingga ia mngambil sembarang lidah buaya. Yang ia ambil saat itu adalah lidah buaya yang ada di pot tanaman hias rumah kami. Entah bagaimana meramunya, tapi tidak berapa lama kemudian romo sudah berada di Rumah Sakit. Tidak diketahui apakah lidah buaya itu bisa membersihkan lendir di tenggorokan…tapi yang jelas telah menimbulkan gatal dan nyeri di lambung. Oh ternyata Romo menjadi korban eksperimnnya sendiri. Senjata makan tuan?  

Ayahku adalah pasien yang mandiri…

Romo tidak suka menu masakan rumah sakit: tahu – tempe- daging tanpa rasa- sayur bening….. Yang beliau suka adalah tongseng dan rica-rica kepala kambing Joyo Samino. Tak peduli di mana dia, bahkan saat dirawat di rumah sakit. Dari pada makan makanan dari rumah sakit dia lebih memilih keluar jalan-jalan dan mencari menu yang lebih enak diluar rumah sakit. Tabung infus ditentengya sambil makan diluar.

 

Ayahku punya banyak teori…

Suatu hari Puji pulang membawa buah kesemek. Konon sebelum masak buah itu harus disimpan dalam beras supaya cepat matang. Dan Te Put pun melakukannya. Tapi ternyata buah itu masih saja sepet dan mengkal. Ayah menyarankan untuk menyiram dan merendam dalam air leri (cucian beras) Tapi bagaimana hasilnya? Ternyata buah itu masih tetap setia dengan rasa aslinya; sepet!

Lalu apa komentar Kung?“…..Lha wong memang buah itu makanan monyet, yang doyan juga cuma monyet …..!”Oh…..lalu ngapain Kung nyaranin orang ngerendam air leri segala….huh! 

 

Ayahku yang seorang pangamat Politik.

Ayah tidak pernah peduli dengan nilai ku (saat SMP dan SMA) juga terhadap IP ku (saat aku mahasiswa). Dia tidak pernah menanyakan tentang nilai-nilai itu. Dia lebih suka aku cerita tentang demo mahasiswa dan berbagai isu politik terkini. Dia suka pergi naik ojek ke pasar hanya untuk beli koran. Dia rajin dengerin BBC. Dan di setiap perbincangan dengan orang2 hampir selalu ada menu politiknya.

 Sebagai pengamat politik amatiran, semestinya Romo sudah bisa menulis buku. Romo telah membuat penomoran wajah orang sedunia. Katanya wajah orang Indonesia masuk dalam urutan nomor tiga dari lima kelas. Sampai sekarang saya masih belum bisa mencerna parameter apa yang dipakainya. Tapi kalo tentang adanya dua presiden pada satu Negara, saya sudah bisa mengerti. Then, Negara manakah yang mempunyai dua presiden? Tanya Romo suatu hari. Hihihi….mana ada? Ada!Presidennya adalah Slobo dan Milosevic! Oalah……  

 

Ayahku adalah petani yang….kurang sukses

Ayah tahu betapa formalin itu sangat ampuh membasmi serangga hama. Maka ia menggunakannya untuk menyemprot bagian-bagian pojok luar rumah kami. Ibu tidak mngetahui hal itu. Tapi pohon cabe di ‘longkang’ [taman dalam rumah] tiba-tiba terlihat layu dan daunnya mongering.

Ibu : Apa aku salah ngasih pupuknya ya….kemarin2 pohon cabe itu tampak subur dan gemuk….tapi koq sekarang tiba-tiba layu….Ayah sebenarnya mendengar keluhan ibu itu, tapi pura-pura gak tahu….tapi di lain hari Ia bilang pada saya, bahwa ia telah menyemprot tanaman cabe itu …dengan formalin. Pantes aja langsung gosong dan mengering gitu….Oh formalin…formalin, ia memang sangat ampuh…tidak hanya membasmi serangga tapi juga tanamannya sekaligus! 

Ayahku sangat mengerti aku…

Bukan hanya Ibu yang penuh kasih. Romo babe pun penuh kasih. Buktinya ketika saya menanam anggur dia bikinkan pagarnya, ketika saya bertanam jamur dia buatkan rak-raknya, ketika kami ingin menghiasi rumah dengan bougainville ia pasang palangnya.

Saat SMP ada satu nilai merah di rapor ia tidak marah, justru menghiburku (padahal aku juga tidak merasa sedih) katanya ada temenku yang nilai merahnya dua…. (malah iri deh….)

Suatu hari saya harus membawa bunglon untuk bahan praktikum di kampus. Saya pulang kampung dan minta ke Romo, dan ia pun membuat sayembara ke seantero RT “Barang siapa yang bisa mendapatkan bunglon atau cleret gombel…akan dibeli seharga seribu perak!”. Dan sore hari itupun kudapatkan seekor bunglon untuk kerja praktikum ke kampus. Dan saya bisa ikut praktikum dengan sukses. Thank you Dad!

Tapi ternyata ada yang kurang pada sayembara yang diselenggarakan oleh Romo Babe, yaitu batas waktunya. Dan karena tidak ada batas waktunya maka pada keesokan harinya Lek Naryo menyerahkan seekor Bunglon untuk ditukar dengan uang seribu rupiah. Wah padahal kan butuhnya dah kemarin! Kasihan lek Naryo. Tapi kemudian Romo Babe menyarankan agar bunglon itu digiring ke Muntilan….. kalo sudah agak deket sama Jogja siapa tahu bisa laku! Maafin kami yo lek…… 

Ayahku kadang salah baca…

Maklum sudah tua. Bahkan saat aku lahir pun dia sudah tua. Tak ingat setua apa, tapi seingatku sejak aku mengenalnya saya sudah memanggilnya bapak….lha emang dia bapak saya. Karena ketuaannya kadang dia salah baca. Seperti ibuku juga. Ketika belum ada stasiun TV swasta, semua yang ditayangkan oleh TVRI pasti akan ditonton oleh jutaan orang dari sgenap pelosok negeri Indonesia. Tak heran kalo orang selalu mengikuti program acara yang ditayangkan. TVRI jaman dulu hanya tayang mulai jam 5 sore. Awal tayang dimulai dengan display logo TVRI (kami membacanya ‘TURI’). Beberapa menit sebelum on air orang baru muncul logo itu, dan orang mengatakan “…wah TV-nya masih TURI….” Baru setelah lagu Indonesia raya seorang penyiar akan membacakan “tinjauan acara” hari itu, dan dilayar muncul tulisan program acara tersebut.

Suatu hari Ayah membaca sebuah tulisan. Mungkin dari sebuah buku atau sebuah majalah. Tulisannya pendek saja, tapi membuat ayah cukup pusing…. Judul tulisan itu  adalah “Di bawah garis katul istimewa…”. Ayah bingung apa maksudnya; katul istimewa itu apa? (di negeriku, katul adalah sejenis dedak atau kulit ari dari padi yang lembut dan banyak mngandung vitamin B). Apa istimewanya katul?  Dan setelah dibaca berulang ternyata tulisan itu berbunyi;”Di bawah garis katulistiwa…”

Oh….

Ayahku sangat mendukung hobiku

Ayahku selalu menyetujui dan mendukung setaiap hal yang ingin kulakukan. Juga dalam hal bertanam di pekarangan rumah kami.  Memiliki pekarangan yang cukup luas membuat kami selalu berfikir bagaimana cara memanfaatkannya. Tidak pduli sudah begitu banyak tanaman yang ada, kami selalu ingin menanam dan menanam lagi, menambah lagi dengan tanaman baru. Beragam tanaman tumbuh di halaman depan, samping dan kebun belakang rumah. Tanaman yang sudah tua (dan belum pernah berbuah) disusul tanaman2 baru (yang kemudian terbukti tidak berbuah juga). Pohon-pohon susul menyusul ditanam, hidup meliar, merana, kemudian nestapa. Dari pohon cengkeh, duku, rambutan, dondong (almarhum), jambu almarhum, kelapa almarhum, sirsat almarhum, mangga almarhum, alpukat, durian, anggur almarhum, mahkota dewa, pisang, papaya, nangka, dan berbagai macam jenis bunga bercampur dengan pohon2, rumput dan tanaman liar. Dari sekian tanaman yang ada mungkin hanya alpukat yang pernah berbuah dan bisa dinikmati hasilnya. Pohon cengkeh yang berderet di halaman depan berdaun lebat tetapi buahnya melarat. Pohon rambutan menjadi arena main panjat bagi anak-anak tetangga. Pohon alpukat disamping rumah pada musim-musim tertentu berbuah alpukat, tetapi lebih sering berbuah labu. Dan pohon durian, rambutan, dan jambu di tepi kolam belakang rumah berbuah koro…..!!! wah sungguh ajaib tanaman2 kami ini. 

Sebegitu banyak tanaman dan kami masih selalu berfikir untuk menanam dan menanam lagi. Kakak-kakak sering datang membawakan benih2 buah2an, benih tanaman obat, dan lain-lain. Walopun tanaman-tanaman itu sangat jarang berbuah, kami terus saja giat menanam. Dan ayah selalu mendukung.  Tahun 90-an saya dan puji membeli bibit tanaman durian ke Purworejo. Konon itu durian genjah yang bisa berbuah dalam usia lima tahun. Kami pulang dengan bahagia membayangkan bahwa paling lama lima tahun lagi kami bisa panen durian sendiri sehingga tidak harus  patungan membeli durian dan memakannya sambil rebutan. Pohon durian kami tanam di kebun belakang rumah. Dengan banyak pupuk kami selalu berharap durian itu akan segera berbuah. Pohon durian pun tumbuh membesar, tapi tahun demi tahun kami tunggu tak pernah ada tanda-tanda pembungaan. Walo begitu kami tetap bersabar. Dan setiap kali ada para cucu, Mbah Kung selalu berpesan: “Awas…jangan main-main di dekat kolam…nanti kejatuhan durian…!!!

Ayahku yang…..begitu banyak kenangan bersamanya. Tak kan cukup waktu menuliskannya. Makasih Mo, Be, Dad, Kung, Ayahku tercinta.

Kasihmu terasa hingga kini. Buat Ibu, jangan cemburu ya, aku nulis tentang ayah dulu. Lain kali aku nulis tentang hebatnya Ibu….)

(Diedit kembali untuk mengenangnya, semoga nyaman damai dan bahagia bersama Ibu di sana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s