Peak 2 Mt Makiling

Ugh, it’s really a great journey.

Climbing the slope of Mt Makiling.

Very steep slope with a very slippery wall.

Just hang on the root of trees. Even a thorny trees.

With leeches crawling in your face.

Wouw…..!!!!

 

Sabtu, Februari 28. Merayakan hari terakhir di Februari. Kita berenam berangkat ke Peak 2, summit of Makiling mountain.

Kita hanya berenam. Sebuah tim yang kecil untuk sebuah pendakian (mustinya 7 lah biar gak terlalu sedikit gitu….). Anggota tim terdiri dari 3 perempuan tangguh dan tiga pria (kayaknya bukan pejantan tangguh, mungkin adalah pria2 kesepian…._mengutip lagu2nya SO7). Tiga superwoman itu adalah saya (Indonesia asli), Nobuko (Japan), Dee (Philipinnes) dan Reza (Iran), Hannes (Jerman) dan Zhang (China). Hm…kurasa cukup komplit lah. Ok kita berangkat…..

JAm 7.45 kita mendaftar di gate Makiling, sayang belum buka. Jadi saya tinggalkan saja nomor Hp ku dan nama/identitas kami berenam. Perjalanan diawali dari sebuah jalan sedikit mendaki. Di sepanjang jalan kanan-kiri adalah deretan pohon2 besar yang tak henti menggugurkan daun-daunnya yang menguning kemerahan, menutupi permukaan jalanan. Rasanya seperti musim gugur saja, padahal ini  musim semi juga baru dimulai. Hmm asyik. Persilangan ke Flatrock kita lewati sudah. Dan jalanan mulai semakin mendaki.

08.45 am. SAtu jam kita sudah sampai di Station dekat Mudspring. Ada beberapa tempat menjual makanan dan minuman. Kita lewati saja; kan kita sudah punya bekal sendiri. Di tepi jalan ada piknik area, sebuah taman indah tapi tak terurus. Lebih jauh adalah persimpangan menjuju Mudspring: Gak, kita akan ke puncak…

Jalanan berikutnya tidak terlalu mendaki. Jalanan berlumpur. Oh kemudian mulai mendaki lagi. Kita menemukan guguran bunga indah berwarna biru. Ini adalh jenis bunga yang sudah langka dan hampir punah. Saya memungut beberapa.

Around 09.30 am. Kita sampai di Agila Base. Persinggahan terakhir yang masih memungkinkan di tempuh dengan kendaraan. Dari base camp ini kita mulai pendakian kita melewati jalanan setapak yang tentu saja sempit. Penuh dengan semak dan banyak terhalang oleh pokok2 batang pohon yang tumbang.

Hm…kita poto2 dulu deh sebelum bergerilya…

agila-base..

Jalan setapak ini begitu mengasyikkan. Tapi kita harus waspada dengan banyak lintah di sekitar kita. Memang kita tidak melihatnya secara langsung (karena kita tidak memperhatikan dengan seksama. Kan tujuan kita adalah mendaki, bukan mo ngamatin lintah, hehe… Beberapa teman mulai mendapati lintah menempel di celana. Hm…untung saya pake celana agak ketat, kaus kaki panjang, tshirt lengan panjang dan jilbab. Jadi kurasa akulah yang akan paling terbebas dari gangguan lintah2 ini. Hingga pada suatu ketika aku merasakan ada yang aneh di leher bagian belakangku. Kuraba, terasa ada sebuah benda gilig bulat panjang. Aku langsung histeris. Woa……gghhhh!!!! Dan temans langsung membantuku menemukan gerangan si lintah kurang ajar, akan tetapi tidak menemukannya. SAya yakin itu lintah, tapi mereka tidak menemukannya. Sedangkan aku sendiri tidak mau lagi meraba tengkukku. Hiiih! Kita berhenti beberapa waktu, sampai akhirnya ketahuanlah si lintah gadungan itu ternyata adalah sebuah tali pengikat pada tutup kepalaku. Hehehe…..! Yuk kita lanjut jalan lagi……!

Around 10.00 am. Kita sampai di Jump of point. sebuah dataran lumayan luas, dengan dua buah batu besar. Dari sini kita bisa melihat pemandangan Laguna Lake dan kota Los Banos. Juga IRRI.

irri n LB fokused from jump of Point Mt Makiling

Dari Jump of Point kita bergerak menuju the real climbing. Kita memasuki kawasan Wildener zone; Zona liar. Wow!

Ah terusin besok ah….to be continued tomorow…..

Hi…I’m back….

OK, setelah melewati dua bongkah batu besar itu kita memasuki zona liar. Ini tepatnya dimulai pada station 17.  Hmmm…seliar apa sih zona ini?

Yang jelas pada zona ini kita tidak lagi hiking, tapi climbing. Kita tidak berjalan melintasi jalan setapak lagi, melainkan memanjat dinding/lereng gunung yang dipenuhi semak belukar.

Pertama kita dihadapkan pada dinding setinggi bahu. OK, kita bisa atasi. Kita kan gak pendek-pendek amat, jadi bisalah kita panjat.

Kemudian lereng yang begitu terjal. Kulihat ke atas. Mampukah aku melewatinya? Dindingnya begitu licin. Karena walopun hari cerah tapi kondisi lereng sini sangat lembab. Oleh tebalnya kanopi hutan dan semak belukar. Kondisi lembab ini menyebabkan dinding senantiasa basah dan licin. Hmm…terpeleset sedikit saya akan kembali meluncur ke bawah. Untunglah ada beberapa akar pepohonan yang dengan baik hati menjulurkan dirinya. Kita berpegangan pada akar-akar dan belukar, sambil kaki-kaki kita mencari tempat pijakan yang pas.

Sesedikit mungkin menapak, sehingga tidak memperlicin dinding. Beruntung aku ada di urutan kedua setelah Hannes, sehingga dinding ini belum banyak tersentuh dan belum terlalu licin. Sedapat mungkin kepijakkan kaki ke tepi menggapai batang semak.

Ups awas hati-hati terhadap apa yang kau jadikan pegangan. Semak-semak berduri ada di sepanjang tepian kita. Untunglah saya membawa sarung tangan, jadi sedikit banyak mengurangi resiko tangan hancur menjadi sarang duri. Sarung tangan ini tadinya saya maksudkan untuk mengambil/mencabut lintah-lintah yang menempel. Nobuko juga memakai gloves, malah punya dia dari kain tebel. Jadi selamatlah tangannya dari luka-luka.

Selain dinding terjal bin licin, kita juga dihadapkan pada semak belukar. Melewati sekumpulan pohon duri (mirip seperti pohon salak), kita harus merunduk sedemikian rendahnya (kita lebih suka merayap dengan dua tangan) untuk menghindari sapuan duri-duri tajam itu.

Semak herba belukar juga begitu rimbun. Saya yang ada di depan mencoba mematahkan batang-batang yang terlalu mengganggu supaya teman yang di belakang bisa lebih nyaman dan bisa mengikuti jejak kami. Hal ini karena kadang semak begitu rimbun sehingga sulit melihat teman yang ada di depan atau di belakang kita. Biasanya kalau beberapa teman belum kelihatan kita akan berteriak memanggil. “Hii….where R U? R U OK? Kalau ada balasan kita akan maju ke depan, akan tetapi kalau belum ada balasan kita akan menunggu dulu.

Di barisan belakang ada Tianyi yang dibantu Reza. Setaip saat kita bisa mendengar jeritan Tianyi yang berkali-kali jatuh, atau tergores duri atau tersangkut duri atau apalah. Yang jelas dialah yang paling banyak mengalami jatuh, terpeleset dan luka. Didekatnya kita akan sering mendengar jeritan; “Ouw….!”, ” Wouw….”, ” Argghhhhh!” atau “Oh My God” . Saya jadi geli, soalnya dia itu kan atheis, gak percaya pada adanya Tuhan, tapi reflek spontannya pake ‘OMG’. Zhhiii…

Pada saat ini tidak ada yang sempat mengambil foto-fotoan. Kita semua sibuk dengan diri kita sendiri. Lintah-lintah sudah tidak begitu menakutkan lagi. Saya dengan santai mencabuti setiap kulihat ada lintah berjingkat di celana. Bahkan saat kutemukan lintah telah dengan santai menggerayangi wajahkupun saya tidak begitu histeris (sempet nahan nafas tapi gak menjerit gitu deh….). Aku tahu gaya lintah itu: dia berlagak mengelus pipiku dan mencoba menciumku, tapi apa yang dia ingin sebenarnya adalah untuk menghisap darahku. No way! Gue gak akan terpesona oleh rayuanmu. enyah lo!

Selain lintah kita juga sering menemukan sebangsa kaki seribu. Ada yang jenis gilig melingkar maupun yang pipih lincah. Tapi kalau ular saya cuma melihat sekali.

Ugh, dah malem….diterusin besok lagi ah….to be continued tomorow (again)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s