Tentang Cinta

Bicara cinta di bulan cinta.

1. Topik yang tak pernah aus…?

1. Cinta itu…..

Powerfull…always up to date

 

Topik yang selalu seru, selalu asyik dan tak pernah aus; itu adalah cinta.

Semua orang bicara tentang cinta, menulis tentang cinta, berpidato, bernyanyi, bersyair….tentang cinta.

 

Orang bahagia karena cinta, sakit karena cinta,

Segenap rasa bisa tercurah karena cinta,

Segenap rasa itu tercampur-aduk tak berbentuk…

…….bisa karena cinta,

…….bisa menjelma cinta,

…….bisa oleh dan untuk …cinta;

……..bisa jadi…itulah cinta!

 

Cinta menjelma:

Cinta menjelma senyum,

cinta menjelma tawa,

cinta menjelma tangis.

Cinta menjelma canda tawa,

cinta menjelma duka lara. 

 

Cinta menoreh luka tapi juga mengibatinya.

Itulah katanya….The power of Luv!

 

Ih koq jadi melow gini seh….udah ah!

 

Saat kecil, saya membaca sebuah tulisan pada sebuah hiasan dekoratif dari kertas krep dan kertas manila (yang saya yakin tidak dibeli di Manila). Tulisan itu berbunyi: …tiada keindahan selain cinta….

Lupa tahun berapa (jadul deh…) di LIP belakang Betesda kita melihat pekan pertunjukan teater Garasi bertajuk “empat penggal kisah cinta….).

Dalam booklet selebaran dan tiketnya ada sebuah tulisan yang sebagian berbunyi kurang lebih gini:

 …betapapun sakit dan perihnya; cinta adalah sesuatu yang terindah yang pernah kita miliki….

 

Lembaran tulisan itu saya simpan selalu sampe beberapa tahun(sekarang gak tahu dimana, mungkin dah saya buang) dan saya masih selalu teringat kalimat itu.

 

Pernah membaca (kalau tidak salah dari Muhammad Ghazali) yang berbunyi kurang lebih:

“…Kualitas kemanusiaan seseorang bukan ditentukan oleh tingkat keilmuannya akan tetapi pada kemampuannya mencintai orang lain…. “

 

Ugh, keren banget..

Cinta itu…..mmm

 

Begitu powerfull nya cinta itu, dan beragam definisi dituangkan.

Dalam sebuah bincang-bincang tentang cinta kira-kira dua bulan yang lalu, saya mendapati sebuah ungkapan baru yang cukup cantik.

 

Konon dalam kamus China cinta digambarkan sebagai setangkup mangkuk; yang dimaknai bahwa alasan penciptaan manusia adalah untuk memberi dan menerima cinta. Sebagaimana Ikan dicipta untuk berenang, dan burung dicipta untuk terbang, begitulah.

Ugh, keren juga.

Aku berniat search ke internet tapi belum sempet2.

 

SAya gak pernah tertarik membaca tulisan yang mendefenisikan cinta secara skematis, memilah-milahnya dan kemudian memaknai setiap bagian secara terpisah-pisah.

Saya gak pernah ingin dan tertarik membaca tulisan Freud Si Psikoanalis legendaris itu.

Pasti bikin mumet deh.

 

Saya lebih menikmati membiarkan berbagai makna itu menyapaku di sepanjang perjalanan hidupku.

 

Saat membaca kalimat “…tiada keindahan selain cinta…”, saya yang saat itu masih SD awal berontak.

Ugh, masak sih?

Bagiku kemeriahan hari lebaran dengan baju baru dan banyak jalan-jalan bereng temen adalah sebuah puncak keindahan yang sangat ditunggu2 setiap tahun.

Maklum saat itu aku masih SD, dan SD saat itu belum sedewasa SD sekarang.

 

Saat SMP. Sebagai anak kampung (dari lereng Merapi) yang terpaksa harus nge-kost karena jarak yang (saat itu) cukup jauh.

Datang ke kota, menemukan begitu banyak wajah-wajah yang cantik. Hm… Seperti remaja lain; kenal dunia baru, teman baru, bacaan baru, dan perasaan baru.

Ikutan deg-degan kalo ngelihat sosok idola (padahal sang sosok idola gak bakalan ngeh deh sama kita).

Sepertinya cinta ya kumpulan chemistri yang timbul saat kita berdekatan dengan seseorang yang mempesona.

Entah secara fisik atau sekedar imaginasi.

Bayangkan saja, hampir semua temen sekelasku saat SMP itu naksir sama Ryan Hidayat (yang saat itu main jadi tokoh Lupus) dan Onky Alexander (Mas Boy…).

Juga sama John Stamos dan Michael J Fox yang saat itu main dalam serial “Dreams”.

Selain itu juga ngefan berat sama Ikang Fawzi, Gilang Ramadhan, Eki Soekarno (Ih kok tiga2nya milih kelg Haque sih…?).

Dan masih masih banyak lagi.

Belum lagi sama sosok-sosok manis yang selalu hadir di sekolah dan kita temui tiap hari.

Ada kakak kelas yang cool,  anak kelas lain yang caem, adik kelas yang manis…….

Wuih….pokoke …kalo diinget-inget rasanya kok jadi  pingin nyanyi:

……malu aku malu sama semut merah….

yang berbaring (eh berbaris) di dinding menatapku curiga.

Seakan penuh tanya sedang apa di sana….

……….mencari pacar jawabku!

 

Biasanya cinta ini bersifat spontan, tanpa upaya.

Tiba-tiba saja kita menemukan diri sudah ‘jatuh cinta’.

Kita gak ngapa-ngapa, hanya melihat pesona sang idola, eh, tiba-tiba…….. jatuh deh….gedubrag!

 

 

Masa SMA tidak jauh berbeda.

Cuma ada perkembangan.

Pada masa ini kadang kita lebih realistis.

Tidak lagi terjatuh pada idola yang nun jauh di sana akan tetapi pada sosok-sosok yang lebih dekat dan lebih terjangkau.

Tapi gak mau yang diskon lho, apalagi yang diobral…!

Mendengar lagu cinta jadul dari Fariz RM ( yang saat itu keren banget..) juga memberikan makna tersendiri: simak deh ‘….adakah cinta kau rasakan dapat memberikan segalanya, kasih sayang keindahan…bukankah cinta tlah cukup untuk cinta…”

(Ah kalo dari lagu mah gak akan cukup waktu kita mengungkapkannya).

Saat di akhir semester ada teman meminjami buku berjudul ‘..Cinta dan yang lainnya…(kalau gak salah). Tapi saya masih ingat penulisnya Teo (Leo?) F Bucaglia.

Saya tak pernah tahu isinya. Ketika baca sejak halaman pertama sudah kesulitan mengikuti dan jadi eneg, jadi ngapain bingung…?

Karena cinta mustinya gak bikin bingung….

 

 

Pernah ketemu sebuah buku/buletin tipis berjudul “Cinta tanpa syarat (Unconditional love).

Lupa pengarangnya, sepertinya hanya sebuah topik dari sebuah buletin. Bahwa cinta hendaklah bukan karena ingin mendapatkan; akan tetapi untuk memberi. Seperti cinta seorang ibu kepada anaknya.

Hmmmm cool juga sih. Selain itu gue dah lupa.

 

 

Konsep cinta yang lain kutemukan dari Erich Fromn.

Sebelumnya saya sudah cukup terpesona olehnya melalui “Escape from Freedom’ yang hanya kubaca sekilas resensinya, dan tak pernah kubaca isinya. 

Maka ketika bertemu bukunya tentang cinta, saya langsung tertarik membelinya.

(Hm…sebenarnya ini sebagian dari penyakitku: suka membeli buku tapi males membaca….hiks!).

Walaupun cover bukunya tampak nDang-Dut banget berupa rangkaian untaian bunga membentuk rangka hati (saya lupa ada panah asmaranya gak), akan tetapi isinya asyik.

Saya  cuma baca beberapa lembar tetapi cukup terinspirasi.

O, ya judulnya adalah The Art of Loving

Dari Erich saya dapatkan konsep ‘standing love’ dan bukannya ‘falling love’.

Bahwa mencinta mestinya adalah sebuah action positif. Sebuah langkah nyata ‘melakukan mencinta’ dan bukan sekedar terkena cinta atau ‘dikenai cinta’.

Saya pikir ini asyik banget. Saya langsung setuju.

SAya sudah agak lupa-lupa ingat dan tidak membaca keseluruhan.

Mmmm coba deh saya coba lagi meraba apa kira-kira yang diungkap, sebatas ingatan saya (kalo ternyata gak sesuaipun gak apalah….ntar gue bikin teori sendiri aja).

Sepertinya dalam konsep ini cinta bukanlah semata bentuk keterpesonaan dan keterpenjaraan hati dan jiwa oleh sosok yang begitu mempesona. Sehingga kita tak berdaya untuk tidak mendamba,

Juga bukan bentuk keinginan untuk mendapatkan: mendapatkan kasih sayang, perhatian dan kasih sayang.

Tapi cinta lebih sebagai bentuk berbagi keindahan. Seseorang menjadi indah ketika ia (mampu) mencinta, dan dengan berbagi ia akan menumbuhkan keindahan pada sosok yang dicinta.

Dan saya pikir semua orang musti setuju donk….(maksa amat dot com).

 

Walo ternyata gak semua setuju.

 

Gue sempet gak habis pikir ketika terjebak dalam perdebatan sengit dengan temenku tentang mana yang lebih mulia,; mencintai atau dicintai?.

Gue berkeras bahwa mencintai adalah jauh lebih mulia; karena kita memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi sesuatu yang kita cintai.

Dia temenku beranggapan bahwa dicintai lebih mulia; karena itu membuktikan bahwa kita memiliki sesuatu yang membuat cinta datang mengenai kita.

 

Setelah tak pikir-pikir lagi, itu hanyalah sebuah perdebatan konyol karena kita memaknainya secara berbeda, kita punya jelajah pengalaman yang berbeda, dan kita punya kondisi yang berbeda.

 

Saat Tuhan memerintahkan manusia untuk mencintai sesama tentulah cinta itu sesuatu tindak kegiatan yang sangat mulia, indah, dan penuh rahmat dan berkah.

Saya yakin Tuhan tidak memerintahkan kita untuk berlomba-lomba ngeceng dan berbuat sedemikian rupa untuk memenangkan hati dari seorang manusia dan kemudian memenjarakannya, memperkosanya dan memperbudaknya untuk mengagungkan kita.

Saya yakin tuhan memerintahkan kita mencinta karena dengannya akan memuliakan kita, menjadikan manusia sebagai insan yang indah dan berkualitas.

Manjadi insan yang …gimana ya?

Ah mungkin berbeda-beda pada setiap tataran manusia.

Bagi seorang anak, bagi seorang remaja, bagi seorang ibu, bagi seorang perwira, dll tentu berbeda-beda pula tingkatannya.

Ah, aku gak mau bicara tentang beragam-ragam cinta: cinta eros, cinta asmara, cinta tanah air, cinta keluarga, cinta faham, cinta ini, cinta itu, dll.

Kupikir tetap ada sesuatu yang sangat universal dari segala bentuk macam cinta itu. Sebuah inti yang memancar ke sekitar, memberi rasa dan warna pada semua. Jadi biarlah dia seperti adanya;tak usah kubagi-bagi, kupilah-pilah, ntar malah remuk!

Ah, jadi ingat; ini sesuai dengan konsep yang terakhir kali aku temukan.

Konsep terakhir ini aku temukan dari seorang perempuan cantik berdarah gipsi. Saat pertama melihatnya saya sudah tertarik. Bukan karena penampilannya yang hampir setengah telanjang, tetapi mungkin karena memang dia punya daya pikat yang cukup menggugah.  Dan orang mengenalnya sebagai seorang penyihir. Perempuan yang aslinya bernama Serin itu lebih dikenal sebagai Athena.

Hm apa sih konsepnya mengenai cinta?

Ternyata cinta itu…..ya cinta!

Itu saja. Gak usahlah sulit-sulit menerjemahkannya. Atau lebih tepatnya;  biarlah orang menerjemahkannya sesuai dengan pemikirannya. Manusia itu tumbuh, pikiran tumbuh, dan dunia ber-evolusi. Kita tidak akan pernah cukup waktu untuk memaksakan (istilah halusnya mah menyamakan) persepsi.

Biarlah orang menerjemahkannnya sesuai dengan pengalamannya. Pemaknaan setiap orang akan segala sesuatu akan senantiasa bertumbuh seiring dengan perjalanan hidup, pencarian dan kematangan berfikirnya.

Kalo ABG merasai cinta sebagai letupan rasa dari kekaguman terhadap seseorang ya biar sajalah. Setidaknya dia bisa merasai dan menikmati keindahan makhluk ciptaan Tuhan.

Kalo muda-mudi memaknainya sebagai debaran emosi rindu-dendam, ya biar sajalah, toh mungkin dengan demikian akan membawanya pada pengenalan diri yang lebih dalam.

Kalo seseorang memaknainya sebagai bentuk pengorbanan dan perjuangan ya beri selamatlah. Karena itu akan membawanya pada sebuah kohormatan dan kemuliaan.

Kalau saya memaknainya sebagai bentuk rasa unknown ya biarkan saja lah, toh saya rasa cinta adalah sebuah misteri yang tak harus dilucuti. Cukup dirasai, dimengerti dan di-asyik-i; tapi untuk itupun kadang sulit….

 

Kita gak bisa memaksakan persepsi kita pada orang lain.  Setiap orang punya tingkat dan tahap perjalanan yang berbeda. Apabila kita berada pada suatu tingkat pemahaman tertentu, kita tidak seyogyanya memaksakan pemahaman kita pada orang yang (kita anggap) memiliki tahap perjalanan yang lebih rendah atau lebih pendek dari kita. Seyogyanya kita turut mendorongnya; untuk terus berjalan menapaki warna-warni dunia ini. Karena sebenarnya saat kita menyapanya dan mengulurkan cinta kasih padanya; saat itu adalah juga bagian perjalanan kita.

Yang lebih tinggi; terbukti dari kehadirannya yang menjadi berkah!

Yang lebih mulia; terbukti dari sinarnya yang indah!

 

Sudah ah, kok malah jadi melenceng kayak gini….beginilah kalo nulis sepenggal-sepenggal dan gak kontinu; ah biarlah namanya juga gado-gado!

 Yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu (dan mau) mencinta.

“Are you in love?”

Tanya temenku dalam bincang cinta beberapa bulan yang lalu.

“Yes! Always, every moment”

Begitu jawabku. Walo sulit tuk membuktikannya.

Los Banos dalam sinaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s