Awan hari ini

Hanya bukit, langit dan awan.

Tapi setiap hari selalu berbeda; membuatku tak pernah berhenti terpesona.

Tapi tidak hari ini

Salah satu yang kusukai dari IRRI adalah bentangan sawah luasnya. Setiap hari saya berjalan dari dorm menuju lab atau kantor, selalu asyik memandagi perbukitan yang berlekuk-lekuk dan langit yang merendah pada ujung dunia sana.

Bentangan luas persawahan itu juga menunjukkan betapa bulatnya bumiku ini.

Dan ini sedikit banyak mengingatkanku pada Ayahku.

Ayahku tercinta yang disamping seorang petani dia adalah seorang ilmuwan antariksa. Dialah yang pertama kali menemukan bahwa bumi itu bulat. Sejak saya belum masuk sekolah ayahku sudah mengajarkan padaku (dan kepada para tetangga yang sering berkunjung ke rumahku) bahwa bumi itu bulat.

Dan baru ketika saya SMP lah saya membaca bahwa Galileo juga punya teori yang sama dengan ayahku; bahwa bumi itu bulat….

DAn pada saat malam hari posisi kita terbalik (saat kecil saya bela-belain keluar malam hari untuk melihat bagaimana pohon-pohon terbalik; akarnya diatas dan pucuknya dibawah….tapi tidak berhasil).

Walo begitu sejak kecil saya menyukai awan.

Gumpalan-gumpalan kapas putih bergerumbul dengan background biru terang yang diam. Ada buah anggur. Ada berpiring-piring nasi. Ada bunga-bunga. Dan masih banyak lagi.

Dan disini saya bisa menjumpainya setiap hari. Sepertinya Tuhan sungguh sedang memanjakanku. Itu membuat saya selalu bersyukur.

Tapi tidak hari ini.

Berjalan menyusuri trotoar siang ini.  Berpayung menghindar panas. Aku temukan hari ini begitu cerah. Sebenarnya sudah dua hari ini. Kemarin dan hari ini, entah esok.

Hanya saja aku tidak begitu menyadarinya. Sebuah masalah yang tiba-tiba muncul menyelimutiku dan menutup pandanganku akan kecantikan yang tersaji dua hari ini.

Senampan anggur di langit itu tiba-tiba menjelma menjadi sesosok monster dengan mata membelalak dan mulut menyeringai buas. Kemudian mulut itu pelan-pelan menipis sirna; dan tiba-tiba menjelma seekor naga dengan mulut siap menerkam. Ekornya panjang menjuntai mengawang di atas pucuk-pucuk punggung perbukitan yang tampak bungkam.

Di depan sang naga; sepiring besar nasi menjelma buaya. Kepalanya sedikit terangkat; matanya bulat dan mulutnya besar menganga. Tubuhnya tak sepanjang Sang Naga; akan tetapi lebih padat dan besar. Tampaknya siap menghadapi tantangan Sang Naga.

Dua monster raksasa berhadapan. Saya tidak suka itu.

Saya lebih suka kuntum-kuntum anggur yang tergantung tanpa pengikat. Atau strowberry dalam pinggan-pinggan kecil. Atau senampan besar nasi. Atau ber-rol2 kue arum manis. Atau sekedar bongkahan kapas membentuk selembar karpet untuk saya bisa tiduran dan berkendara keliling dunia.

Ugh, kemana gerangan benda-benda khayalan itu?

Kucoba menemukannya diantara dua kepala monster yang perlahan memudar. 

Kepala sang Naga telah menghilang, dan anggota tubuh seputar leher menjelma tangan.

Sementara Sang Buaya masih tetap tegar menatap dan menyeringai ganas.

Sesosok manusia tanpa kepala; dengan dua tangannya terangkat, seolah berkata:  ” OK, gue kalah. Kau ambil kepalaku; pikiran dan imaginasiku. I give up…..”

Tiba-tiba jadi berfikir: Siapakah manusia tanpa kepala itu?

Gue kah????

“Oh……………… no…..!!!!

Saya gak mau lihat awan lagi hari ini. Jadi saya putuskan untuk pulang agak malam saja. Sekalian nunggu PCR selesai. Jam 8 nanti saat pulang semoga saya tidak akan menjumpai Sang Naga, Sang Buaya, ataupun si Manusia tanpa kepala.

*Tuhan, berikan keindahan dalam Hati, Rasa, dan Pikirku; please….”

Los Banos, Januari 30; 6 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s