Pluralisme di hati saya…..

Mengapa di hati?

Karena saya tidak sedang ingin berpendapat.

Saya hanya sedang ingin mengungkap rasa……..

Pluralisme di hati (bukan pikiran) saya….

Tulisan ini merupakan sekuel dari tulisan saya sebelumnya yang bertajuk ‘Ramon Magsaysay dan Pluralisme Pak Syafii’.

Saya mencoba berungkap tentang pluralisme.

Menurut saya (menurut hati nurani saya) dan bukan menurut daya olah pikir saya.

 

Mengapa dalam hati?

Saya sebut demikian karena saya tidak mempunyai referensi yang cukup dan tidak cukup capable untuk melakukan pengkajian yang memaksa saya memeras otak dan pikiran.

 

== Dan lagi saya tidak suka memeras otak, tidak kebayang kalo otak saya peras-peras nanti bisa kekeringan jadi krispi dan kepala jadi kayak kripik usus dong….gak kebayang deh!==

 

Jadi daripada memeras otak saya milih memeras wortel untuk dibuat juice ato memeras kelapa untuk bikin gule kambing.

Mmmm ….slurpt!

 

 

Kembali ke pluralisme.

 

Alasan lain mengapa saya lebih memilih judul menggunakan hati adalah karena menurut saya ketika Rasul bersabda bahwa;

‘dalam diri manusia ada sepenggal daging, yang kalo ia baik maka akan baiklah seluruh dirinya, dan apabila ia buruk maka akan buruklah seluruh dirinya — dan sepenggal daging itu adalah hati’

(bukan otak)

 

Saya memaknainya begini:

Otak

 

Otak memproduksi pikiran dan pemahaman

Bahwa apa yang sering di sebut sebagai kebenaran seringkali adalah buah dari olah pikiran kita.

Yang bisa kita dapatkan, bisa kita latih, bisa kita pelajari.

 

Seseorang yang setiap saat mendapatkan suguhan bacaan dan informasi tertentu, lambat laun akan meyakininya sebagai sebuah kebenaran satu-satunya.

Dan memang betul kita dianjurkan untuk mendaya gunakan akal pikiran kita.

Untuk hidup.

Otak dan pikiran sangat di pengaruhi oleh asumsi awal kita, oleh sejarah, kondisi dan kepentingan kita.

Jadi sangat mungkin berpihak. Dan juga berkembang.

Pencarian oleh otak kita tidak akan pernah berhenti. Dan tidak boleh berhenti, selama kita masih hidup.

 

Penggunaan akal pikiran dan otak secara maksimal selalu dianjurkan; dalam kerangka memahami realitas yang maha tak terbatas.

 

 Dan…..

 

Hati;

 

Samudera berbagai rasa.

Mungkin tidak mempunyai kapasitas menganalisis sebagaimana otak.

Hati hanya menerima dan mempersepsi.

Merasai damai akan keindahan dan gundah oleh kegelapan. Merasai hangat oleh keramahan dan beku oleh ketakpedulian.

 

Segenap rasa itu, menurut saya adalah sebuah sentuhan kasih dan  kerja Tuhan.

Untuk kita bisa mempersepsi.

 

Mungkin kita bisa sedikit mengelola hati kita, akan tetapi lebih banyak adalah hati kita yang mempengaruhi kita, menuntun kita.

 

Berbeda dengan otak yang bisa kita upayakan pengaturannya, hati cenderung bicara dengan bahasanya sendiri.

 

Kita bisa menyepakati atau menolak sebuah paham berdasarkan akal pemikiran kita. Akan tetapi yang kemudian membawa kita melangkah adalah hati kita.

 

Kalau otak bisa memproduksi ilmu, teori, informasi, dan keyakinan, hati bisa memproduksi kebaikan dan cinta.

 

Kalau otak bisa memperdaya kita, hati selalu tulus.

 

Dan hati tak pernah salah.

Sebagaimana juga cinta (yang adalah produk hati; juga tak pernah salah,

=== Jadi inget penggalan salah satu lagunya Sammy Kerispatih; …karena ku yakin cinta ini tak kan pernah salah…….halah kok malah belok ke cinta mulu she!)===

 

Nah, dengan hati inilah, saya mencoba memaknai apa itu pluralisme.

 

Yuk……

buka mata...bebaskan dirimu....dan akan kau dapati betapa indah dunia yang penuh warna...(diambil dari National Geographic Channel)

buka mata...bebaskan dirimu....dan akan kau dapati betapa indah dunia yang penuh warna...(diambil dari National Geographic Channel)

Pluralisme bagiku adalah….

 

Sebuah kesadaran dan kemauan untuk mengerti, menerima dan berjalan dalam harmoni dan kebersamaan.

 

Dengan hati dan pikiran pikiran yang terbuka, mau membaca lingkungan dan segala yang terpapar di jagat semesta.

 

Sebuah kesadaran bahwa yang namanya realitas adalah sesuatu yang sangat maha besar, maha komplek dan unlimited.

 

Bahwa diri kita adalah sangat kecilnya untuk bisa merasa telah selesai menapaki dan memahami realita.

 

Pluralisme adalah kesadaran bahwa Tuhan mempunyai beribu bahkan berjuta pintu dan bahasa untuk menyapa dan menginspirasi segenap makhluk ciptaan-Nya.

 

Pluralisme adalah kemauan mengerti sudut pandang orang lain dan memahami pendapat orang lain.

 

Dan mampu menempatkan diri duduk bersama orang lain; karena hanya dalam kesetaraan kita bisa saling terbuka dan saling belajar dengan nyaman.

 

Menempatkan diri sebagai bagian dari si-buta, seperti  ketika sekelompok orang buta merabai seekor sapi’ dan seorang yang memegang kaki berkata:

“Hey Sapi itu bulat seperti tabung”

Dan seorang yang memegang ekor berkata; “Bukan, sapi itu panjang sepeti tali”

Dan seorang yang memegang perut mengatakan; “Sapi itu besar dan bulat seperti drum!”,

Dan yang lain yang memegang daun telinga mengatakan sapi itu lebar,

…..

Dia akan menempatkan diri sebagai bagian dari orang-orang buta itu, tetapi orang buta yang belajar, membaca, dan menerima pandangan orang lain.

Walaupun dia pernah merabai seluruh bagian tubuh sapi seperti yang dilakukan oleh teman-temannya itu, dia tetap tidak akan menyatakan diri menguasai anatomi sapi.  

Bahwa adalah mungkin ketika seseorang merabai bagian yang lain dan merasai hal lain yang berbeda.

Bahwa adalah mungkin ada sejengkal ruang yang belum dirasainya.

 

Kerendahan hatinya membuka pikiran dan hatinya untuk menerima dan menghargai pendapat orang lain.

 

Pengetahuannya membawanya pada kekaguman akan ketakterbatasan nikmat Tuhan yang disadari tak mungkin di jangkaunya.

 

Kesadarannya menghindarkannya dari mengklaim diri sebagai yang paling benar.

 

Dia akan menggali informasi dari rekan-rekan lainnya, dan dengan demikian hal itu akan semakin memperkaya dirinya, menambah referensinya akan sesuatu yang ingin diketahuinya.

 

Setiap hari datang dengan warna-warni baru, dan semua menambah kekaguman dan cintanya kepada Sang Khalik.

 

Pluralisme itu…

Ada kesadaran bahwa setiap insan adalah unik, setiap diri adalah spesifik,

Sebuah kesadaran yang lahir seiring pengenalan akan diri sendiri.

Diri sebagai makrokosmos ataupun sebagai mikrokosmos

 

Diri yang komplek sebagai struktur cantik dari basa-basa nukleotida yang berpilin dengan gugusan gula fosfat dalam sebuah rangkaian double helik dan terkemas dalam kromosom, yang tersebar dalam inti sel, dalam setiap jaringan dan organ penyusun tubuh,

Diri yang tersusun atas berbagai ubit fungsional, dengan berbagai pengalaman, pencarian dan pencapaian. Berwarna-warni oleh berbagai rasa dan pemikiran, oleh kreasi dan imajinasi, oleh pilihan, kepercayaan, dan keyakinan. Oleh segenap rasa duka, lara, dan bahagia. Benci, rindu, haru dan ragu. Cinta dan derita bahagia.

 

Dan sebagai diri seakan debu, buih atau sebutir pasir. Yang terdampar pada perjalanan panjang sejarah peradaban, terselip pada sebuah titik samar pada hamparan semesta jagad raya.

 

Pengenalannya akan diri sendiri dan lingkungannya semakin membuka matanya; betapa karya Tuhan sungguh unlimited.

Betapa tak pantasnya kita mengklaim diri sebagai orang yang tahu segalanya, atau yang lebih tahu, atau yang menggenggam kebenaran.

 

Kebenaran mutlak hanyalah milik Tuhan.

 

Manusia pluralis…..

 

Kesadaran akan keberadaannya, dalam ruang dan waktu yang dianugerahkan Allah bagi hambanya; dalam hamparan rahmat dan nikmat-Nya; membuatnya senantiasa bernyanyi dan menari

 

;Sungguh, tak ada alasan untuk tidak mensyukurinya!

 

!!!

 

Ah, betapa indahnya dunia kalau kita bisa saling menyayangi!

 

 

Pis,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s