mendadak nge-artis!

Gak kebayang deh, tampil di panggung (lagi). Bulan Oktober lalu sih…..Kemarin sempet di publish trus ditarik lagi. Sekarang di posting lagi….ah!

Hihihi, lucu!

Tapi asyik juga; bisa ngeceng …….. dan kembali narsis!

Mengingatkan pada masa muda dulu, saat masih mahasiswa S1 di Yogyakarta. Saat itu memang saya ikut sebuah komunitas seni (teater) dan beberapa kali kita menyuguhkan aksi panggung; entah itu teater, musikalisasi puisi, atau pembacaan cerpen.

Walaupun hanya sebuah pertunjukan yang demokratis; yang artinya; dari kita, oleh kita, dan untuk kita….. hahaha!

Tapi penampilan kali ini beda.

Saya ‘terpaksa’ harus tampil karena tidak ada orang lain. Saat ini sebuah organisasi di irri yang merupakan ikatan dari fellowship, scholar, trainee, researcher dan intern yang ada di IR RI akan menggelar malam budaya.

Telah menjadi kegiatan rutin bahwa organisasi mengadakan malam budaya setiap tahunnya. Pada malam budaya itu setiap negara yang punya perwakilan di sini diminta untuk bisa menyuguhkan pertunjukan seni/budaya khas negaranya masing-masing.

Dan saat ini saya adalah satu-satunya trainee dari Indonesia yang sedang berada di irri.

Uh, saya tidak ada ide mau menampilkan apa.

Sebenarnya bisa saja saya mengabsenkan diri, alias tidak menampilkan apapun.

Tapi dari pihak afstri ternyata telah menghubungi perhimpunan mahasiswa Indonesia di UPLB juga. Konon memang kita bisa meminta bantuan teman-teman dari luar irri untuk meramaikan acara ini. Dan secara personal saya juga menyampaikan permintaan bantuan itu ke teman-teman UPLB.

Dan alhamdulillah, mereka bersedia.

Horeee…..!

Jadi lepas sudah tugasku…..!!!!!!!

Eh tapi apa benar bisa lepas tangan begitu saja?

Uh, rasanya tidak enak banget kalau lepas tangan dan kemudian duduk berpangku tangan.  Masak tangan sudah dilepas kok kemudian di pangku; piye to….?

Ada banyak keperluan yang perlu dipersiapkan untuk itu.

Apalagi selain penampilan seni/budaya juga ada penampilan representator dari masing-masing negara, yang akan nampang sejenak di awal acara dan memberikan sapaan singkat kepada audien.

Untuk tugas representator tidak mungkin saya mengabsenkan diri atau mewakilkan ke teman-teman UPLB.  Bisa-bisa timbul komentar; “memangnya yang    a f stri   itu siapa?”.

Jadi ya aku cukup tahu dirilah.

Jadilah saya dan alhamdulillah ada teman UP yang bersedia menemani.

 

Dan di mulailah kesibukan kecil mempersiapkan malam itu.

Hwalah, emang sibuk ….?

Sesibuk apa seh?

    == Ah itu mah biar kelihatan ada persiapan aja. Tidak enak juga kalau kita diem-diem saja, gak ada prepare, trus datang-datang dengan baju lusuh n compang-camping, belepotan…..(wah-wah ini mah mendramatisir amat!).==

Jadi begitulah.

Saya merelakan diri mengurangi jam melamun saya, dan mulai menelusur baju-baju daerah yang kira-kira cukup asyik buat ngeceng. Glk!

Akhirnya saya memutuskan pakaian Sumatera saja.

Ah, pakaian minangkabau saja; tidak terlalu plain, dan cukup manis. Sepertinya cukup pas buat dipadu dengan jilbab.

Hm….satu udah diputusin.

Saya juga menelusur perelengkapan pakaian tari bali buat Bu Inez. Juga pakaian buat Ilham dan Irfan, putra-putra Mbak Septi yang akan tampil bersama teman-teman sekolahnya.

Dan baju-baju hasil search itupun ku print. Begitu juga baju tari bu Inez, yang sudah kukonsultasikan ke beliaunya, dan sudah disetujui. Siap di bawa ke keduber RI di Manila; di mana kita bisa pinjam baju-baju tersebut.

 

Dan senin, 22 Oktober kita meluncur ke Manila

Eng-ing-eng…………..

Tibalah di Kedubes RI. Tapi apa mau di kata; segenap baju-baju daerah beserta atributnya itu tersebar, tergeletak, bertumpuk tak beraturan.

Gubrag!

Baju dari berbagai daerah berkumpul jadi satu. Juga berbagai atributnya. Walaupun sudah memegang gambar baju di tangan, saya kesulitan memadukan dan memasangkan beju-baju itu. Beberapa atribut tidak saya temukan.

Gubrag-gubrag!

Kita mencari dan terus mencari….sambil menyanyikan lagu jaman dulunya GodBless entitled bus kota;

“…….ku cari-cari dan terus kumencari//namun semua bangku tlah terisi// dan terpaksa, akupun harus berdiri…..”

(Ih, garing dan nggak nyambung buanget!)

……

Dan setelah kelelahan menerpa, saya pun pasrah, mengambil seperangkat baju, yang semoga lengkap, dengan tanpa peduli apakah mereka matching atau tidak. Bahkan baju yang sekiranya harus saya pinjam buat Ilham-Irfan tidak saya temukan.

Lemes deh……

Saat malemnya sampe kembali di Los Banos, saya cek lagi baju2 pinjaman tersebut. Ternyata ada beberapa item yang telah kupilih tapi tidak terbawa. Arrggggh………………………….!

Dan…………….. dalam hati gue mulai menghibur diri; peduli amat, gak akan ada yang tahu!

 

Dan benar. 

Saat malam itu tiba; tidak ada yang tahu.

(gimana mereka tahu, orang gue aje bingung!)

Oktober 24; mulai jam 6.00 pm

Pertama, saya harus tampil sebagai representator, bersama teman-teman dari negara lain.

Saya pake baju adat Indonesia.

Apaan itu baju adat Indonesia?

Saya namakan baju adat Indonesia karena apa yang saya kenakan adalah hasil dari mengambil sekenanya.

Saya pakai kain dan baju kurung. Dan sebuah hiasan seperti perisai penutup dada, dari logam keemasan. Itu memang khas Sumatera.

Trus bagaimana hiasan kepalanya? hiasan kepala yang matching dengan perisai ini adalah sebuah hiasan semacam mahkota emas. Saya membawa tipe yang lain, tapi saya serahkan untuk dipake bu Inez karena mahkota Balinya terlalu berat dan kekecilan. 

Trus gimana dong? Ah ini ada selendang keemasan, tidak tahu khas daerah mana. Saya pakai buat ikat kepala aja deh!

Dan ini ada pernik emas jatuh (tampaknya dari mahkota tari oleg). Sudah saya pake buat anting saja ah!

Eh….ini masih ada satu lagi selempang kayak sabuk. Kayaknya khas Kalimantan deh. Aku pake saja, biar bisa nutupin baju yang kedodoran, sekalian bisa berperan jadi sabuk biar kainnya gak melorot. Hihihi…..

Hm….benar-benar amburadul dan gak matching.

Tapi siapa yang tahu? dan siapa yang peduli….?

Dan dengan sedikit bedak dan make-up pinjaman….bersama Aurelin,  kami melenggang menuju Auditorium.

” Oh… you look beautifull”

Itu komentar salah satu teman saya. Walaupun saya tahu itu komentar basa-basi, aku cukup happy juga.

Gak papa.

Toh menurutku semua makhluk Tuhan itu cantik.

Cuma kadang manusia tidak bisa menangkap kecantikan sekitarnya, karena ketidakmampuannya mengapresiasi.

Jadi temanku tadi punya cukup daya apresiasi. Hi….narsis!

Prinsipku;

kalo lo bisa melihat keindahan yang ada pada sesuatu, berarti lo punya sudut pandang yang positif,

tapi

kalo lo gak bisa lihat kecantikan pada sesuatu, bukannya tidak ada kecantikan padanya, akan tetapi pola pikir dan pola pandang lo yang salah!

 

Jadi begitulah.

Kami dipanggil satu-satu sebagai perwakilan dari setiap negara. Temenku dari awal sudah wanti-wanti; ‘ Saya nemenin aja, saya tidak usah omong apapun, karena saya masih pusing baru mulai ujian…..etc!’

Ya sudah. Akhirnya saya yang mengucap greeting sendirian.

Mungkin orang-orang nganggep; Ih nanrsis amat! Tapi biarlah…..

“Halo selamat malam, saya…..dan temen saya….kami perwakilan dari Indonesia, selamat menikmati suguhan kami….”

“Hi, Good evening….etc bla-bla-bla….”

Cuma gitu aja. Tidak ada satu menit.  Habis itu kita mundur, berdiri berjajar bareng temen2 lain.pa240003

Habis itu saya harus siap-siap ganti kostum untuk pertunjukan tari.

Hah Nari? 

N A R I ???

Lo mo nari…?!!!

Iya. Aneh ya?

Mm…..

Yah, sedianya cuma temen-temen UP saja yang nari. Mereka sudah apal gerakannya, karena sudah beberapa kali tampil. Tapi beberapa teman ada yang masih ujian, sedang banyak tugas, dan berbagai kesibukan lain.

Jadi terpaksa deh gue ikutan perform.

Padahal gue belum pernah nari gituan (apaan tuh nari gituan?).

Tapi biar sajalah, pokoknya ikutin saja gerak teman-teman. Sumpah, hingga saat tampil (dan setelah habis tampil pun) saya tidak hapal gerakannya. Saya hanya mengikuti gerakan teman sebelah.

Dan saat jam menunjuk 8.20; Now, the next performance is from…….

Dan tampilah kita….hihihi….. Total waktu cuma sekitar 5 minut.

dsc_3251

Hm lumayan sukses.

Setidaknya itu yang saya tangkap. Soalnya tariannya memang tarian tim, yang kalo ditarikan bersama-sama akan terasa indahnya. Dan applause penonton membuat hati lega…..

Hm, berarti kesalahan yang ada tidak terdeteksi; bener kan…..mereka tidak akan tahu, Hihihi!

Habis itu saya langsung ganti kostum, dan mengambil barisan belakang kursi penonton, sambil celingak-celinguk menonton para penonton. Glk! Hm….. tahu aja deh!

Jam 10 an, semua berakhir.

Pulang.

Saya masih menyisakan waktu bersama beberapa teman di coffeeshop, sebelum akhirnya pamit undur diri pada jam 11 an.

 

Selamat malam dunia, selamat jalan teman!

Zzzz…..zzz….

*Hidup adalah saat ini: bukan kemarin, dan bukan besok; nikmati kekinianmu!*

Jangan mikirin visa yang segera expired, ataupun teman yang meninggalkanmu.

Lepaskan saja!

Semua ada masanya.

Saat satu pintu tertutup, pasti ada pintu lain terbuka.

Sekarang biarkan matamu tertutup,

dan esok pagi saat terjaga,

kau temukan kembali cahya-Nya…..

 

Zzzz…zzz…

Pis….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s