Di ujung Ramadhan

Tatkala ramadhan nyaris berakhir. Kutemukan setitik cahaya itu. Stitik cahaya, bukan seberkas, bukan gemerlap apalagi benderang berkilauan. Yah, baru di akhir ramadhan. Setitik cahaya itu.

Walau setitik, aku sangat bersyukur karenanya. Saya tak bisa berharap terlalu banyak. Saya sadar sepenuhnya, mungkin saya tak berhak berharap terlalu banyak.

Saya sadar gemerlap cahya adalah hak mereka yang telah bersungguh-sungguh menyambutnya, dan telah mempersiapkan diri menyambutnya. Hak mereka yang telah begitu ikhlas membayar dengan diri dan segenap yang dimilikinya. Memfokuskan diri pada segenap upaya untuk mendapatkannya.

Yah setitik cahya, setetes embun itu adalah rasa damai oleh kasih. Rasa rindu untuk menjadi indah.

 Sebut lah berkah dan rahmat dari Allah. Atau berkah Ramadhan. Atau mukjizat Lail at Al Qadr. Sebuah anugerah yang menyirami jiwa, mambawa jiwa pada damai, kasih dan sukacita dalam ridla dan cinta-Nya.

Semua muslim mempersiapkan diri untuk mendapatkan cahya itu. Berserah, beribadah dan menempa diri untuk berdekat dengan Sang Pemberi Cahya.

Berbagai ritual ibadah dan penggemblengan emosi ditegakkan. Baik dalam kerangkan Hablum min Allah, Hamblum min An Nass, maupun hablum min environment. Beribadah, bersedekah, berbagi……Semua kecantikan dan kemuliaan akhlak ditarikan.

Tapi apa yang telah aku lakukan? Ikut ambil bagiankah? Ikut berdendangkah? atau setidaknya menikmati pesona itu kah?

Tidak, tidak sama sekali. Itu yang aku rasa, betapa pun berat aku mengungkapkannya. Yah, aku sadari I did nothing!

Justru aku malah asyik berakrobat ria, jungkir balik dengan emosi dan egoku. Antara melayang dalam euforia dunia baru dan tenggelam dalam depresinya. Semua terjadi tanpa musik dan ritme. Dan itu mengimbas pada rakaat-rakaat tarawih yang resah tanpa kekhusu’an. Menjalani lapar dahaganya puasa dengan jiwa letih.

+ Hey, Kau tak bisa mengkambing hitamkah keadaan. Hidup penuh dengan pilihan!

Iya saya tahu itu. Saya juga tak akan menyalahkan siapapun, bahkan tak ada gunanya menyalahkan diri sendiri dan berhenti pada meratapi ketakberartian.

Sungguh, saya hanya sedih (sedih sekali) mendapati sebuah sisi lain dari di saya ini, yang itu adalah sebuah sisi yang sangat tidak kusukai, sangat tidak kuingini, sangat aku benci.

 

Diteruskan besok ah…..dah sore gini…..

==============================================

Dan di akhir ramadhan aku hanya bisa bersimpuh menangis,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s