Maaf, tiada kenangan…..!

Hari ini gue dapet serentetan email dari temen lama. Menanyakan hal2 remeh temeh yang saya gak nafsu banget membahasnya. Ada rasa kesal, sebel dan bete. Mungkin ini karena kesalahanku di masa lalu…

Oke lah untuk menebusnya dan semoga bisa melepas beban itu lebih jelasnya, saya coba menggali kembali penggalan2 masa lalu yang hampir terlupakan itu.

Sungguh, aku tak berniat melupakannya, (sebagaimana juga aku tidak tertarik untuk mengenangnya), tapi memang karena bagiku itu hanyalah sebuah episode datar tak begitu bermakna, tak menimbulkan kenangan. Karena gak special itulah mungkin, begitu mudah terhapus oleh waktu……

Tapi kuterima itu sebagai kesalahan masa laluku.

Ya karena kesalahan masa laluku. Saya malas menuliskannya, tapi kurasa harus kutuliskan, biar lega rasa hati ini.

Saat itu kita sama2 anggota sebuah komunitas mahasiswa.  Sebuah komunitas yang aku enjoy di dalamnya. Mungkin karena kegiatan2nya yang cukup menyenangkan dan mengasyikkan.

Nah, ceritanya, salah seorang dari kami itu menyatakan rasa love nya. Sungguh, aku tidak pernah menngira sebelumnya. Aku tidak pernah merasai kedekatan ataupun ke’ingin-dekat’an sama dia.

Tapi dia orangnya baik dan selalu mempersepsikan diri sebagai orang baik. Dan entah mengapa (sungguh aku tidak tahu kenapa, kemudian aku coba analisa; mungkinkarena dia baik dan care itu) aku bilang OK, dan jadilah kita ‘temen deket’.

Sesaat setelah itu, hanya sesaat setelahnya, saya sudah merasa itu sebuah kesalahan. saya berbohong, terhadap dia dan diri sendiri. Tapi aku harus mempertanggungjawabkannya.

Sure!, walaupun dia baik, tapi rasanya aneh dan asing kalo harus menyebutnya ‘pacar’. Bahkan selama bersamanya aku tetap merasa aneh dan ‘asing’ dengan kebersamaan yang kujalin saat itu.

Dan sebagai orang yang baik dia pun memperlakukan saya dengan baik, layaknya seorang pacar. Saya lupa perasaanku saat itu selain rasa aneh, asing dan gusar. Tapi mungkin karena kebaikannyalah saya kemudian cukup menikmati menjadi temen dekatnya. 

Dikunjungi….trus  dibawain oleh2, diajak jalan2 , dan apalagi ya…..aku lupa, sorry!. Pokoknya rasanya saya dianggap penting deh bagi dia. Ya, mungkin karena dianggap penting itulah yang membuat saya cukup menikmatinya.

*** Secara psikologis manusia akan merasa nyaman dan bahagia apabila mendapat perhatian dari orang2 di sekitarnya. KArena ia menjadi ada, merasa exist.***

Tapi entah kenapa saya tak pernah berfikir akan bersamanya selamanya (baca: menikah dengannya). Mungkin karena tidak ada ‘chemistri’ . Ya, kurasa itulah jawabnya. Dan satu hal yang kuingat (karena kujaga bener) adalah bahwa aku belum pernah sekalipun mengatakan ‘cinta’ padanya. Sungguh!

Tapi dia memang orang baik. Dan setia. Saya tidak tahu apakah dia tahu bahwa selama kebersamaan kami saya justru merasa lebih asyik dengan temanku yang lain. Ugh, itu sangat tidak etis kan?

Temen dekat, aku merasa berdosa….tapi inilah kenyataan yang coba kuungkap dengan jujur….

Saya selalu berfikir, bahwa adalah mungkin kita hidup dalam kebersamaan dengan seseorang yang baik , tapi itu tak akan bertahan lama).

Dia akan menampung kita, menjadi backing kita, dan menjadi tempat kita bersandar…..

Dia akan menjadi orang ‘di belakang’ kita yang kita akan merasa aman dan terlindungi, kita bisa maju dan berprestasi……..

Tapi…..

Tapi dia tidak bisa menjadi orang di depan kita;

untuk kita bisa menari bahagia di depannya,

 untuk kita bisa marah padanya,

untuk kita tertawa dan menangis,

dan untuk kita bisa ….cemburu!.

*** Orang yang baik itu bisa mendorong kita menjadi apa yang kita inginkan….tapi hanya orang yang kita cintalah yang bisa memberi kita tantangan untuk berbuat, berubah dan berpetualang……menemukan kebahagiaan sejati kita!***

Yah, itulah yang kurasai saat itu. Bersama dengan orang baik yang tak mampu kucinta. Maafkan aku……

Dan ketika saya lulus, saya pikir itulah saatnya bagi saya untuk pergi. Tak pantas rasanya kalau aku harus terus-menerus menipunya (dan juga menipu diri sendiri) dengan kebersamaan kami. Dan juga saya punya impian dan hasrat yang ingin kuwujudkan, dan dia tidak termasuk di dalamnya.

Dan saya memutuskan untuk putus darinya. Dan putuslah kami. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Saya katakan lancar karena tak ada luka di hati. Tak ada sedih. Dan tak ada keinginan untuk kembali…..Ada rasa bersalah, tapi saya yakin dia cukup baik untuk mau memaafkan aku.

============

Setelah itu berlalu…….

Dan babak berikutnya saya memulai hidup baruku seperti manusia lain. Mencoba menapaki hidup, bersama manusia lain di bumi ini. Belajar, mengeja, membaca, tertatih2 berjalan dan berbuat semampunya. Bergelut dengan berbagai rasa; suka-duka-lara; tangis dan tawa. Juga mencinta.

Dan aku mencoba untuk berani menyatakan sikapku.

Berani menyatakan (tapi tidak cukup berani untuk mengatakan) suka ketika aku memang merasa suka, 

Berani menjalin dan menerima relationship dengan orang yang aku memang suka,

tapi juga …

Berani menolak tawaran cinta ketika saya tidak merasakan ada chemistri, betapapun dia baik sama saya.

Dan tahukah apa yang kurasakan? Ternyata bisa jujur dengan diri sendiri itu sungguh mengasyikkan…

Dan saya tak merasa malu untuk mengenang keberanianku menyapa seseorang  yang meninspirasiku menulis cerpen ‘perempuan moric’. Dan juga bahagiaku mengidolai seseorang yang yang mengispirasiku menulis ‘kepada matahari’.

Saya juga tidak pernah menyesali kebersamaanku bersama  ‘mantan’ orang terkasih, betapapun kemudian ku tahu itu harus kulupakan. Saya terkadang masih  terkenang Abang, betapapun jahatnya dia. Dan walau sambil mengutuk, saya masih mengenang saat berbagi tawa canda bersama Rio, betapapun kemudian kutahu tak pantasnya dia untuk diingat. Mereka adalah dua lelaki yang pernah menjadi orang terkasihku, beberapa waktu yang lalu. Bukan kini.

Aku juga berani mengatakan ‘tidak’ pada seseorang walaupun dia sangat mengerti aku, dan kami bisa sangat nyambung dan bicara sampai berjam-jam. Juga pada HD, betapapun kau sangat matang dan kebapakan.

Tapi mengenai kebersamaan dengan teman dekat di masa laluku itu….aku tak pernah terusik untuk mengenangnya. Mungkin karena  itu bukan episode yang special bagi saya. Atau karena itu bukan ‘episode’ku, di mana saya tidak menjalaninya dengan ketulusan dan kejujuran.

Kini kucoba mengungkap dengan kejujuran…..

YAh, Mengungkapkan kejujuran diri…..itulah yang kujalani sekarang. DAn semoga aku punya keberanian juga saat ini ……..(ini kutulis dalam episode lain saja deh…..)

Last; gue mau akhiri rasa sebel yang menggangguku hari ini  

Datangnya email hari ini mau tak mau menodai hari indahku. Email dari si mantan ‘temen dekat’ yang sudah samar terhapus waktu….

Beberapa hari lalu dia berusaha menjalin kontak denganku. (Aku tidak berminat jalin kontak dengannya, tapi aku merasa tetap harus menghargainya). Dia mengirimiku sebuah pesan, dan saya jawab secara sangat singkat dan seperlunya. Sebuah balasan yang saya pikir cukup lugas.  Tapi apa yang terjadi? Dia membombardirku dengan deretan  yang isinya remeh temeh macem2. Itulah yang membuatku sebel hari ini. Saya tidak tahu mengapa ada rasa sebel itu.

Saya heran, mengapa dia bersikap begitu?

Kalau kuanalisa sikapnya itu adalah sebuah perwujudan dari perasaan tidak diakuinya. Mungkin jawaban emailku yang singkat dibacanya sebagai bentuk ‘meremehkan’ atau sebangsanya. (padahal saya memang tak tahu harus menjawab apa…kupikir, mungkin ……).

…..  Dan secara psikologis manusia ingin dianggap penting, (seperti kutulis sebelumnya), maka ketika dia menemukan dirinya gak penting bagiku, yang dia lakukan adalah memaksakan eksistensinya di hadapanku. Kalau orang tidak bisa mendapat atensi dengan cara yang biasa dia akan menggunakan cara lainnya. Kalau seseorang tidak bisa membuat kita tertarik, maka dia akan cenderung membuat kita marah……

Dan kuakui, dia cukup berhasil. Tapi cuma sebentar, karena kemudian aku juga berhasil untuk tidak terpancing oleh aksinya, aku putuskan untuk tidak marah deh…..cuma sebel!

Dan sejauh kemampuan penguasaan diriku, aku ingin menyampaikan pesan pada ‘mantan temen dekatku’ itu, bahwa:

1. Aku tidak suka tindakannya membombardirku dengan email-email itu.

2. Saya tidak tertarik dengan mimpi-mimpinya (alangkah lebih baiknya kalau dia berbagai dengan istrinya, orang terdekatnya). Hargai dia, cintai dia.

3, Saya tidak suka membaca tulisan2 dengan kalimat2 yang kurang pantas diungkapkan oleh seorang kepala keluarga yang dikelilingi oleh anak dan istri yang setia mendukungnya.

4. Aku tidak tertarik untuk mengenang masa lalu. Aku tidak bekerja melupakannya, tak juga mengenangnya. Semua berlalu begitu saja…..

5. Maaf saya tidak punya cukup waktu, saya terlalu bersemangat dan berbahagia dengan kekinianku.

Begitu, semoga ini membuka kesadaran dan memberi kebaikan pada diri dan keluarganya.

 

(Oh my lovely blog; maafkan gue terpaksa pake space mu untuk ungkapkan sebel hatiku)

Minggu, Sept21, 08

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s