Ramon Magsaysay dan Pluralisme Pak Syafii

Beberapa waktu lalu saya mengikuti acara buka bersama di kedubes Indonesia di Manila. Dalam rangkaian acara itu juga ada sarasehan bersama Bapak H.A.Syafii Maarif, yang dalam kisaran waktu tersebut menerima penghargaan ‘Ramon Magsaysay’.

Penghargaan yang sering dianggap sebagai Asia’s Nobel Prize ini dibentuk sejak 1957 dibawah Rockefeller Brother Fund (RBF) yang berbasis di New York.

 

Ramon Magsaysay adalah nama presiden Filipina yang meninggal tahun 1957. Dan penghargaan ini diberikan untuk mengenang dan mengabadikan perjuangannya dan integritasnya dalam pemerintahan, pelayanan terhadap rakyat, dan idealismenya dalam kehidupan bermasyarakat yang demokratis.

Ada lima kategori penghargaan yaitu: Government Service, Public Service, Community Leadership, Journalism, Literature and Creative Communication Arts, Peace and International Understanding  dan Emergent Leadership. Dan Pak Syafii menerima penghargaan dalam kategori ‘Peace and International Understanding’

Dalam acara sarasehan itu Pak Syafi’I hanya sedikit menyinggung tentang pluralisme itu sendiri, beliau lebih banyak berungkap tentang pandangan sejarahnya mengenai kelahiran Indonesia sebagai sebuah negara. Saya gak berani mencupliknya di sini, ntar dikira membocorkan pendapat orang lain….. (hihihi….Maksud saya; saya gak cukup capable meresume gagasan beliau). Tapi kalo nanti gagasan itu terbukukan, saya akan menjadi pembacanya. Asyik kok!

 

Beberapa hal yang terekam di kepala saya tentang Pak Syafi’i adalah; (kalo gak salah) ungkapannya bahwa kita bisa melaksanakan sholat Idul Fitri pada hari kedua lebaran demi menjaga persatuan dan kebersamaan, karena sholat Idul Fitri adalah sunat hukumnya, sedangkan menjaga persatuan adalah wajib (ini tidak beliau ungkapkan di forum sarasehan itu, akan tetapi saya ingat saat lebaran 2007 lalu). Saat itu ada pertentangan mengenai hari jatuhnya tanggal satu syawal, antara Muhammadiyah vs NU-Pemerintah.

Hal lain yang menurut saya keren adalah aktifitasnya dalam upaya menggagas dan menjalin toleransi dan saling pengertian lintas agama, serta ungkapan beliau yang menentang kekerasan yang dilakukan FPI terhadap Forum Kebebasan Beragama beberapa waktu lalu.

 

Saya bertanya bagaimana beliau bisa tetap bertahan dengan konsep pluralismenya di tengah2 badai anti pluralisme di Indonesia. Berbeda dengan Gus Dur dan almarhum Cak Nur, saya belum pernah membaca atau mendengar nada yang memojokkan Pak Syafii.

 

Saya pencinta pluralisme, tetapi saya tak pernah mengungkapkannya. Saya takut menjadi pluralis di Indonesia, karena itu ibarat seperti ada di dalam neraka. Orang-orang akan mengkafirkan saya, mencerca saya dengan berbagai pertanyaan, pernyataan, dan sindiran2 mereka. Walopun saya bukan siapa-siapa dan nobody will count me, saya tetap memilih diam. Setiap kali ada pembicaraan mengenai pluralisme (yang lebih sering adalah ngrasani dan menyindir), I keep silent. Karena saya cinta teman2 saya. Dan cinta diri saya juga. Dan cinta akan kedamaian di antara kami. Untunglah saya tidak berkecimung dengan dunia aktifitas keagamaan yang memaksa saya untuk bersitegang masalah agama.  Jadi saya masih tetap selalu damai dan berbahagia bersama orang-orang sekitar saya.

 

Sesaat setelah kulayangkan pertanyaan itu, teman sebelahku bertanya: Bagaimana sih konsep pluralisme menurut Nurul? Gubrag deh! Sungguh saya tak punya definisi untuk itu. Apalagi bagi orang-orang tertentu yang kadang menuntut jawaban yang terdefinisi rapi, terhapal di luar kepala, dan dilengkapi oleh data dukung seabreg. Glek!

Sungguh saya belum pernah baca konsep mengenai pluralisme yang sering dipertentangkan itu. Saya belum pernah membaca konsep pluralismenya versi para pluralis. Justru yang lebih banyak saya dengar adalah ungkapan dan pembicaraan yang memojokkannya. Saya hanya merinding setiap kali mendengar cercaan terhadap pluralisme, dan terhadap berbagai bentuk keberagaman, dan perbedaan. dan dalam hati bergumam; Why not?

 

Entah mengapa, yang saya coba mengerti adalah mungkin karena saya berbeda, dan saya sangat yakin bahwa setiap insan di dunia saling berbeda.

Tapi banyak yang bersepakat untuk menyamakan diri dengan sekitar, dan banyak yang gagal dalam upaya itu. Mungkin saya salah satunya.

Saya kadang merenung….sepertinya I born to be Aleu, or Balto. Yang tidak bisa menyalak seperti suara orang lain (lebih lanjut baca tentang Born to be Aleu).

 Tapi oke deh saya coba tuangkan apa yang saya anggap sebagai bentuk pluralisme yang saya cinta terhadapnya itu. Baca deh; Pluralisme di hati (bukan pikiran) saya………

 

 

 

 

Tapi oke deh saya coba tuangkan apa yang saya anggap sebagai bentuk pluralisme yang saya cinta terhadapnya itu. Baca deh; Pluralisme di hati (bukan pikiran) saya………

2 Comments

  1. Dear Nurel,
    Plural, keberagaman itu indah. Sebab, beraneka bentuk dan warna…bayangkan jika dalam dunia kita ini semua manusia sama bentuknya kayak boneka barbie di toko. Saya mendapatkan masukan dari teman baik yang awalnya pemeluk agama Hindu yang ta’at dan sekarang emeluk Islam yang ta’at dan tidak pernah berhenti mendalami hakekat Islam, tentang makna Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Man Rwa (moga2 nggak salah kutip sayanya. Kenapa makna Bhinneka menjadi hanya ber beda2 tetapi tetap satu jua? Padahal ternyata makna hakikinya adalah Meski dharma yang kita lakukan ber beda2 tetapi hakekatnya hanyalah satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, Sang Hyang Widhi dan apalah lagi sebutan tertinggi bagi Tuhan Pencipta Alam Semesta. Begitu…Nah, dari pemahaman yang salah ini ada satu hal yang menjadi terlupakan, bahwa makna spiritual dari falsafah Bhinneka Tunggal Ika itu menjadi terlupakan dan akhirnya juga terkikis dari dasar perilaku bangsa Indonesia. Mungkin begitu. Saat ini pluralitas bia menjadi ancaman karena kita lupa memaknainya secara hakiki. Moga kita yang tahu bisa menyebarkan pemahaman ini dan moga kita bisa berbuat banyak untuk kerukuan dan kedamaian di NKRI kita tercinta.

    Salam,
    Handari
    masmirah331@yahoo.com
    http://www.handari.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s