Saat Agama menjadi Tuhan

Banyak orang menggugat dan mencemooh sekumpulan orang yang dianggap telah ‘menuhankan seni’.
Dan yang menghujat adalah sekelompok orang yang telah ‘menuhankan’ agama.
Nah lho!
================
Beberapa waktu lalu kita banyak membahas “menuhankan seni” yang notabene dianggap telah dipraktekan oleh para seniman.
Tapi kita kadang gak melihat bahwa para agamawan pun (kadang kita termasuk di dalamnya) telah “menuhankan agama”. 
Agama bukan lagi menjadi sarana/jalan/manhajj (?) mencapai (keridhaan Tuhan) tapi telah menjadi tuhan itu sendiri.
Sehingga, yang kemudian terjadi adalah semakin beragama seseorang buka semakin bijak ia….tetapi justru semakin meresahkan.
 
Ah tapi bukankah keresahan adalah suatu parameter sebuah dinamika?
 
Mungkin saja, tapi keresahan yang demikian adalah keresahan yang menyemangati pada proses pencarian terus-menerus, bukan keresahan yang  timbul karena kemandegan berfikir dan keenganan membuka diri terhadap pendapat orang lain.
 
Dalam sebuah buku humor pernah saya baca kisah berikut:
Ada dua orang (eh dua butir, atau dua keping????) syetan sedang mengamati seseorang yang sedang berjalan.
Tiba-tiba orang tadi melihat sesuatu di jalan dan memungutnya.
syetan 1: hei syetan 2, apa yang diambil oleh orang itu?
syetan 2:sepenggal kebenaran!
syetan 1: apa kamu gak resah dengan apa yang diperoleh orang itu?
syetan 2: Gak lah syetan 1, biarlah ia genggam kebenaran itu, dan aku akan menjadikannya sebagai keyakinannya (agamanya) yang tak tergoyahkan!
 
Kita sering merasa benar dan menganggap orang lain salah.
Kalau yang kita pahami adalah benar, maka yang dipahami orang lain diluar kita tentu salah.
Kenapa?
Karena konon kebenaran adalah bersifat mutlak, absolut.
Dan kita menganggap kebenaran yang kita miliki adalah kebenaran yang absolut tersebut.
Kita sering kali lupa bahwa kebenaran absolut adalah hak Allah semata.
Ketika kita sudah merasa memegang kebenaran absolut kita tidak hanya telah menuhankan agama, tapi mungkin bahkan sudah menuhankan diri.
Astagfirullah.
 **
Dalam cerita bijak agama sering dikutip cerita berikut:
Ada orang-orang mencari kebenaran dalam beragama bagaikan sekelompok orang buta sedang mengidentifikasi seekor lembu (sapi).
Seorang (yang memegang buntut) berkata: Sapi itu panjang, seperti tali)
Seorang (yang memegang kaki) berkata: bukan sapi tuh gede kayak tabung
Lain lagi yang megang perut: Eit gak lo semua pada salah. sapi tuh gede kayah drum, gitu loh…”
 
Dari cerita bijak tersebut kita dapat mengambil hikmah, (kadang-kadang dari beberapa sisi, dengan berbagai cara):
Sisi mana posisimu?
1) Oleh sekelompok orang (mungkin kita di dalamnya juga….).
Cerita ini sering digunakan untuk menghakimi orang lain sebagai ‘si Buta’ sementara kita merasa ‘Si tidak buta’ atau si ‘Melek’.
Mereka (eh mungkin kita….) yang telah merasa menggenggam kebenaran mutlak dalam jari tangannya cerita tersebut digunakan untuk mengibaratkan orang lain yang tidak sepaham.
Mereka (kadang kita…) beranggapan bahwa kebenaran yang disampaikan orang lain hanyalah ‘sekedar buntut sapi’ (kalo dibikin sop buntut sih enak…..!), atau kaki, atau apalah bagian daripadanya.
Mereka (kadang kita) merasa telah mengetahui secara utuh anatomi seekor sapi, dan merasa tahu segalanya.
Kita merasa sebagai orang yang ‘melihat’ di tengah sekumpulan orang buta…..
Kita enggan melihat dan menampung masukan dari orang lain yang memegangnya dari sisi yang lain.
Kita bangga dan merasa keren mengenakan kacamata Reiben.
Ohhh
2). Padahal ada cara penafsiran lain yang saya fikir lebih bijak (sok bijak ah):
Seandainya kita masing-masing menempatkan diri (maksud saya memposisikan eh sama aja ya….) sebagai orang buta.
Dan dengan kesadaran akan keterbatasan kita itu, kemudian kita membuka diri terhadap pendapat dan pandangan orang lain…..
Bahwa adalah tidak salah kalo seseorang (mungkin, sering kali adalah kita sendiri)menganggap sapi tersebut panjang, bulat atau kubus sekalipun…..tapi ketika ada orang berpendapat lain mengapa kita tidak mencoba memahaminya? ….
Bukankan seringkali hal itu akan lebih memperkaya referensi kita?
Dan bukankan perbedaan juga yang membuat kita menemukan keindahan milik kita?
 
Kalau masing-masing diri kita menyadari keterbatasan kita, bukankah saling mengisi dan harmoni akan lebih  mudah tercipta?
Karena ….
Bukankah kita hanyalah debu yang mencoba menerjemahkan Cinta Allah yang tak terbatas?
=====
Ah jadi ngaco juga. berputar-putar. bicara tentang hal ini kayaknya gak akan pernah selesai yah!
 
Salam damai indah barokah,
Nurul.
=================================================================(Tulisan ini pernah saya posting di millist penulislepas; tgl 21 November 2005; sebagai sebuah tanggapan atas postingan mengenai topik ‘menuhankan seni’)
Saya posting kembali dengan sedikit revisi………….
*

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s