Perempuan Moric

Ini adalah cerpen jaman dulu kala….

Cerpen pertamaku dimuat di harian Suara Merdeka tahun 2001.

Ada juga behind the scene-nya yang gak kalah seru. Tapi belum sempet di…..bikin!

 

Perempuan Moric

 

 

 Perempuan Moric dilahirkan dalam letusan dahsyat gunung Merapi .

Diiringi gempa getaran tujuh skala ricter, berparas anggun tinggi semampai mengangkasa dengan rambut panjang menjuntai rimbun pohon pinus.

Lava berpijar meleleh mengaliri urat nadinya menjadi gairah menggelora bermuara pada kawah bibir merekah. Sebagai dewi puncak Merapi, ia puas makan sesaji.

 

Tetapi pada suatu hari ia diresahkan oleh hasrat alam yang tak sejalan ketika Merapi yang telah dianggap sebagai ibunya itu memuntahkan awan mendidih yang menghancurkan tarian ritual gadis-gadis  pengangkut pasir yang mula-mula tertawa girang oleh datangnya gelombang pasir yang menggunung, tapi tawa itu kemudian berubah menjadi jeritan, dan jeritan itu kemudian berubah lagi menjadi kesunyian.

                    

Habis sudah semuanya, yang tersisa hanya kebisuan. Perempuan Moric tergugu dalam kesedihan

“Mengapa Tuhan?. Mengapa kau ambil mereka dan bukan diriku?. Apa artinya diriku tanpa mereka?. Kepada siapa lagi akan kutebar kebajikan dan kemudian menyeretnya dalam kekuasaanku? Siapa lagi yang akan memujaku sebagai bidadari?”

Tapi tak ada jawaban, selain dahan-dahan dan bebatuan yang memantulkan suaranya.

Selain itu memang alam hanya menyisakan kesunyian.

“Aku harus mencari!”, tekadnya,”….dan harus menemukan”.

 

Dalam duka dan kemarahan perempuan Moric berjalan menenteng sebuah pertanyaan yang disimpannya dalam genangan air matanya.

Dan lihatlah perempuan itu, dalam kehampaannyapun ia tetap seorang bidadari dengan langkah penuh keanggunan, hingga tebing-tebing dan bebatuan tak tahan untuk tidak bersuit-suit menggodanya, tapi ketika dilihatnya sungai kecil di pipi putih itu mereka terbungkam dan mengiringi langkahnya dengan lagu tentang kesedihan seorang ibu yang sedang bersusah hati, yang air matanya berlinang karena mas intannya yang terkenang.

 

2

                    Perempuan Moric berjalan terus.

Terus.

Berteman siang dan malam yang setia menerangi langkah kakinya menapaki setiap lembah dan bukit dalam perjalanan yang penuh tanjakan dan tikungan.

Hingga pada suatu siang yang sangat terik tampak ia tersuruk-suruk menyusuri sepanjang tepian Pantai Selatan. Keringat berlelehan membasahi tubuhnya hingga kuyup, membuatnya  tampak seperti habis mandi, meskipun belum sepercik ombakpun menyentuh ujung kakinya.

Hanya pipinya yang kemerahan itu yang menandakan bahwa air yang menyatukan tubuh dan bajunya itu adalah peluh dan bukan air laut, meskipun mungkin sama-sama asin.

                      

Angin kencang tengah menyeret-nyeret ombak ketika tatapannya terantuk pada sosok seorang laki-laki tengah duduk bersila di bibir pantai dengan mata tertutup dan bibir tersenyum tampak mesra bermain dengan kepiting –kepitin laut yang merayap di tubuhnya.

Beberapa kepiting itu segera jatuh terhempas oleh lidah ombak besar yang baru saja datang, dan kemudian mulai merayap naik lagi ketika ombak mengecil.

 

Perempuan Moric terperangah. Sungguh sebuah pesona yang sungguh menggairahkan.

Nalurinya mengatakan, disinilah ia harus berhenti, untuk mendapatkan apa yang diingininya.

Inilah ujung dunia itu, dimana tiada lagi tanah untuk dipijak.

Dan hasrat itu telah begitu dekat, hingga ia menurunkan gaunnya agak sedikit agar payudaranya bisa mengintip. Itulah yang diajarkan alam kepadanya bila hendak memulai suatu pekerjaan. Dengan langkah kaki menyilang ia tampak paham betul apa arti menjadi seorang perempuan.

“Langkah kaki telah membawaku kemari, wahai keindahan yang sempurna, apa yang kau tawarkan?”

“Aku adalah guru. Padamu tak ada yang kutawarkan, walaupun untuk yang kau sibak dari pakaian”

Perempuan Moric tersenyum, sikapnya lebih santun.

“Guru, aku datang dari sebuah ketingggian, menggendong sebuah pertanyaan. Kini kuserahkan ia dipangkuanmu, agar aku beroleh kedamaian”

“Setiap angin berhembus mengunjungiku dengan seribu pertanyaan. Dan akulah guru yang menyediakan jawaban”

“Guru, ceritakan padaku tentang Tuhan”

“Kau masih saja bicara tentang Tuhan, Cinta dan kehidupan. Kau berjalan berputar-putar, tak pernah beranjak maju”

“Karena Ia menjalar-jalar dikepalaku, guru!. Aku tak kuasa menolaknya”

“Kau penjarakan ia di kepalamu hingga tak kunjung singgah dihatimu. Keluarlah, dari jarring kata dan makna yang membuat jiwamu beku. Menarilah bersama hembusan angin dan tetes air hujan. Kau lihat gadis-gadis pengangkut pasir itu bukan? Tanpa kata-kata mereka sambut kehadiran Tuhan, di hati, bukan di fikiran, dan menyelaminya sebagai puisi yang tak harus dituliskan”

Suara itu lentur diayun-ayunkan angin diantara pucuk-pucuk bunga biduri tetapi ketika sampai pada gendang telinga perempuan Moric terasa sebagai sebuah tamparan.

 

 “Tapi mengapa mereka, guru?. Gadis-gadis pengangkut pasir itu?. Bukankah kau tahu mereka tunduk di kakiku?. Guru, aku tak mungkin mencari dari yang telah aku kuasai. Itu menyalahi hierarki”

“Kau tak berkuasa sedikitpun, bahkan atas dirimu sendiripun”

 

Ini sungguh bukan jawaban yang diinginkan. Dan tidak adil. “Aku tidak suka jawaban ini”, gumam perempuan Moric.

Yang aku inginkan adalah sebuah penguatan untuk kedamaian, tapi kini guru telah dengan seenaknya meruntuhkan dan menjungkirbalikkan tatanan yang sudah lama dipedomaninya sebagai kitab suci, tempat ia selama dua puluh sembilan tahun telah meneguhkan pijakan kakinya, hingga kini ia merasa  terjatuh pada nganga lebar yang meluncurkannya pada titik di bawah nol.

 

Perempuan Moric tampak hancur lebur, terduduk kuyu diatas pasir abu-abu. Tapi tidak, dia tidak menyerah begitu saja. Lihatlah dengan seksama. Perempuan Moric tampak sedang berfikir, dan tak lama kemudian ia berseru,”Eureka! Eureka!”

 

Ditolehnya guru yang kini tubuhnya sudah dipenuhi kepiting-kepiting.

“Baiklah guru!. Kau mungkin benar dan aku salah. Kau telah berhasil menelanjangiku, kalau itu maumu.

Tunggulah, akan aku buktikan bahwa aku sanggup menciptakan seribu puisi yang seribu kali lebih indah dari puisi gadis-gadis pengangkut pasir itu”.

 

Dengan mata menyimpan senyuman, perempuan Moric berjalan menapaki kembali jejak-jejak kakinya yang kini tinggal samar disapu angin.

 

 

3

                     Pada suatu sore menjelang purnama guru mendapatkan sepucuk kabar angin untuknya: bertuliskan;

 

“kiniku telah menikah dengan semesta. Kuundang kau dalam pestaku, sebuah peradaban baru”

 

Ah, perempuan itu.

Guru bergegas beranjak dan dengan pedoman sisa matahari dan cahaya bulan purnama menyusuri sepanjang sungai dan berjalan menyapa arus menuju puncak batang sungai.

Hingga pada pagi harinya ketika langit belum lagi memerah, ia telah sampai pada aliran sungai sejernih kaca dengan bebatuan dan pasir kelabu, ketika didapatinya serombongan orang-orang menghampiri dan berteriak-teriak memanggilnya.

Orang-orang itu, dengan masih mengenakan sarung-sarung dan selimut yang disampirkan dipundaknya, dengan wajah menyiratkan mimpi yang belum usai berarak menguak rerumputan dan menghentikan nyanyian kodok-kodok yang sedang bermesraan. Apa gerangan yang membuat orang-orang itu bangun begitu tergesa, sedang sisa kantuk masih menggantung di  mata?

“Perempuan itu, Guru….”

“Bidadari itu, Guru…”

“Pelacur itu, Guru….”

                   

Sia-sia mereka mencoba menjelaskan dalam suara yang berpacu dengan nafas memburu, hingga dalam diam mereka mencapai kesepakatan membawa Guru pada perempuan itu.

Rombongan itu membentuk iring-iringan bisu menuju sebuah dataran agak luas,  dengan pasir dan bebatuan yang dilingkupi beberapa pucuk pinus diantara semak-semak dan bunga putih Edelweis.

 

Matahari setengah mengintai ketika mereka menghentikan langkah dan Guru menyadari apa yang telah mereka suguhkan. Suatu pemandangan yang sangat mencengangkan.

Seorang perempuan sedang mengencangkan tali pengikat pada kaki seorang laki-laki tua yang disalibkan pada pokok pohon pinus. Dan sebelahnya, melekat erat pada pohon pinus yang lain, seorang perempuan tua.

Sedang perempuan itu, dengan tato darah merah di tubuhnya, dialah perempuan Moric.

Sinar matanya menunjukkan betapa ia menikmati pekerjaannya.

Guru yang tercengang bergumam,” Ini harus segera dituntaskan”

“Betul Guru, setuntas-tuntasnya” laki-laki berkalung sarung menimpali.

“Ya. Setuntas-tuntasnya. Tas-tas-tas…” sambut yang lain bersama-sama.

Perempuan Moric dengan segera menyadari kedatangan orang-orang itu. Tanpa merasa terkejut, dengan anggun ia melangkah tersenyum menghampiri Guru.

“Guru, lihatlah hasil karyaku. Sebuah pertunjukan yang indah, bukan? Mereka adalah dua orang yang memberi jalan kehadiranku di dunia ini. Melalui rayuan gombal dan hasrat keisengan, aku dilahirkan dalam ketaksengajaan, tanpa prosesi pernikahan dan pesta sakral mandi kembang. Mereka membesarkanku dengan keterpaksaan, hanya karena aku berjenis perempuan. Tetapi ketika aku beranjak besar dan mereka melihat diriku sebagai kembang yang sedang mekar,  mereka memperkosaku habis-habisan hingga aku tak mengenal kebebasan.”

“Mereka adalah orang tuamu. Bapakmu yang telah menegakkan tubuhmu dan ibumu yang dikakinya ada surgamu. Ingat kau adalah seorang anak! Dari mereka”

“Anak? Ah- ha ha ha ha!. Oh Guru, Guru. Guruku sayang  guruku malang. Aku memang anaknya, guru. Tapi anaknya bukanlah anaknya. Aku adalah anak jamanku. Tapi mereka mencencangku dalam busurnya untuk mengukir patung pemujaan, aku menjadi tangan mereka hanya untuk menutupi impotensinya. Kemerdekaanku dirampas, aku harus menyelesaikan hasrat mereka yang tak pernah terselesaikan. Dan semua adalah atas nama balas budi dan kebaktian. Nonsens sekali bukan? Oh! Oh! Oh! .Guru, Dalam sangkar duri mawar, bagaimana anganku tidak tumbuh meliar”

“Kau tetap tak berhak menentukan kematian. Itu menyalahi hukum Tuhan”

“Tuhan didalam diriku, Guru. Bukankan itu yang kau ajarkan?”

“Tuhan juga dalam diri bapak dan ibumu”

“Ya, ya. Untuk itulah. Karena itulah. Saya persembahkan akhir yang indah ini sebagai tanda cintaku. Ini adalah pesta untuk pembebasan dosa-dosa mereka. Guru, bukankan ini sebuah akhir yang sungguh artistik?”

Perempuan Moric tertawa penuh kepuasan. Orang-orang menonton tak mengerti, dan guru berdiri mematung tanpa senyum

“Kini, ijinkanlah aku berbaiat padamu, guru! agar aku tahu kudapat ridhamu. Aku sudah lelah. Pekerjaan ini begitu melelahkan. Biarlah kusudahi semua sampai di sini”

Perempuan Moric berlutut menghamba di telapak kaki Guru yang termangu membisu. Penonton menunggu dan Guru tetap membisu dan penonton tetap menunggu. Lama. Semua membisu. Dan menunggu. Pohon-pohon, tebing, sungai dan batu-batu. Semua bisu, dan langir menjadi begitu biru.

“Ayolah, Guru. Aku tak punya banyak waktu” Perempuan Moric memohon.

Guru masih membisu, penonton masih menunggu. Pohon, tebing, sungai dan batu membiru.

“Ayolah Guru! Jiwaku lelah sudah. Jangan kau paksa aku ciptakan puisi yang lain lagi”

Penonton tak sabar menunggu. Langit berubah abu-abu.

“Ayolah, Guru. Hasratku sudah menggebu”.

Penonton mulai resah.

Guru menengadah menghadap langit,“Baiklah. Baiklah”

Dalam keanggunan seorang bidadari Perempuan Moric menghanyutkan diri dalam sebuah ciuman yang panjang. Penonton terkesiap melihat pemandangan yang tak dinyana-nyana. Perempuan  menjadi bergairah, dan penonton terperangah menelan ludah.

Tiba-tiba tubuh perempuan itu tampak melunak, kulitnya bergelamir-gelamir seperti tomat rebus dan perlahan-lahan meleleh, mulai dari telapak kaki, tubuhnya memendek kehilangan kaki, tungkai, dan sumakin naik ke atas. Matanya tertutup dan bibirnya tersenyum dalam ektase kedamaian. Ketika yang tersisa hanya kepalanya ia berbisik lembut; “Terimakasih Guru! Engkau arif sekali”, hingga dalam hitungan detik tubuhnya telah lenyap sama sekali, tanpa bekas.

Orang-orang terpana, mata melebar tak berkedip mulut terbuka tanpa suara.

                        

Guru berdiri mematung dan orang-orang masih terpana dan menunggu. Ketika sejenak dua jenak ditunggu pemandangan masih sama, dan orang-orang mulai menyadari apa yang telah terjadi. Bidadari itu telah pergi. Lemaslah tubuh mereka, sesuatu telah hilang, terenggut dari mereka.

“Oh perempuanku…….” Seorang laki-laki sembari mengelap liur dengan sarung di lehernya.

“ Oh bidadariku……….” Seorang pemuda berambut panjang gimbal terduduk lemas.

“ Oh pelacurku………..”  laki-laki gemuk dan laki-laki kaos loreng-loreng bersamaan, disusul koor suara-suara lain,

“ Oh, oh, oh……” suara orang-orang itu bersahut-sahutan tak beraturan.

“ kemana gerangan dirimu, oh bidadariku….”

“ Mengapa kau pergi oh…..kemesraan yang sadis….”

“ Oh……percintaan yang kejam….”

“Oh……pembunuhan yang romantis…….”

“Oh pembunuhan, oh kematian…….”

“Oh, oh, oh….”  Orang-orang tenggelam dalam tangis kehilangan, para perempuan menjerit-jerit dan para laki-laki meraung-raung. Suara-suara itu membentur-bentur dinding-dinding batu dan lereng-lereng menimbulkan gema yang memilukan.

Guru yang mematung terhanyut dalam keharuan.

                      

Matahari bertengger di atas kepala orang-orang yang kelelahan oleh tangis dan guru yang masih mematung dengan pandangan menerawang jauh kedepan tak berbatas, ketika laki-laki berkalung sarung tiba-tiba bangkit dan pandangannya menjadi nyalang;

“ Ini semua karena kau, guru! Kau telah membunuhnya” suaranya lantang, membangunkan orang-orang dari tangisnya yang tinggal sedu sedan. “Bukan begitu saudara-saudara?”

“Ya, pembunuh….!!!!!Guru pembunuh……!!!” orang-orang seperti mendapat kekuatan baru, mereka mulai bangkit lagi. Berdiri lagi, tegak lagi.

“Lalu apa hukumannya bagi seorang pembunuh wahai saudara-saudara?”

“Pembunuh dibalas bunuh, hutang nyawa dibayar nyawa, hutang darah dibayar darah, hutang negara….”

“Ssst, ssh, sudah!, sudah!, kita disini bukan untuk ngurus masalah negara. Jadi jangan sampai kita terprofokasi oleh jargon-jargon politik. Yang penting sekarang, apakah akan kita tentukan bahwa darah guru halal?”

“Yaaaaa, setujuuuuuuuu”

Laki-laki berkalung sarung tampak manggut-manggut puas, ia mendekati guru yang masih mematung dan tampak tak terganggu oleh hingar-bingar suara orang-orang.

“Bagaimana Guru?, apakah kau akan membela diri?”

“ Apapun yang kalian inginkan,  kalian tahu, aku tidak membunuhnya.”

“ Tapi kau menghilangkannya. Kau membuatnya lenyap”

“ Tapi apa gunanya ia bagi kalian, selain menyita hati dan fikiran kalian?”

“ Sangat. Sangat berguna, guru. Dan untuk kami lah ia ada. Ia lah tempat kami menitipkan harapan dan hasrat kami, tempat kami berbagi dan menghibur diri. Tempat kami menumpahkan segala penghormatan, dan juga kekesalan kami. Kami jadikan dia bidadari kami, dewi kami, pelacur kami. Ia adalah samudra bagi hidup kami,Guru! tempat kami berenang, minum, dan buang hajat.”

“Kalian jadikan ia sebagai tumbal kepengecutan kalian. Aku bahagia telah membebaskannya”

“Bukan itu yang kami inginkan darimu. Kami inginkan adalah kau kembalikan perempuan itu seperti dulu, sebelum ia meninggalkan kami dan mengenalmu. Ia yang dulu adalah kupu-kupu indah kami, selalu menarikan tarian terindah kami, dan menyanyikan hymne kejayaan kami. Tapi lihatlah guru! setelah mengenalmu tariannya menjadi begitu tak beraturan, dan suaranya menjadi sumbang”

“Aku bahagia ia telah merdeka”

“Guru, kau melanngar hukum kami. Dan demi keadilan kau harus mendapatkan hukuman”

“Untuk egoisme kekuasaan kalian”

“ Untuk supremasi hukum dan kitab suci, kau harus dihukum mati”

“Aku rindukan kematian, walaupun hidup begitu indah kurasakan”

                 

Lalu orang-orang itu, dengan dipimpin oleh laki-laki berkalung sarung tampak berkumpul dan membicarakan sesuatu, dan sebentar kemudian laki-laki itupun bicara,” Baiklah guru. Kalau kau marasa berhak atas hidupmu, tapi kami juga berhak atas hukum kami. Jadi begini saja. Kami akan lempari kau masing-masing dengan sebuah batu. Terserah bagaimana kau mampu mengelak untuk mempertahankan dirimu, dan setelah itu kau bebas kemanapun kau mau. Ini adalah satu-satunya keputusan yang harus disepakati. Kau tak punya pilihan”.

                 

Guru diam mematung, juga, ketika batu-batu mengenai tubuhnya, ia masih juga diam, matanya terpejam, bibirnya tersenyum.”Guru, anggaplah ini sebagai tanda jasa yang tak pernah kau dapatkan” kata laki-laki rambut gimbal.

“Guru, berkahi kami untuk segera menciptakan bidadari baru….” Sahut laki-laki kaos loreng.

Dan hujan batu disambut guru dengan senyuman.

                  

Ketika sudah tiada dirasakannya lagi batu mengenai tubuhnya, guru bangkit dan berjalan perlahan-lahan dengan luka-luka di tubuhnya yang memberikan warna merah batu bata.

Ia berjalan terus menyusuri aliran sungai, dan berseru kepada alam” Aku berterima kasih kepada matahari atas hadirnya hari ini, karena satu tugasku telah selesai dengan sempurna”

 Magelang, 2001

Diposting kembali dalam rangka mengenang jiwa ksatria…haha! 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s