El-Semi dalam kenangan

Sebuah episode bersama LSMI

Mutiara menjadi  indah oleh gesekan, Nahkoda yang hebat terlahir dalam badai, dan manusia menjadi bijak karena diasah oleh manusia lain.      

(guebacakataorang_gitusih)

 

             Setiap kilasan waktu, setiap pijakan langkah manusia adalah sebuah titik dari garis panjang perjalanan hidupnya. Tapi kadang kita tidak menyadarinya. Sehingga apa yang kita rasakan telah kita alami hanyalah beberapa kilasan episode yang terdampar dalam kenangan kita. Kadangkala  goresan-goresan makna yang terbentuk terasa berkesan hingga tanpa kita sadari ia membawa dan turut membentuk siapa diri kita sekarang.

 

              Salah satu kesan dalam memori hidupku adalah LSMI, tapi kami lebih sering menyebutnya Lesmi atau El-Semi. Selain lebih singkat, rasanya juga lebih nyeni. Berarti sesuai dong dengan arti nama kami yang sebenarnya merupakan singkatan dari Lembaga Seni Mahasiswa Islam. Sebuah komunitas kecil berisi beberapa personil mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta.

 

             Sebagai bagian dari sebuah organisasi yang cukup keren (dan dianggap intelek…..atau menganggap diri intelek?) bernama HMI, maksud dibentuknya Elsemi pada awalnya ya untuk menjadi lembaga yang keren dngan aktivitas2 yang keren2 dan manggagas hal2 yang keren2 gitu deh. Dan hal2 yang keren itu tercakup pada ungkapan2 abstrak seperti menggagas bentuk seni budaya yang berpijak pada paradigma Islam demi mewujudkan masyarakat madani dengan peradaban yang berkualitas…. Betul kan? Pokoknya kalau sudah ada kata-kata paradigma, epistemology, dan semacamnya itu rasanya jadi intelek banget. Wuih!

    

Dan untuk mencapai tujuan yang keren2 itu direncanakanlah berbagai bentuk kegiatan seperti bedah buku dan berbagai diskusi dengan tokoh budaya. Dan disela-sela program itu kita refreshing dengan nonton prtunjukan seni budaya. Ini masih masuk kontek kgiatan lembaga, karena Elsemi memang meliputi hal ini. Akan tetapi bagian refreshing ini lama-lama semakin mengasyikkan. Kita jadi lebih suka melakukan bedah puisi, kemudian baca-baca puisi bareng, kemudian nonton teatr bareng, kemudian membentuk grup teater, kemudian pentas bareng…….kemudian keenakan ……kemudian keasyikan…….sampai …kita terkena HIV!

Gubrag! Glek!

HIV itu adalah Hasrat Ingin Ventas….alias gila panggung dan gila manggung!

 

HIV, Gila Pentas…..

 

Yup! Memang tidak ada yang terus terang mengakui serangan wabah itu. Tapi gejala itu jlas terbaca dari kegilaan kami pada segala aktivitas berbau seni. Kita bela-belain latihan sampai lewat tengah malam. Habis latihan jajan sego kucing habis dua-tiga bungkus dan segelas besar wedang jahe. Glek!

 

Kita juga patungan semampunya demi menggelar workshop teater. Sebuah workshop sederhana tapi asyik dengan menu makan ala kadarnya, dengan penginapan ala kadarnya, di Pantai Glagah.

 

Olahraga,

olah nafas,

olah vocal,

olah rasa…..

 

Badan posisi tegak…..pandangan lurus ke depan……hirup nafas pelan-pelan…..tahan…..lepaskan….

 

Badan posisi tegak….pejamkan mata….hirup nafas…rasakan udara masuk melalui hidung….menuju paru-paru….rasakan degup jantung…..

Rasakan udara menyentuh kulit lenganmu….biarkan alam membawamu menari….ikuti irama alam……

 

Begitulah.

Bercanda dengan pasir pantai, menari bersama ombak dan buih, termenung dalam sunyi gemuruh ombak yang semakin membesar di malam hari.

 

Kita bela-belain latihan sampai lupa kuliah…..kita pun pentas sampai lupa ujian.

Sehabis baca puisi bareng samp jam 1 malam, akhirnya pagi harinya saya bisa tertidur pulas …di bangku ujian!. Alhasil, ujian yang saat itu kumaksudkan untuk mengulang nilai matematika dasar ku yang dapat point C itu berhasil kulewati dengan sukses hingga akhirnya nilaiku berubah….jadi D!

 

Asyiknya bisa pentas. Mementaskan karya orang yang sudah OK atopun karya sendiri yang masih amburadul.

Yang penting pentas.

Gak selalu harus pentas teater dengan panggung dan dekorasi tata lampu.

Kadang cuma sekedar baca puisi bersama atau pembacaan cerpen atau sekilas happening art juga tetap asyik!

 

Ah….masa muda……

 

Gila nonton….

Kecanduan nonton, itu pasti. Nonton apa saja. Untunglah Yogya menyediakan semua kebutuhan itu. Semua tersedia. Pameran lukisan, seni dan budaya, dan tentu saja….teater!

Sampai lewat tengah malam kita menikmati pertunjukan-pertunjukan teater kampus.

 

Dari festival musim panas, festival teater kampus, dan apalagi itu yang di Benteng Vredeburgh, hingga sekaten.

Dari grup produktif seperti teater Garasi (Sospol) yang slalu OK, Usntratnya anak IKIP, ESKA nya anak IAIN Suka, hingga Satu Merah Panggungnya Ratna Sarumpaet, dan Kyai Kanjengnya Emha.

Dari pembacaan cerita pendek oleh Landung Simatupang hingga pentas panjang seperti ‘Waiting for Godot’, Caligula, dan ‘Papan Catur’atau pentas puisinya Rendra yang berkhir jam 02.00 dini hari..

Dari pentas musik nasyid sampai pentasnya Heidy, Daniel Sahuleka dan Dewa 19.

Dari tempat terdekat di Purna Budaya hingga ke ISI di mBantul.

 

Itulah masa muda yang begitu mengasyikkan….

Terlalu manis untuk dilupakan…..

 

My friends….

Walopun tidak semua nama terekam dalam pikiranku dan sudah banyak yang terlupakan, masih ada nama2 yang nempel di kepala.

 

Jeng Gal

Temenku dari Sospol ini adalah perempuan termanis di ElSemi. Setiap habis latihan usai mengantarku pulang, ia kembali ke kostnya dengan motor bututnya. Biasanya jam 10 – 11 kami sudah pulang. Dalam perjalanan itu ia melewati warung tenda pecel lele langganannya., dan mendapat sapaan,”…baru pulang Mbak….”. Lama-lama jam kepulangan kami menjadi lebih malam, terutama sehabis pentas, atau beberapa malam menjelang pentas. Dan si Mas penjual pecel lele itu kata sapaannya berubah,”…kok sudah pulang Mbak……” Dan teman termanis kami menjawab santai,”sudah laku Mas……”

 

Yuni

Temen dari IKIP ini adalah perempuan paling cerdas di komunitas (apalagi saat aku dan Jeng Gal absen, hehe). Gak salah deh ia menjadi pemimpin. Dan sepertinya sudah ada konsesi di antara para anggota komunitas (terutama para lelaki) bahwa seorang pemimpin haruslah seorang perempuan. Eh tapi bener kok, Yuni emang cerdas. Tak hanya itu, ia juga mandiri dan inspiratif.

 

Henk

Anak psikologi yang baik dan lucu. Dan karena kuliahnya di Psikologi itu maka ia sangat bisa ngertiin teman2nya. Juga ngertiin kalo kita2 lagi gak pada punya uang, jadi ia relakan mobilnya buat ngangkut kami malam-malam nonton ke ISI nun jauh di Bantul.

 

Yusuf

Temen dari IAIN ini lucu juga. Sering merasa dirinya aneh dan unik. Dan kita yang denger cuma pada heran, karena gak nemuin hal aneh padanya. Oh, mungkin justru di situlah anehnya: Biasanya orang seunik apapun menganggap dirinya biasa n normal2 aja, dan orang lainlah yang memandangnya unik. Nah ini kebalikannya…..salut!

 

Yudi

Temen dari IAIN ini adalah orang paling teater di komunitas. Penampilannya, rambut kriwil bin gondrongnya dan suara nya neater banget. Pantes banget dijadiin mascot komunitas…hehe!

A, I, U, E, O!

aiueo…….

 

Sapa lagi ya….? Dah pada lupa nama2nya. Dasar emak2!. Oh, ya ada Yusuf-2, Ripong, Deny, dan lain-lain…….O, iya: Firdaus dan sholeh item, sama …..siapa sih anak UMY yang keriting itu? Dan anak UII yang tinggi? Hihihi…….wis lali kabeh!

Dah ah……

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s