Di tepi sungai Ciliwung aku duduk dan tersedu

By The River Ciliwung I sat down and wept

 Setaip kali melintasi jembatan Ciliwung di seputaran Kebun Raya Bogor, saya teringat sebuah penggalan episode imaginer pada salah satu novel cantik Paulo Coelho: By the river Piedra I sat down and wept.

Ciliwung in my heart

 

 

 

Dan saya sudah lama sangat ingin melukisnya, tapi gak sempat-sempat.

Akhirnya di sisa-sisa waktu…..selesai juga nih lukisanku.

Bukan Ciliwung banget sih….ini adalah Ciliwung dalam anganku!

 

 (lukisan cat kanvas, 50×60 cm)

  ===============================================================

Setiap kali melintas di jembatan itu, ada sebuah rasa indah menembus jiwa.

Entah apa itu.

Mungkin derai arus yang menghanyutkan angan.

 

Setiap kali melintas di jembatan itu, ada sebuah pesona memikat hati.

Entah apa itu.

Mungkin rerimbunan daun yang tergantung pada pokok-pokok pohon tua itu yang tak henti mengirim daya magisnya

 

Setiap melintas di jembatan itu ada bagian diri terasa hilang, tertinggal, teronggok pada rerumputan  di tepian aliran air mengelana mengarungi setiap lekuk bumi

 

Ciliwung, kau  tak pernah berhenti memesonaku!

 

Dan setiap kali melintas di jembatan itu, ada sebuah janji tersembunyi.

Aku kan menemuimu. Menikmati derai arusmu, merasai sapuan lembut angin dan sejuk segarnya rerumputan

 

Aku kan datang.

Duduk ditepianmu dan menangis.

Membawa beban hidupku, menuliskan pada sehelai kertas, dan meremas, mengguntingnya menjadi beberapa serpihan dan menaburkannya ke arusmu.

Biar lalu sudah segala galau, biar musnah segala resah.

 

 

Saya tak kenal sungai Piedra, kecuali bahwa Pilar pernah duduk dan tersedu di tepiannya. Yang saya kenal ya cuma Ciliwung, karena sering melintas di dekatnya. Dan saya pikir Ciliwung tidak kalah indah dengan sungai Piedra.. Dan setiap kali melintas di dekatnya saya berjanji untuk pergi ke sana. Duduk-duduk santai di tepiannya, sambil menangis. Rasanya sexy n romantis banget. Sayangnya saya tak sempat2 juga pergi ke sana. Jadi saya putuskan untuk melukisnya di atas kanvas. Tidak harus melukiskan Ciliwung, tapi gambaran apa saja yang kuanggap sebagai Ciliwung. Aku berharap bisa memandanginya dan bisa menagis. Anh juga karena judul lukisan ini sudah ada, jauh sebelum lukisan ini kumulai. Dan dengan sisa-sisa waktu yang ada, akhirnya pelan2 lukisan ini terbentuk.

Hihihi…..salam lukisan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s