Semangat di Mata Itu…..

Semangat di mata itu….
Menjadi manusia yang mulia, mungkin merupakan hasrat setiap orang. Tapi mengapa ketika ada kesempatan hadir untuk mewujudkannya, kita selalu punya alasan untuk enggan?

Rabu, 26 maret 2008. Sore yang cerah, setelah selama berhari-hari matahari tak pernah menemani bumi hingga sore. Ini adalah hari terang pertama setelah berhari-hari diguyur hujan. Sepanjang hari matahari bersinar terang. Tak ada semburat awan kelabu, apalagi mendung hitam yang kemarin selalu menggantung setiap tengah hari.
Sudah jam 4.20, tapi cerah cuaca membuat suasana tampak seperti masih tengah hari. Pulang kantor mengendarai motor kuno, kuputuskan untuk berjalan pelan saja. Aku ingin menikmati cerahnya sore ini, jadi kutanggalkan helm dan kutaruh di ujung depan sadelku. Sebenarnya ingin berjalan-jalan sebentar entah kemana, tetapi tidak ada refrensi yang nyangkut di kepala, jadi …… ya sudah pulang saja.

Sampai di rumah masih ada cerah yang tersisa untuk menemaniku menunggu senja. Sambil menunggu datangnya semburat jingga di ufuk barat, aku mengangkat jemuran yang hari ini akhirnya kering. Saat itu kudengar suara salam di depan pagar rumah sebelah.
“Permisi….permisi……”
Suara  itu terucap berkali-kali tetapi tak ada sahutan. Suara yang keras, lugas, tegas.
Ah, suara seperti ini mah suaranya para salesman dan peminta sumbangan, pikirku. Kalau suara tamu keluarga/rekan kerja/teman biasanya cenderung lebih nyaring tapi mengalun lambat disertai menyebut nama pemilik rumah, seperti;

“Assalamu’alaikum pak Asep…..”, atau,

”Selamat sore bu Wahyu……” atau ,

”Permisi, tagihan gas……”. Etc.
Dan benar. Dua orang itu segera beralih ke depan pagar rumah yang saya tempati. ”Permisi…permisi…..”

Terbawa prasangka, saya sebenarnya ingin pura-pura tidak ada. Tapi itu tidak mungkin, karena pintu rumah terbuka, dan aku tak bisa sembunyi mengelak.

Maka kuhampiri saja pagar rumah.
Dua orang anak muda. Satu orang langsung bicara dengan penuh semangat.
“Bu kami baru dapet training. Kalau boleh kami akan memperkenalkan sebuah alat kesehatan. …”

“Aduh oh….” Duh, gimana mau nolaknya nih!

“Hanya butuh lima menit saja……”
“Aduh….maaf ya saya baru mau pergi…” hanya itu yang terlintas di kepala.
“Oh mau pergi ya bu sebentar saja, hanya lima menit…..?” matanya memohon.
“Aduh maaf banget, kayaknya gak ada waktu deh….maaf ya….”
“O, ya udah bu, makasih….”
Dan mereka meneruskan perjuangan ke tetangga depan rumah. Ditolak. Dan kedua orang muda itu pun pergi menjauh, ke arah jalan, entah rumah mana lagi yang akan dituju. Yang jelas langkah dan pandangan mereka seperti masih memancarkan semangat pantang menyerah. Aku diam-diam memandanginya dari jauh, sampai mereka berbelok….

Ada sebuah rasa kecewa di hati, kecewa pada diri sendiri.

Sebuah penyesalan diam-diam. Ah…….Sepertinya sikapku tadi kurang menghargai. Mengapa aku tidak memberi mereka sedikit kesempatan untuk menyampaikan presentasinya yang katanya hanya sebentar saja itu? Duh rasa ini….sepertinya saya baru saja mematahkan sebuah semangat, memupuskan sebuah harapan, duh…….

Kucoba untuk berapologi dengan berbagai kalimat permakluman, untuk sekedar menghibur diri dan mengurangi rasa bersalah. Tapi rasa ini….mengapa masih saja kepedihan menggantung di hati? Rasa tak nyaman dengan apa yang telah kulakukan.

Bagaimana Tuhan akan peduli dan menjawab do,a-do,a ku sementara aku sendiri tak menyantuni orang yang datang padaku? Oh Tuhan….ampuni aku!

Memang benar bahwa aku tidak akan membeli produk yang ditawarkan itu. Bukan kerena tidak butuh, akan tetapi tidak ada alokasi dana untuk itu. Walau begitu mestinya aku bisa meluangkan sedikit waktu untuk mendengarkan presentasinya….

Tapi bukankah itu hanya akan membuang-buang waktunya dan memberinya harapan semu dan kemudian akan mengecewakannya karena aku tidak tertarik dengan barang yang ditawarkannya? Memang benar juga sih, tapi setidaknya aku bisa memilih kata-kata yang lebih bijak tanpa ksan meremehkan…..
Tapi bukankah saat itu sedang terburu-buru…?
Sebenarnya saya tidak dalam keadaan terburu-buru. Tidak ada pekerjaan yang sedang saya tangani. Saya hanya sedang menunggu senja. Dan keinginanku menikmati senja tidak ingin terganggu oleh hal lain.
Tapi bukankah kita memang seringkali seperti itu? Dalam sebuah dialog langsung kita tidak ada waktu untuk merencanakan dan menata kalimat seindah mungkin. Yang terungkap adalah apa yang ada di pikiranmu saat itu.

Justru itulah. Apa yang kita ucapkan adalah produk pikiran kita. Pada saat yang kita tentukan kita bisa menyusun kata-kata yang indah, tapi pada situasi khusus, otak kita dikuasai oleh alam bawah sadar kita.Seperti yang tadi terjadi. Rasanya ngeri juga melihat kenyataan diri  dari alam bawah sadarku.

Otakku menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk memperjuangkan ksejahteraan hidupnya, akan tetapi alam bawah sadarku menunjukkan bahwa aku kurang peduli terhadap orang lain.

Otakku menyatakan salut pada perjuangan dan kerja keras, pikiranku menyatakan salutnya akan semangat dan kerja pantang menyerah, tapi aku tidak memilih peran sebagai tangan Tuhan untuk mengasihi…..
Duh….

Dua bocah anak muda itu telah lama berlalu, tapi pancaran semangat itu masih menyisakan pedih di hati….
Lho kok? Bukankah seharusnya saya merasa tenang melihat mereka pergi masih dengan membawa semangatnya?
Ternyatalah bahwa kesedihanku bukan pada keharuanku demi melihat semangat perjuangan penuh semangat itu, tapi lebih pada kenyataan yang kutemukan ada pada diriku. Yah, keadaan singkat itu menjadi cermin yang telah memantulkan sebuah sisi lain yang selama ini samar (dan bahkan seringkali gagal) kulihat, kekurangpedulianku. Gambaran itu menunjukkan satu lagi identitas tentang siapa diriku.

Saya jadi teringat sebuah kalimat dari orang bijak
”….kemuliaan seseorang bukan dilihat dari tingkat keilmuannya, akan tetapi oleh kemampuan dan kemauannya untuk mencintai….”

Ah, kena deh gue. Yang selama ini suka bicara tentang kebaikan, tapi hati tak tergerak untuk melakukan. Malu…..!

Saya hanya bisa berdo’a diam-diam. Berdo’a semoga perjuangan itu berbalas kesuksesan. Berdo’a (diam-diam) agar bisa memperbaiki diri. Amin.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s