Cinta di ambang kandas……

Seberapapun dalam ia mempesona kita, selalu ada saat bagi kita untuk kecewa (guegituloh)

Sepertinya kini saatnya bagiku berhenti mencintai hujan. Walaupun saya yakin tak akan bisa berhenti terpesona olehnya, tapi peristiwa yang kualami ini tak urung berpengaruh juga dengan hasratku pada hujan. Bagaimana tidak, hujan yang begitu kukagumi itu kemarin telah menyambangiku dengan wajahnya yang sangar dan nyalang, meninggalkan jejak memilukan di kamarku.
Ya. Hujan deras kemarin mengguyur Bogor menyuguhkan gemuruh yang begitu erotis, hingga ketika sebuah petir menyambar tak sengaja saya menjerit; ”Wow kereeennnnn….”.

Dan ketika hujan agak mereda, saya pun buru-buru pulang, berharap di rumah masih ada hujan yang tersisa untuk kunikmati bersama secangkir teh atau kalau bisa untuk menemaniku menjalani malamku.
Saya tidak ingat betul sejak kapan saya jatuh cinta pada hujan. Tapi setiap kali hujan besar datang, saya selalu menikmati gemuruhnya. Entah mengapa gemuruh hujan selalu bisa menimbulkan berbagai kenangan. Gemuruh itu kadang membawaku pada deru angin yang mengantar samudera hindia mencumbu Pantai Samas dengan ganas di malam hari, dan kembali melembut di pagi hari. Gemuruh itu pula membawaku pada deru sungai yang membawa bebatuan menuruni lereng Merapi menyusuri sungai di belakang rumahku, waktu aku kecil dulu. Dan kami berteriak2 kegirangan setiap kali ada pokok kayu yang terseret terbawa arusnya. Dalam gemuruh hujan suara yang lain seperti hilang bersembunyi , seakan enggan berpacu dengan tetes-tetes air mendera bumi…untuk menjadikannya segar kembali. Nuansanya membuatku menyadari betapa Tuhan sungguh maha keren.
Saya tahu, pada suatu waktu, tempat dan kondisi tertentu hujan bisa merupakan sebuah bencana bagi sebagian orang. Ah, kasihan hujan yang selalu dipersalahkan, padahal manusialah yang telah menyakiti bumi hingga tak mampu menyerap tangisan para dewa itu.
Jadi kemarin sore saya urungkan niat mampir-mampir. Dari kantor saya langsung menuju rumah, ingin segera mandi, dan kemudian duduk-duduk meresapi gemuruh hujan. Tapi apa yang terjadi sesampai di rumah?
Kutemukan air menggenang di lantai. Dan ini bukan luapan air selokan seperti yang kadang terjadi ketika hujan besar, tetapi air guyuran dari atap. Kuamati di kamarku begitu memprihatinkan. Tikar mengambang. Busa tidur menjadi seperti air tawar yang terendam dalam segelas susu. Kardus penuh buku itu sobek-sobek, sepertinya air begitu deras mengguyur. Radio tape, pesawat telepon, setrikaan, dan semua yang ada di lantai basah kuyup. Komputer; stabilizer basah kuyup, CPU mukanya basah, Alhamdulillah monitornya gak basah, hanya tampak menggigil kedinginan. Beberapa lukisan yang belum selesai juga kena. Dan ternyata air hujan juga masuk kardek pakaian dan memfasilitasi pertukaran n perpindahan warna antar sesamanya ….alias saling melunturi. Duh….walaupun keragaman itu indah, tapi kenapa kalian harus saling berbagi warna sih….?
Dan jadilah kemarin sore menjadi saat kerja bakti bin kerja rodi dalam terang nyala lilin. Yah, menguras rumah dalam nyala lilin; begitu sempurna!
Menyendoki air dari lantai kamar, dapat 4 ember, lumayan…..
Mengeluarkan buku-buku yang basah kuyup, ugh dingin…..!
Mengeluarkan baju-baju basah bin luntur, fiuh……!
Mengepel lantai, meja, dan dinding, weh…….!
Mengelap n memindahkan komputer yang basah kuyup, hiks-hiks-hua-hua……….!

Dan jam 9 rasanya dah capek banget, dan baru sempet mandi dan langsung tidur bersama tumpukan barang di ruang tamu yang lebih kering. Sebuah tidur yang memprihatinkan, sampe-sampe gak sempat mimpi. Sedih.

Barangkali yang paling membuat saya sedih bukan kerepotan2 berberes-beres dan bersih-bersih itu, akan tetapi ketakutan akan kehilangan file-file di komputerku itu…..Kemarin, ketika membaca sebuah postingan teman di sebuah milis tentang kehilangan laptop itu, saya sudah bertekad untuk segera mengkopi simpana file2 ke USB atau CD. Karena saya juga pernah mengalami nasib tragis serupa. Tapi belum terlaksana niat itu…..dah keduluan kena guyuran air. Sampai saat ini saya belum berani menyentuh-nyentuh itu komputer, melihatnya saja rasanya trenyuh; sedih, pilu, harap, cemas. Biarlah dia kering dulu dengan sendirinya, sambil terus berharap semoga ia segera sembuh dan sehat kembali. Dan terlebih lagi; semoga file-file ku selamat…….Amin.

Dan memulai pagi ini, kami memanggil seorang tukang untuk sekedar melihat2 ada apa dengan atap rumah. Si tukang datang, dan menemukan beberapa barang di atap yang menyumbat saluran air.  Ada sikat gigi; kami gak pernah gosok gigi di atap. Ada lap; kami tidak pernah ngepel genting (ngepel lantai aja males…). Ada celana kolor; padahal kami tidak pernah mengibarkan celana untuk penolak hujan (saya kan penikmat hujan….). Ada beberapa barang lain yang jelas-jelas bukan kami yang taruh (kami gak bisa ngelempar ke atas, apalagi harus pake naik ke atap…..). So, barang-barang yang kami duga datang secara tidak sengaja dari tetangga yang rumahnya pada tingkat.

Sebenarnya pagi ini saya tak tahu harus mulai beres-beres dari mana. Tadinya saya berniat ijin tidk masuk kantor mau beres-beres rumah dulu. Tetapi keadaan begitu amburadul dan saya gak tahu harus mulai darimana. Dan daripada bengong bin sedih, hari ini saya tetap ke kantor. Mengerjakan pekerjaan rutin tapi sedikit-sedikit aja deh, biar bisa pulang lebih awal…… presipitasi 16 sampel DNA, biar besok bisa PCR dan elektroforesis. Selebihnya saya pake buat menuangkan kesedihan ini, sambil dengerin ”cinta putih” nya Kerispatih. ….

”Khianati……sebisa dirimu mengkhianati…..karena ku yakin kau kan memohon tuk kembali padaku lagi….”.

Sepertinya gak nyambung amat, tapi saya merasa pas dengan lagu ini. Mungkin suara sexy Sammi itu yang membuat kesedihan ini terasa begitu romantis……

Ugh…hujan lagi….!!!!!Hiks-hiks, woa-woa…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s