Dari Al Asr menuju masyarakat nyaman harmonis

Dari Al Asr

Surah yang begitu pendek, tapi begitu penuh arti. Beberapa waktu lalu saya mendengar penjelasan tafsir QS Al-Asr oleh Bpk M Qurais Shihab di radio DFM Jakarta. Sebagai penggemar surat pendek sedikit banyak ada yang sempat nyangkut di kepala dan hati saya….bahwa berangkat dari sebuah surat sependek itu….bisa terwujud peradaban yang diidamkan.

Dalam surah tersebut Allah bersumpah demi waktu, bahwa sebagian besar orang itu akan merugi, kecuali orang2 yang melakukan 4 hal berikut yaitu:

         beriman

         beramal sholeh

         saling bertawasul dalam kebenaran

         saling bertawasul dalam kesabaran

Ke-empat elemen ini ada saling keterkaitan dan menyeluruh. Jadi jika kita tidak ingin termasuk dalam golongan orang yang merugi, tidak hanya cukup dengan beriman saja, atau beramal saja, atau bertawashul saja. Atau hanya beriman dan beramal sholeh saja tanpa kemauan bertawashul.

Saya jadi tertarik tentang bertawashul ini. Bertawashul sering diartikan sebagai berwasiat atau saling nasihat menasihati. Ada interaksi timbal balik di sini. Ada kemauan untuk memberi dan kesediaan untuk menerima. Kita tidak bisa hanya menasihati, tapi kita juga musti mengambil nasihat. Kita tidak hanya memberi pengajaran dan pengetahuan atau sekedar informasi dari orang lain, tapi hendaknya kita juga bisa belajar dari kebijakan dan pengalaman orang lain. Allah sangat menganjurkan amal sholeh ini. Konsep nilai ini selain dinyatakan begitu jelasnya dalam surat yang begitu pendek, juga banyak tersebar dalam surah-surah lain dalam Al-Qur’an.

Bertawashul adalah salah satu bentuk kepedulian antar sesama manusia. Sebuah nasihat diberikan sebagai masukan agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan, agar sesuatu berjalan seperti yang diharapkan. Manusia diperintahkan agar bertawashul dalam (dan mengenai) kebenaran dan kesabaran. Amalan ini sejalan dengan anjuran Rasulullah  Muhammad agar kita menyampaikan pengetahuan atau ilmu, walaupun hanya satu ayat. Seberapa kecil pun yang kita berikan, sebuah informasi atau ilmu atau pengetahuan yang baik akan turut menyokong terbntuknya pradaban yang diridhai.

 

Tentang keengganan bertawashul

Terkadang kita enggan untuk berbagi (informasi, pengetahuan, nasihat, ilmu) dengan orang lain. Keengganan bisa jadi dikarenakan oleh beberapa hal.

  1. Kadang kita tidak suka melihat keberhasilan orang lain (ada orang yang suka melihat orang lain salah, gagal, terpuruk, dan hancur à untuk kemudian dia bisa mengasihani – bukan mengasihi –  ).
  2. Keengganan bisa juga dikarenakan kita tidak siap untuk mendapatkan respon yang tidak kita kehendaki. Tidak semua orang bisa dengan tangan terbuka mengerti dan menerima perkara yang kita tawashulkan. Karena rupanya yang namanya nasihat itu bersaudara dekat dengan kritik dan saran, dua hal yang lebih sering berasa pahit daripada manisnya. Saya pikir kita butuh sebuah metode tertentu berupa upaya penghapusan kesan2 menghakimi, menceramahi dan menggurui, agar sebuah nasihat atau nilai2 kebaikan dapat diterima dengan nyaman. Kapan-kapan akan saya tulis beberapa metode yang ada di kepala saya (soalnya saya juga kadang eh   …sering eneg kalo mendengar ceramah yang agak2 menghakimi n menggurui gitu….:D).
  3. Di lain pihak keengganan ini juga bisa dikarenakan kita tidak ingin dianggap mencampuri urusan orang lain. Tentang ini sepertinya kita harus bisa memilah dan memberi batasan mengenai hal-hal apa yang dibutuhkan dan yang baik bagi orang tersebut. Ketepatan waktu juga dibutuhkan. Orang yang sedang gagal (seperti juga kita), lebih membutuhkan pengertian dan hiburan daripada setumpuk nasihat.
  4. Barangkali yang lebih sering melatarbelakangi keengganan ini adalah dikarenakan kita tidak punya kepentingan dengan hal yang akan kita nasihatkan ataupun dengan orang yang akan kita nasihati. Kesibukan manusia dalam menjalani hidupnya (baca: mencari uang untuk kelangsungan hidupnya), telah begitu menyita waktu dan jiwa raganya sehingga ia harus melakukan aktivitas yang ‘penting-penting’ saja. Dan apa yang dianggap penting adalah yang bisa meningkatkan kehidupannya (biasanya secara materi). Hal-hal yang diluar dirinya menjadi tidak penting. …..Ah, seandainya setiap kita sadar bahwa masing-masing kita mempunyai sebuah kepentingan bersama yang bersifat universal yaitu peradaban yang indah dan diridhai……

Bertawashul untuk kita-kita juga

Saat ini bertawashul yang merupakan amalan yang sangat dianjurkan ini tampak tergeletak tak berdaya. Karena kadang kita berfikir bahwa untuk menjadi orang yang ‘diselamatkan’ cukuplah dengan menjadi diri yang baik, tanpa perlu mencampuri urusan orang lain, tanpa perlu mempedulikan kekurangan orang lain. Kita merasa cukup dengan menjadi (merasa menjadi) orang baik, taat dan lurus, dan menutup mata terhadap orang lain asal kita tidak terganggu (‘ terserah lo mau berbuat serusak apapun, asal jangan ganggu gue!). Paradigma berfikir individualis membawa kita untuk saling cuek, yang terpenting adalah kita urus diri kita sendiri, dan biarkan orang lain urus diri mereka sendiri. Mungkin ada saja yang berani mengatakan bahwa ia bisa bahagia tanpa harus melibatkan diri pada kepedulian pada orang lain. Bisa jadi kita mampu menciptakan dunia kecil dalam lingkup sempit kita yang kita rekayaasa untuk memberikan kesenangan pada kita. Pada tingkatan tertentu keadaan demikian mungkin bisa membuat kita senang dan cukup bahagia. Akan tetapi sejauh manakah kita bisa cukup berbahagia, di tengah coreng moreng wajah peradaban kita? Masih adanya rasa takut, sedih dan khawatir menunjukkan bahwa kepuasan semu yang (mungkin) kita peroleh itu ternyata belumlah cukup. Kita baru akan merasa benar-benar bahagia ketika kegembiraan kita dilengkapi dengan rasa aman damai dan kasih di sekitar kita. Dan kondisi yang demikian itulah yang kita ditugaskan untuk mewujudkannya. Jadi rupanya tugas kekhalifahan manusia sebagai wakil Tuhan untuk memakmurkan bumi ini merupakan sesuatu yang fitri dan inheren dalam diri kita. Ada sebuah harmoni antara instink pencarian kebahagiaan yang sejati dengan misi kehadiran kita di dunia ini. Ini mengingatkan tentang peran manusia sebagai makhluk sempurna yang diberi kewenangan untuk memakmurkan bumi. Misi kita untuk memakmurkan bumi ini kita jabarkan menjadi bentuk tanggungjawab moral dan social, bukan sekedar aktivitas ritual. Di situ ada berbagi, ada peduli, dan masih banyak lagi. Di situ juga ada tugas untuk mengingatkan. Bisa melalui kritik dan saran yang disampaikan dengan kasih sayang.

Kebutuhan akan kesalihan sosial dan bukan sekedar kesalihan ritual (meminjam istilah dari Jalaluddin Rahmat) … mengingatkan kita bahwa; 

– Bahwa selain sholat kita juga harus berzakat,

– Bahwa selain berhaji kita juga wajib menyantuni 

– Bahwa hidup bukanlah sekedar rangkaian usaha mencapai kepuasan diri mewujudkan mimpi, akan tetapi juga merupakan rangkaian sikap peduli, upaya dan aksi untuk menciptakan sebuah bentuk peradaban yang diridhai.  Dan masih banyak bahwa yang lain, yang kalau kita renungi dan kita asyiki membuat hidup kita terasa semakin indah dan bermakna. Tetapi seperti di ungkapkan di atas bahwa antar peran tersebut ada keterkaitan, ada kesatuan. Dan peran bertawashul inipun tidak berdiri sendiri. Bertawashul harus dalam kerangka kebenaran dan kesabaran. Bertawashul dalam mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran. Bertawashul untuk menjadi pribadi2 yang sabar. Dan keduanya ditempuh dengan cara yang benar dan dengan penuh kesabaran. Dengan cinta dan kasih sayang.Wis ah, cerewet amat. Singkat aja, semoga Allah selalu memberkati kita untuk bisa turut bertawashul dalam kebenaran dan kesabaran, semoga kita termasuk orang2 yang beruntung. Amin.  

 

* sebuah pringatan kepada para penggemar surat pendek; jangan dikira kalo milih surat2 yg pendek2 konsekuensinya juga ringan ya……… (capek deh!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s