Aku, air mata, dan tangis

Antara Aku, Airmata dan Tangis

‘Seberapapun kita memutuskan untuk berdiri tegar, selalu ada cara Tuhan untuk membuat kita menangis’ (guegitudeh) Kupikir tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin diposisikan menangis. Kecuali seorang artis yang dibayar untuk itu, tentunya. Bahkan mungkin seorang perayu atau sorang oknum si ‘mata buaya’ pun mungkin akan memilih cara lain untuk mendapatkan yang diinginkannya. Kita ingin selalu berada dalam keadaan tertawa dan tersenyum bahagia. Yah paling tidak posisi bibir mendatar lah, tapi jangan sampai ujung bibir melorot ke bawah. Karena ujung bibir yang melengkung ke bawah berkorelasi signifikan dengan mata yang basah. Oleh air mata, tentu saja.

Dari air mata yang keluar, tanpa peduli berapa volume air yang tercurah, manusia selalu menamakan itu sebagai tangis. Walaupun air mata seperti itu bisa muncul kapan saja, oleh apa saja:

Saat terharu.

Saat sedih.

Saat marah.

Saat bahagia.

Saat merasa teraniaya.

Saat melihat ketidak adilan dan….

Saat suasana hati yang kita sendiri tak bisa mendefinisikannya.

Dalam kehidupan ini air mata mempunyai beragam makna. Tapi menurutku ada sebuah makna yang paling dominant. Yaitu sebagai bentuk kalimat aktif dari suatu kondisi dimana seseorang mengeluarkan deritanya. Itu bisa berupa jeritan, raungan, sedu sedan ataupun sekedar isak. Dalam konotasi menangis ini ada kcenderungan seseorang melakukan sesuatu (yaitu menangis itu), yang merupakan ekspresi di luar kendali dari kata hati yang tidak nyaman.

Mengacu pada term made in myself itu, setiap air mata yang keluar tidak selalu kunamai tangis. (Saat terharu, saat prihatin, saat bahagia, saat marah, saat tertawa terpingkal2, ….banyak saat2 lain kita mengeluarkan air mata, tapi bukan tangis).

Antara air mata dan diriku sudah begitu amat akrabnya. Aku sendiri tak ingin mengakrabinya, tapi rupanya si air mata itu selalu merindui kebersamaan denganku. Dalam banyak suasana. Begitu banyak jalan untuk menjadi sebuah tangis.

Kadangkala aku merasa oke2 saja. Tapi tak jarang aku merasa terganggu olehnya. Itu trutama saat aku berada pada posisi yang begitu lemah.  

Tentang posisi lemahku

Sebenarnya aku merasa otak kiriku cukup berkembang. Jadi mustinya aku bisa mengeset pengeluaran air mata ini dan mengharmonikan dengan logika yang kudapatkan. Pada banyak hal aku cukup bisa meng-ignore berbagai bentuk kesedihan, kekecewaan ataupun kemarahan.

Bahwa apa yang ada di hadapanku pada suatu titik waktu hanyalah sbuah garis episode yang tak terelakkan, yang slalu terjadi pada siapapun, dan hanyalah sebuah garis strip dari perjalanan panjang kehidupanku.

Logikaku telah menemukan solusi. But apa yang terjadi kemudian…?

Air mataku sungguh tak bisa diajak kompromi.

Aku ingin bisa tampil apa adanya. Bahwa aku telah memutuskan untuk bisa bertahan dan bisa tetap bergairah dan bersuka cita dalam kondisi apapun. Tapi memang air mataku tak pernah mau mensupport keputusanku.

Seringkali aku merasa sedih akan air mataku. Kalau orang sering mengeluarkan air mata saat sedih, aku lebih sering sedih karena air mata yang tak terbendung.

Sangat sering, saat aku sudah bisa menerima keadaan yang meliputiku, aku sudah bisa berkompromi dengan kenyataan, saat itu aku ingin hal2 berjalan normal dan wajar seperti biasa, aku sudah bertekad untuk tetap bertahan dan berteriak …

“ I’ll survive..!!Yeah!!”.

Kemudian tiba2 alam memutuskan posisiku harus begitu jelas terpapar agar semua melihat ketakberdayaanku.

Semua mata tertuju pada ketakberdayaanku, memandangku dengan pandangan yang begitu ngilu. Penuh belas kasihan, seperti melihat seekor cacing kepanasan yang menggeliat mencari-cari perlindungan.

Ada yang menyalahkan kenapa seekor cacing keluar dari tanah di hari yang begitu panas, ada yang memilih untuk tidak melihat karena tidak tega, tapi ada juga yang terpaksa harus melihat (tidak bisa menghindar) dan kemudian bersimpati dengan kata-kata yang menghibur; bahwa sinar matahari akan membuat tubuhnya lebih kuat, atau ketika sic acing terpotong-potong ia akan berkata bahwa itu sebuah berkah, karena setiap remah adalah calon pribadi yang utuh.

Ah….semua semakin memantapkan posisiku pada titik yang begitu lemah.

Sepertinya alam tak rela kalau saya bisa bertahan menghadapi badai emosi dan cobaan hidup ini. Sepertinya alam memaksa untuk melihatku terkapar terkulai dan hancur remuk.

Kadang, sering, aku protes dalam hati atas kondisi ini. Tak jarang diragukan oleh pertanyaan; why?

Apakah otakku begitu berdosa sehingga alam memberiku dera siksa seperti ini?

Rasanya seperti Salome, anak herodes-Hrodiah yang dicuekin Tuhan walopun telah berhari2 bermalam2 berputar2 bertelanjang sambil menenteng penggalan kepala Yahya pembabtis (Godlob, sebuah kumpulan cerpen Danarto, 1970an kali…).

Seperti perempuan Moric yang disepelekan oleh sang guru dan ditempatkan di bawah para pemujanya (Perempuan Moric, gue;2000-an).

 

Ah, gak segitunya kaleeeee…..

Berdamai dengan air mata

Mungkin ada yang bertanya: apa salahnya kalo posisi lemah kita terekpos?

Apa salahnya kalo kita ketahuan sedang berada dalam keadaan lemah, papa dan wajib disantuni? Apa salahnya kalo orang melihat kita sedang terisak-isak tergugu-gugu dalam tangis?

Bukankah hal itu merupakan jalan bagi orang untuk membantu kita?

Bukankah setiap manusia pasti mengalami episode ini? Bukankah itu membuka peluang bagi kita untuk membiarkan orang lain ikut mnyangga beban kita?

Bukankah eksistensi manusia dilihat ketika kita berada di antara manusia lain?

Bukankah….?.

….?

Yup, aku sadar itu semua.

Bahwa tidak ada salahnya kita ditempatkan pada posisi lemah.

Karena Tuhan pasti punya alasan untuk itu. Bahwa manusia tidak akan dikatakan teruji tanpa adanya ujian itu sendiri.

Bahwa mutiara menjadi indah oleh gesekan yang menyakitkan, nahkoda menjadi hebat oleh badai ombak, dan manusia menjadi bijak oleh pergesekan dengan orang lain.Bahwa segala rasa sedih bahagia cinta benci adalah warna kehidupan jiwa.

Bahwa bahagia hanya bisa dinikmati oleh orang yang pernah ditimpa sedih.

Sure!, Gue sadar.

Kadang tahu tapi gak sadar. Kadang pula….sadar tapi gak mau tahu, hihi!

Ah sepertinya memang benar bahwa Tuhan akan selalu menyediakan fenomena bagi manusia untuk setiap tahapan pencapain dan pemaknaan hidup ini: untuk dipelajari, untuk dihayati, untuk dinikmati, untuk dihadapi.

Kehidupan: terkadang begitu rumit, terkadang begitu sederhana, terkadang begitu berliku, terkadang begitu lapang bebas melenggang, terkadang begitu pelik, terkadang terasa asyik.

Apapun yang disajikan oleh Tuhan semata adalah sebagai sarana bagi kita untuk bersekolah, untuk kita bertumbuh, untuk kita mekar.

Ah, betapa menjadi manusia adalah sungguh sebuah peran yang begitu menggoda, menantang dan mnggairahkan, walaupun selalu ada episode dimana kita letih dan bosan dan ingin istirah barang sejenak. 

Jadi biarlah air mataku mengalir. Kurelakan saja, karena toh hanya itu yang ku mampu.

Biarlah ia mengalir mmbasahi pipi, jatuh menembus tanah,  meresap hingga ke jantung bumi, untuk kemudian muncul menjadi sungai, yang akan kembali mengalir menyusuri segenap lekuk-lekuk ukiran alam, memberi segar pada segenap kehidupan.

Yah, tangisku adalah tangis kehidupan. Tak ada yang tak berguna dari sbuah cinta dan keridhaan. 

Menangis itu sexy

* Ah saya jadi pingin cepet nyelesaikan lukisanku yang berjudul “By the River Ciliwung I (want to) Sat and Wept.

Sebuah kombinasi antara kegelisahanku, meminjam romantismenya Paulho Coelho dan ketegaran pokok-pokok kayu di tepian sungai Ciliwung di Kebun Raya Bogor. Judul ini sudah kubikin duluan sejak kemarin2, sebelum aku beli kanvasnya. Sekarang kanvas dah ada, tapi gak sempet2……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s