Memandang Eksklusivitas Aktivis Dakwah

EKSKLUSIVITAS AKTIVIS DAHWAH: Sebuah Goresan Warna dalam Lukisan Semesta.

“Setiap manusia mempunyai tugas untuk ikut membangun kehidupan yang penuh cinta, kasih sayang, damai dan harmoni dalam ridha Ilahi… Tapi setiap kita punya cara sendiri-sendiri dalam melakukannya….” 

            Maraknya budaya arus modernitas yang melingkupi kita ternyata juga diwarnai oleh berbagai krisis global dan multidimensional. Manusia sebagai komponen masyarakat juga telah dilanda krisis kemanusiaan yang ditandai dengan berbagai penyakit psikologis .Depresi, stress, alienasi (keterasingan), keretakan hubungan sosial dan sebagainya . Dan krisis dalam diri manusia memotori berbagai krisis yang lain yang membawa kita pada situasi sarat dengan terror, konflik dan kekerasan yang menyebabkan rasa ketakutan dan ketaknyamanan psikologis. Akar dari segala permasalahan ini ada pada manusia yang telah meninggalkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Tuhan. Yang bisa menyembuhkan adalah kita sendiri dengan melakukan pembenahan mendasar pada diri manusia sebagai komponen yang mengaku paling tinggi tingkatannya sebagai makhluk Tuhan dan menjadi wakilNya untuk memakmurkan bumi. Sekarang dunia sakit, masyarakat dan bumi kita sakit. Dunia butuh penanganan, cinta dan kepedulian kita.Dunia menantikan lahirnya komunitas yang mampu memotori  terjadinya kebangkitan nilai Islam pada semua aspek kehidupan untuk mengubah kondisi serba krisis ke pada kondisi yang penuh cinta, kasih sayang, damai dan harmoni dalam ridha Ilahi. Kehadiran para aktivis dakwah dengan komitmen seperti ini dapat memberikan harapan baru bagi masyarakat. Dakwah menjadi kewajiban setiap muslim dimanapun dan kapanpun. Sebenarnya setiap upaya dan aktivitas yang dilandasi pada   komitmen terhadap nilai kebenaran dan kebaikan adalah dakwah. Siapapun dapat berdakwah. Tetapi mengapa ketika kita bicara tentang aktivis dakwah sering kali yang terekam adalah sosok-sosok eksklusif dengan ciri-cirinya yang khas. Perempuan berkerudung besar warna gelap dan lelaki berjenggot dan celana menggantung? Apakah seorang aktivis dakwah memang harus tampil seperti itu? Apakah sosok seperti itu yang dikehendaki masyarakat untuk mengadakan perubahan? Apakah penampilan seperti itu sesuai dengan kondisi masyarakat kita? Dan seberapa jauhkah hal semacam itu mesti dipermasalahkan?Kehadiran aktivis dakwah Islam dengan berbagai ciri spesifiknya adalah sebuah warna tersendiri. Ketika banyak pihak memandang dan menyorot penampilannya sebenarnya  lebih diarahkan pada hal-hal yang melatarbelakanginya: mengapa begitu? Kok begitu? Ada apa denganmu? Dan hal-hal demikian adalah sesuatu yang wajar dan sah. Ada yang menganggap kehadiran aktivis dakwah dengan penampilannya tidak relevan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat, sementara kalangan aktivis dakwah memandang penampilan warga masyarakat harus dibenahi dan sesuai dengan keyakinan mereka.Masyarakat kita sangat beragam. Penuh warna sarat perbedaan. Masyarakat tumbuh, selalu bergerak dan berubah. Membentuk dan dibentuk, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang sangat komplek. Pendidikan, ekonomi, social budaya, adat dan lain-lain. Ketika kemudian terdapat persoalan dominasi dan marginalisasi itupun tak lepas dari pargerakan dinamika masyarakat. Kehadiran aktivis dakwah Islam dengan berbagai ciri spesifiknya ini adalah sebuah warna tersendiri yang ikut mewarnai dunia dengan berbagai aktivitasnya. Sebuah warna yang muncul diantara dan di dalam masyarakat kita yang sangat beragam. Agama Islam mengajarkan cara berpakaian dan berpenampilan yang pantas, yang menutup aurat dan mampu melindungi tubuh. Banyak pendapat mengenai hal ini: mengenai tingkat kepantasan dan ke-menutup aurat-an pakaian dan penampilan ini. Para aktivis dakwah mencoba mengusung kembali cara berpakaian dan berpenampilan seperti yang dilakukan pada jaman Rasulullah yang dianggap sebagai representasi dari penampilan yang dituntunkan. Ada yang menerimanya sebagai kewajiban yang harus diikuti tetapi adapula yang menganggapnya sebatas sebagai sebuah contoh alternatif, dan kemudian memakainya semata-mata sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah dan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Eklusivitas para aktivis dakwah adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipermasalahkan. Mereka punya keyakinan, punya pemikiran dan kecenderungan sendiri. Yang menjadi masalah adalah ketika (dibaca apabila, dan semoga saya tidak dipandang menuduh) mereka menganggap keyakinan itu sebagai kebenaran absolut yang tertutup dari berbagai pandangan yang berbeda. Hal itu akan membawa pada sikap benar sendiri, pengkafiran atas orang lain, dan berbagai sikap dan tindak lain yang menunjukkan pemerkosaan terhadap kebenaran dan …. Tuhan!!!. Agama tidak lagi dipandang sebagai jalan menuju Tuhan. Tetapi bahkan sejengkal kebenaran (atau yang dianggap kebenaran) telah diposisikan sebagai Tuhan itu sendiri. Hal semacam itu yang sering menimbulkan pertentangan  dan perselisihan. Kekerasan, pertikaian, permusuhan….semua atas nama Tuhan!Setiap manusia sebagai komponen masyarakat mempunyai unisitasnya sendiri-sendiri. Secara individual setiap individu mempunyai pemahaman, pemikiran dan tingkat pengertian yang berbeda-beda. Dan menjalani proses belajarnya sendiri-sendiri dengan kerja otak kanan otak kiri dan instuisinya dan dipengaruhi oleh tingkat emosi dan kedewasaannya. Eklusivitas para aktivis dakwah adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Begitu pula dengan pola pandang masyarakat yang merasa ‘aneh’ dan ‘asing’. Semua tak lepas dari dinamika kehidupan masyarakat. Keberagaman manusia dan masyarakatnya adalah realitas yang alami dan hendaknya disikapi sebagai wujud kemahaluasan dan ke-Maha besar-an Tuhan. Realitas masyarakat seperti inilah yang ada dan kita hadapi, yang kita berdiri di dalamnya.Juga ketika saya mencoba menuangkan pendapat dalam tulisan inipun tidak terlepas dari sekedar sebuah ungkapan seorang yang dipengaruhi oleh kompleksitas social-budaya, selain tingkat dan jarak perjalanan yang senantiasa bergerak dan berubah, sehingga tidak harus dianggap sebagai suatu sikap keberpihakan kepada siapapun, apalagi sikap menggurui. Ini hanyalah sekedar sapaan dari setarik helaan nafas dalam kejidupan seorang manusia yang mungkin otak kirinya kurang cemerlang dan lebih banyak dikendalikan oleh syaraf emosional di otak kanan sehingga kurang bisa memahami logika berfikir para aktivis, dan lebih mudah tergugah dan tergerak oleh fragmen kehidupan yang terpapar  membentang di sekitar saya. Eksklusivisme aktivis dakwah bagi saya adalah hal yang wajar dan biasa saja. Saya sangat menghargai mereka (walaupun saya tidak menganggap penamilan dan eksklusivitas mereka sebagai ikon dan patokan kesalehan). Dan penilaian saya lebih pada sikap dan aksi yang dilakukannya ketimbang penampilannya. Kalau kadang-kadang terjadi pertentangan pendapat dan pertarungan emosi, dan dikali lain  kita merasa nyaman dan disejukkan, itu saya piker lebih pada model hubungan personalitas yang kita bangun. Dan hal semacam itu wajar dalam sebuah perjalanan.Semestinya kita bisa lebih terbuka menerima segala perbedaan. Kita hargai eksklusivisme aktivis dakwah, tetapi perlu juga juga dibangun pengertian di kalangan aktivis mengenai realitas keberagaman masyarakat. Mungkin kemudian bisa jadi timbul pertanyaan: kalau keberagaman masyarakat diterima apa adanya lalu dimana eksistensi dakwah itu sendiri? Bukankah dakwah adalah mengubah keburukan menjadi kebaikan? Meluruskan yang salah? Mengajak pada jalan kebenaran? Islam begitu sangat luas. Setiap orang mencoba menyelami keluasan ini. Sepanjang hidup kita.  Dakwah adalah bagaimana kita mampu mengusung nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Kondisi masyarakat yang beragam menuntut pengertian dan pendekatan yang berbeda-beda. Untuk dapat diterima Islam harus menampilkan wajah yang lebih hangat dan dengan tersenyum menyapa keberagaman realitas sosial. Dakwah adalah upaya mengajak kepada ridha Allah, dan dakwah bukanlah Tuhan itu sendiri, jadi tidak pantas kita menyombongkan dan membenarkan jalan kita sendiri dan mengkafirkan orang lain.  Allah. Maha kaya. Maha besar. Maha kuasa. Maha luas  tanpa batas. Maha segala melintas kata. Penuh seluruh. Allah membimbing manusia dengan kuasanya. Dan Allah maha luas sehingga banyak pintu menuju-Nya. Setiap orang bisa jadi mendapatkan petunjuk sesuai dengan kondisinya, dan siapapun tidak berhak mengklaim sebagai pemilik kebenaran yang absolut. Penerimaan kita terhadap perbedaan dan keberagaman adalah wujud kesadaran dan pengakuan kita akan ke-maha luasan-Nya. Rasa benar sendiri dan klaim kesesatan terhadap pihak lain justru menampakkan usahanya memperkosa kebenaran itu sendiri. Setiap orang akan melakukan aktivitasnya sesuai dengan keyakinannya, dan tak ada seorangpun berhak memaksakan dominasi keberadaannya. Karena setiap orang itu unik, mempunyai komposisi yang khas, salah satu bukti ke mahaluasan Allah yang tak mungkin kita hindari. Sudah selayaknya kita bisa saling menerima dan saling menghargai. Biarlah Allah tunjukkan segenap sisinya yang berbeda-beda dan masing-masing kita pun akan melihatnya sebagai realitas yang berbeda-beda pula. Dan kehadiran aktivis dakwah dengan eksklusivitasnya pun tak lain adalah juga merupakan bentuk keberagaman masyarakat itu sendiri. Ia adalah sebuah goresan warna dari sebuah lukisan alam mahakarya Yang Maha Kuasa.  

Sudah saatnya kita bisa bergerak lebih ke-depan, dari sekedar mempersoalkan masalah yang tidak urgen. Jangan sampai kita terjebak pada problematika tekstual dan mengabaikan problematika sosial yang akut yang melingkupi kita. Jangan sampai kita terkurung dalam formalitas agama dan melupakan misi utamanya untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Semoga kita dapat selalu berkiblat pada nilai Islam yang mewujud pada keadilan, kebenaran, kebersamaan, tolenransi dan mampu menyatu dalam keberagaman. Yang merupaka sintesa dari kebenaran, damai, cinta kasih, dan kekuatan kehidupan. Dan semoga kita tidak terjebak dalam tradisi-tradisi keagamaan sebagai sekadar bentuk institusi/organisasi, yang cenderung bersifat eksklusif, dogmatis, eksoteris dan sectarian.

 

 

Maraknya budaya arus modernitas yang melingkupi kita ternyata juga diwarnai oleh berbagai krisis global dan multidimensional. Manusia sebagai komponen masyarakat juga telah dilanda krisis kemanusiaan yang ditandai dengan berbagai penyakit psikologis .Depresi, stress, alienasi (keterasingan), keretakan hubungan sosial dan sebagainya . Dan krisis dalam diri manusia memotori berbagai krisis yang lain yang membawa kita pada situasi sarat dengan terror, konflik dan kekerasan yang menyebabkan rasa ketakutan dan ketaknyamanan psikologis. Akar dari segala permasalahan ini ada pada manusia yang telah meninggalkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Tuhan. Yang bisa menyembuhkan adalah kita sendiri dengan melakukan pembenahan mendasar pada diri manusia sebagai komponen yang mengaku paling tinggi tingkatannya sebagai makhluk Tuhan dan menjadi wakilNya untuk memakmurkan bumi. Sekarang dunia sakit, masyarakat dan bumi kita sakit. Dunia butuh penanganan, cinta dan kepedulian kita.

Dunia menantikan lahirnya komunitas yang mampu memotori  terjadinya kebangkitan nilai Islam pada semua aspek kehidupan untuk mengubah kondisi serba krisis ke pada kondisi yang penuh cinta, kasih sayang, damai dan harmoni dalam ridha Ilahi. Kehadiran para aktivis dakwah dengan komitmen seperti ini dapat memberikan harapan baru bagi masyarakat. Dakwah menjadi kewajiban setiap muslim dimanapun dan kapanpun. Sebenarnya setiap upaya dan aktivitas yang dilandasi pada   komitmen terhadap nilai kebenaran dan kebaikan adalah dakwah. Siapapun dapat berdakwah. Tetapi mengapa ketika kita bicara tentang aktivis dakwah sering kali yang terekam adalah sosok-sosok eksklusif dengan ciri-cirinya yang khas. Perempuan berkerudung besar warna gelap dan lelaki berjenggot dan celana menggantung? Apakah seorang aktivis dakwah memang harus tampil seperti itu? Apakah sosok seperti itu yang dikehendaki masyarakat untuk mengadakan perubahan? Apakah penampilan seperti itu sesuai dengan kondisi masyarakat kita? Dan seberapa jauhkah hal semacam itu mesti dipermasalahkan?Kehadiran aktivis dakwah Islam dengan berbagai ciri spesifiknya adalah sebuah warna tersendiri. Ketika banyak pihak memandang dan menyorot penampilannya sebenarnya  lebih diarahkan pada hal-hal yang melatarbelakanginya: mengapa begitu? Kok begitu? Ada apa denganmu? Dan hal-hal demikian adalah sesuatu yang wajar dan sah. Ada yang menganggap kehadiran aktivis dakwah dengan penampilannya tidak relevan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat, sementara kalangan aktivis dakwah memandang penampilan warga masyarakat harus dibenahi dan sesuai dengan keyakinan mereka.Masyarakat kita sangat beragam. Penuh warna sarat perbedaan. Masyarakat tumbuh, selalu bergerak dan berubah. Membentuk dan dibentuk, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang sangat komplek. Pendidikan, ekonomi, social budaya, adat dan lain-lain. Ketika kemudian terdapat persoalan dominasi dan marginalisasi itupun tak lepas dari pargerakan dinamika masyarakat. Kehadiran aktivis dakwah Islam dengan berbagai ciri spesifiknya ini adalah sebuah warna tersendiri yang ikut mewarnai dunia dengan berbagai aktivitasnya. Sebuah warna yang muncul diantara dan di dalam masyarakat kita yang sangat beragam. Agama Islam mengajarkan cara berpakaian dan berpenampilan yang pantas, yang menutup aurat dan mampu melindungi tubuh. Banyak pendapat mengenai hal ini: mengenai tingkat kepantasan dan ke-menutup aurat-an pakaian dan penampilan ini. Para aktivis dakwah mencoba mengusung kembali cara berpakaian dan berpenampilan seperti yang dilakukan pada jaman Rasulullah yang dianggap sebagai representasi dari penampilan yang dituntunkan. Ada yang menerimanya sebagai kewajiban yang harus diikuti tetapi adapula yang menganggapnya sebatas sebagai sebuah contoh alternatif, dan kemudian memakainya semata-mata sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah dan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Eklusivitas para aktivis dakwah adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipermasalahkan. Mereka punya keyakinan, punya pemikiran dan kecenderungan sendiri. Yang menjadi masalah adalah ketika (dibaca apabila, dan semoga saya tidak dipandang menuduh) mereka menganggap keyakinan itu sebagai kebenaran absolut yang tertutup dari berbagai pandangan yang berbeda. Hal itu akan membawa pada sikap benar sendiri, pengkafiran atas orang lain, dan berbagai sikap dan tindak lain yang menunjukkan pemerkosaan terhadap kebenaran dan …. Tuhan!!!. Agama tidak lagi dipandang sebagai jalan menuju Tuhan. Tetapi bahkan sejengkal kebenaran (atau yang dianggap kebenaran) telah diposisikan sebagai Tuhan itu sendiri. Hal semacam itu yang sering menimbulkan pertentangan  dan perselisihan. Kekerasan, pertikaian, permusuhan….semua atas nama Tuhan!Setiap manusia sebagai komponen masyarakat mempunyai unisitasnya sendiri-sendiri. Secara individual setiap individu mempunyai pemahaman, pemikiran dan tingkat pengertian yang berbeda-beda. Dan menjalani proses belajarnya sendiri-sendiri dengan kerja otak kanan otak kiri dan instuisinya dan dipengaruhi oleh tingkat emosi dan kedewasaannya. Eklusivitas para aktivis dakwah adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Begitu pula dengan pola pandang masyarakat yang merasa ‘aneh’ dan ‘asing’. Semua tak lepas dari dinamika kehidupan masyarakat. Keberagaman manusia dan masyarakatnya adalah realitas yang alami dan hendaknya disikapi sebagai wujud kemahaluasan dan ke-Maha besar-an Tuhan. Realitas masyarakat seperti inilah yang ada dan kita hadapi, yang kita berdiri di dalamnya.Juga ketika saya mencoba menuangkan pendapat dalam tulisan inipun tidak terlepas dari sekedar sebuah ungkapan seorang yang dipengaruhi oleh kompleksitas social-budaya, selain tingkat dan jarak perjalanan yang senantiasa bergerak dan berubah, sehingga tidak harus dianggap sebagai suatu sikap keberpihakan kepada siapapun, apalagi sikap menggurui. Ini hanyalah sekedar sapaan dari setarik helaan nafas dalam kejidupan seorang manusia yang mungkin otak kirinya kurang cemerlang dan lebih banyak dikendalikan oleh syaraf emosional di otak kanan sehingga kurang bisa memahami logika berfikir para aktivis, dan lebih mudah tergugah dan tergerak oleh fragmen kehidupan yang terpapar  membentang di sekitar saya. Eksklusivisme aktivis dakwah bagi saya adalah hal yang wajar dan biasa saja. Saya sangat menghargai mereka (walaupun saya tidak menganggap penamilan dan eksklusivitas mereka sebagai ikon dan patokan kesalehan). Dan penilaian saya lebih pada sikap dan aksi yang dilakukannya ketimbang penampilannya. Kalau kadang-kadang terjadi pertentangan pendapat dan pertarungan emosi, dan dikali lain  kita merasa nyaman dan disejukkan, itu saya piker lebih pada model hubungan personalitas yang kita bangun. Dan hal semacam itu wajar dalam sebuah perjalanan.Semestinya kita bisa lebih terbuka menerima segala perbedaan. Kita hargai eksklusivisme aktivis dakwah, tetapi perlu juga juga dibangun pengertian di kalangan aktivis mengenai realitas keberagaman masyarakat. Mungkin kemudian bisa jadi timbul pertanyaan: kalau keberagaman masyarakat diterima apa adanya lalu dimana eksistensi dakwah itu sendiri? Bukankah dakwah adalah mengubah keburukan menjadi kebaikan? Meluruskan yang salah? Mengajak pada jalan kebenaran? Islam begitu sangat luas. Setiap orang mencoba menyelami keluasan ini. Sepanjang hidup kita.  Dakwah adalah bagaimana kita mampu mengusung nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Kondisi masyarakat yang beragam menuntut pengertian dan pendekatan yang berbeda-beda. Untuk dapat diterima Islam harus menampilkan wajah yang lebih hangat dan dengan tersenyum menyapa keberagaman realitas sosial. Dakwah adalah upaya mengajak kepada ridha Allah, dan dakwah bukanlah Tuhan itu sendiri, jadi tidak pantas kita menyombongkan dan membenarkan jalan kita sendiri dan mengkafirkan orang lain.  Allah. Maha kaya. Maha besar. Maha kuasa. Maha luas  tanpa batas. Maha segala melintas kata. Penuh seluruh. Allah membimbing manusia dengan kuasanya. Dan Allah maha luas sehingga banyak pintu menuju-Nya. Setiap orang bisa jadi mendapatkan petunjuk sesuai dengan kondisinya, dan siapapun tidak berhak mengklaim sebagai pemilik kebenaran yang absolut. Penerimaan kita terhadap perbedaan dan keberagaman adalah wujud kesadaran dan pengakuan kita akan ke-maha luasan-Nya. Rasa benar sendiri dan klaim kesesatan terhadap pihak lain justru menampakkan usahanya memperkosa kebenaran itu sendiri. Setiap orang akan melakukan aktivitasnya sesuai dengan keyakinannya, dan tak ada seorangpun berhak memaksakan dominasi keberadaannya. Karena setiap orang itu unik, mempunyai komposisi yang khas, salah satu bukti ke mahaluasan Allah yang tak mungkin kita hindari. Sudah selayaknya kita bisa saling menerima dan saling menghargai. Biarlah Allah tunjukkan segenap sisinya yang berbeda-beda dan masing-masing kita pun akan melihatnya sebagai realitas yang berbeda-beda pula. Dan kehadiran aktivis dakwah dengan eksklusivitasnya pun tak lain adalah juga merupakan bentuk keberagaman masyarakat itu sendiri. Ia adalah sebuah goresan warna dari sebuah lukisan alam mahakarya Yang Maha Kuasa.  

Sudah saatnya kita bisa bergerak lebih ke-depan, dari sekedar mempersoalkan masalah yang tidak urgen. Jangan sampai kita terjebak pada problematika tekstual dan mengabaikan problematika sosial yang akut yang melingkupi kita. Jangan sampai kita terkurung dalam formalitas agama dan melupakan misi utamanya untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Semoga kita dapat selalu berkiblat pada nilai Islam yang mewujud pada keadilan, kebenaran, kebersamaan, tolenransi dan mampu menyatu dalam keberagaman. Yang merupaka sintesa dari kebenaran, damai, cinta kasih, dan kekuatan kehidupan. Dan semoga kita tidak terjebak dalam tradisi-tradisi keagamaan sebagai sekadar bentuk institusi/organisasi, yang cenderung bersifat eksklusif, dogmatis, eksoteris dan sectarian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s