Paragraf Buat Tuhan

Dimensi spiritual manusia adalah sesuatu yang sangat bersifat personal/individual. Tuhan mempunyai begitu banyak pintu untuk hambaNya bisa datang mengadu. Tuhan juga maha mengerti segala bahasa, semua yang tersembunyi dan terbuka, sehingga tak ada alasan untuk tidak bersimpuh dihadapanNya. Tapi seringkali kita begitu lemah, hingga lebih takut pada manusia dan mengkhianati hati nurani kita. Hanya sebuah puisi pendek yang sempat kutulis waktu muda dulu….Paragraph buat Tuhan

Aku tak percaya ada hitam dari putihMu, walau kau berkuasa atas sgalanya.
Aku percaya akan ke-menyeluruhan-Mu dan ke-tak-terhinggaan-Mu.
Akan keindahan-Mu.
Karena aku bercinta dalam kemesraan-Mu.

Dan aku tak hendak ingkari keperempuananku.
Karena ia adalah karya dan cipta.
Gairah dan hasrat.
Qadariah dan jabariyah.
Insaniah dan Ilahiah.
Imanensi dan transendensi.
Yin dan Yang.

Tak pernah sedikitpun aku berpikir hendak menipu-Mu.
Itu tak mungkin terjadi, Kau tahu
Tapi aku ada diantara manusia-manusia.
Bersama manusia-manusia.
Kadang-kadang: oleh manusia-manusia.
Dan sering: untuk manusia-manusia.
Dan aku manusia.
Hingga sering diriku terjebak: menjadi manusia yang mirip manusia-manusia.
Ah!

Aku memang tidak fasih berhitung.
Aku tidak tahu berapa pahala yang akan kau bayarkan atas tetesan keringatku.
Aku tidak tahu bepara derajat kau naikkan nikmat atas deraian air mataku.
Aku tak paham dengan rumus apa kau lipatgandakan nikmat atas setiap denyut nadiku.
Aku tak mengerti bagaimana kau tebarkan pahala-Mu.
Aku bahkan tak mengerti mengapa ada pahala.
Dan apa itu pahala.
Tuhan, maafkan aku yang tak punya kalkulator.

Mungkin aku tak jeli mengamati.
Mungkin aku samar dalam melihat,
bahwa dunia mempunyai begitu banyak sudut dan kutub.
Hingga terdampar begitu banyak tanda: halal-haram, benci-cinta, dosa-pahala, dan surga-neraka.
Karena di mataku dunia tampak begitu bulat.
Seperti telanjangnya matahari sore hari.
Hingga aku terus menari dan berputar mencari jantung-Mu.
Aku mungkin masih terlalu gagap dalam mengeja nama-Mu,
Dalam membaca jejak-Mu,
Tapi Kau tahu pasti; bahwa aku selalu yakin akan kasih-Mu.
Akan cinta-Mu
Di hatiku
Untukku

Karena ku yakin; ‘mencintai-mu adalah taqdir-Mu atasku’
Dan aku tak hendak ingkari keperempuananku

Bogor, 2002

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s