Percil-percil yang menyebalkan

Percil adalah istilah untuk pra keponakan, nak kakak2 saya yang masih kecil2.

Anak2 yang bandel, yang nakal, dan kdang menjengkelkan. Tapi bikin kangen juga……….

1. Mbah tak thuthuk…..

Mewariskan semangat kerja lintas generasi memang tidak mudah. Berbagai contoh dan cerita mengenai perjuangan masa lalu tidak selalu berhasil menimbulkan kesadaran pada generasi baru untuk meningkatkan semangat dan kerja keras. Sehingga yang banyak terjadi seiring berjalan waktu dan tersedianya fasilitas bukannya semakin berprestasi, tetapi malah kebosanan olh berbagai tuntutan.Kalau ada anak gendut hitam dan malas belajar itu adalah Lia. Saat itu ia baru kelas 3-an di SD. Ia lebih suka makan daripada belajar. Setiap saat selalu minta uang. Ibunya tak henti-hentinya menasihati. Ia menceritakan masa lalunya….”Dulu itu waktu Ibu kecil, sekolah gak pernah jajan….gak pernah dikasih sangu….kalau dikasih ya paling cuma 25 rupiah…..”Dan Lia bisa mencerna cerita itu. Oh betapa malang nasib Ibunya pada masa kecilnya. Maka Lia pun bertekad,”Besok kalau ke rumah Mbah, Mbah mau tak pukul…..masa ngasih uang Ibu Cuma 25 rupiah……” 

2. Minum kolam ikan

Waktu itu (pertengahan 2006) saya pulang ke Magelang. Seperti biasa saya mampir dulu ke rumah Mbak Tri di Blok L 17. Saat itu sudah sekitar jam 10 an. Yang ada dirumah hanya Dian, yang lainnya baru pada Tennis. Dian menyambutku dan langsung mengambilkan segelas air putih. Gelasnya kecil amat!Dian : Te ini Dian ambilkan air zamzam, Tante mau kan? Ini katanya minuman yang brkhasiat lho….Tentu saja aku mau, dan kuambil gelas itu, keseruput airnya sedikitDian : Minumnya pelan-pelan Te….gimana rasanya Te? Enak?Saya : Mmm enaaa….k, segar……., rasa strawberry…..Dian : Segar kan Te…?Saya : Oh iya segar……..Kusruput lagi air sedikitDian : Iya kan ini air aquarium. Ada ikannya di dalam. Coba masih ada nggak?Dian mengambil gelas itu dan mengamati, “ Oh ternyata masih ada ikannya……”Saya pun mengamati isi gelas itu. Ada seekor ikan kecil sekali. Busyet ternyata yang saya minum adalah….. bruash, brrrrrr!!!!   

3. Ulat itu empuk, Tuan….!

Tidak selamanya benar istilah ‘buah jatuh dekat pohonnya’. Contohnya Dian anak mbak Tri. Dian kecil berani dan sering main ulat, padahal Mbak Tri sangat takut dan ngeri dengan binatang larva kupu-kupu itu. Suatu hari dian sedang asyik dngan mainannya, dan Mbak Tri sedang asyik ngobrol dengan Bu Adit. Tiba-tiba ada teman Dian datang mengajaknya bermain. Dian menitipkan barang mainannya kepada ibunya, dan beranjak pergi. Sebelum beranjak pergi ia berpesan,” Bu tolong pegangin ini ya…. Jangan di apa-apain…!” Mbak Tri yang sedang asyik mengobrol menerima barang titipan Dian. Dian pergi dan Mbak Tri meneruskan ngobrol sambil asyik menimang-nimang barang mainan titipan Dian. Setelah ngobrol ngalor-ngidul dia merasa ada yang anh dengan barang titipan Dian yang dipeganginya. Rasanya kok dingin-dingin empuk. Ketika dilihat barulah Mbak Tri sadar bahwa titipan Dian itu adalah…..ulat yang dibungkus plastik!!. Hihiiiiiiiii………dikirain getuk….. 

4. Satu dua tiga….akeh, kabeh!

Dunia anak ternyata mempunyai sisi kometisi sendiri. Setiap hal baru yang dipelajarinya selalu ingin ia praktekkan dan tunjukkan kpada orang lain. Begitu juga Pipit dan Fano. Pipit (yang kelas 1 SD) ingin menunjukkan kmampuan berhitungnya kepada Fano (TK besar, yang baru bisa menghitung sampai 3).Pipit (menunjuk satu jarinya) : Ini berapa No (Fano) ?Fano (hanya menghapal angka yang diingatnya) : Satu!Pipit (dengan dua jari) : Iki piro?Fano : dua!Pipit (dengan tiga jari) : iki piro?Fano : tiga!Pipit (dengan 4 jari ) : iki piro?Fano : Akeh (banyak)!Pipit (dengan lima jari) : iki piro?Fano : Kabeh! (semua)Yah. Tidak ada yang salah! 

5. Perute atos……

Suatu malam Andik menangis mengerang, meengeluh perutnya sakit. Mbah Uti pun bingung. Ia memarut bawang merah dan diusapkan ke perut Andik, tapi ia masih mnegeluh sakit. Kemudian Mbah mencari abu panas dan dibungkus kain untuk ‘menyeko’ perut itu, tapi Andik malah menjerit dan tangisya makin keras “…..hoa-hoa….sakit….sakit….hoa-hoa….atos….atos….”. Mbah: Apanya yang atos?Andik : Perute atos….Seluruh rumah panic dan hanya bisa saling mnghibur sambil memijat-mijat kakinya. Beberapa waktu kemudian tangis Andik pun tinggal isak sesenggukan. Mungkin ia kecapekan. Mbah Uti mengajaknya untuk pipis dulu dan kemudian biar tidur….Di WC jaman dulu, di dekat taman dalam rumah (longkang), kami dapat melihat langit yang terbuka. Andik pipis banyak sekali, dan seakan lupa akan sakitnya…Andik : Wah bintangnya banyak sekali ya Mbah….Mbah  : Iya sekarang tidur ya…Andik : Ya….Rupanya Sakitnya Andik malam itu adalah karena ia menahan pipis….ia masih sering ngompol, tapi malam itu ia terbangun dan tidak ngompol. Mungkin ia sendiri tidak tahu harus gimana menahan pipisnya…. Hehe pantes aja ketika perutnya diseko dengan abu hangat ia semakin brteriak “…..atos….atos….(keras)….” Lha wong nahan pipis gitu…..:l) 

6. Menjauhi Merapi

Masa kecil Andik dihabiskan bersama keluarga Mbah. Sejak lahir adiknya (Rina) ia tinggal di rumah Mbah.Lalu apakah yang membuat Andik kembali pulang ke rumah orang tuanya? Ternyata adalah gara-gara gunung Merapi. Saat itu Merapi sedang aktif. Kalau hanya mengeluarkan lava pijar itu hal yang biasa bagi masyarakat lereng Merapi. Tapi pemberitaan di media, TV dan radio membuat orang kampung juga ikut ramai membicarakan tentang Merapi. Tentang bahaya letusannya, tantang wedhus gembel, dan tentang lahar. Andik kecil pun ketakutan. Ia pun memutuskan pulang ke rumah orang tuanya yang lebih jauh dari Merapi dibandingkan rumah Mbah. Seberapa lebih jauh kah rumahnya itu? Oh ternyata hanya di seberang jalan,  tapi masih di Ngampel juga.  Mungkin Andik kecil berfikir semakin jauh dari sungai berarti semakin jauh dari Merapi…. Emmm kadang bener juga sih…apalagi rumah Mbah terletak di tepi jurang yang dibawahnya mengalir sungai langsung dari gunung Merapi. 

7. Injak-injak (bukan injit-injit) semut!

Lebaran 2006 jatuh pada akhir bulan oktober. Seperti biasa, setiap kali datang lebaran pasti ada saja hal yang terjadi.

Sore itu Farhan marah-marah mengeluh kakinya panas

Farhan : Ibu ini to kakinya sakit…..Te End : Nopo to? Kenapa kakinya?Farhan : Kan tadi nginjak-nginjak semut…Te End : Lha wong ada leng semut kok ya diijnak-injak ki karepe opo?Farhan : Wong yang nyuruh Mas Angga kok……Te End: Emang Mas Angga bilang apa?Farhan : Mas Angga bilang gini: Yuk Dik itu semutnya diinjak-injak …gini….Te End : O alah….dasar bodo!Lha disuruh kaya gitu kok ya mau….Emangnya….bla-bla-bla….. 

8. Menunggu orang meninggal….lagi

Tanggal 27 Desember 2005, Waktu yang terjepit oleh hari-hari besar, didahului oleh hari raya Idul Fitri dan hari Natal, dan akan menjelang tahun baru dan hari Idul Adha. Saat itu Mbah Kung meninggal. Mbah Kung meninggal jam 5 sore dan dimakamkan keesokan harinya pada jam Ba’da Shalat Jum’at. Banyak kerabat, kenalan, dan anak cucu mengantarkan pmakamannya. Jalan menuju makam desa adalah sebuah jalan membelah desa dan melewati persawahan. Di salah satu rumah dipinggir persawahan itu terdapat tetangga yang mmelihara sapi yang gemuk-gemuk. Para ponakan sangat senang melihat sapi-sapi itu. Usai acara pemakaman Farhan bertanya sama ibunya.

Farhan : Bu… kapan mau ada orang mati lagi?Ibunya : Memangnya mau apa to? Koq Tanya gitu?Farhan  : Aku mau lihat sapi lagi……Sembilan bulan kemudian pada hari yang sama Mbah Uti juga wafat. Mnyusul Mbah Kakung. Semoga bahagia selalu dalam berkah-Nya. 

9. Beli kandang di Gardena

Yang namanya anak lanange (anak laki2nya) Bu Endang selain pada ‘mbedigis nikil’, mereka adalah penggemar hewan. Mereka sangat suka nonton (dan selalu ingin dibelikan) hewan-hewan besar sperti sapi, kerbau, kuda, dan kambing. Juga terhadap hewan2 kecil seperti ayam dan ikan, dimanapun menemukannya, mereka akan selalu mengubernya. Kalo pas hari lebaran ketika rombongan keluarga berjalan iringan bertandang ke tetangga dan kerabat, tempat yang pertama mereka tuju adalah kandang ternak peliharaannya. Anak-anak ayam yang masih kecil-kcil dan lucu-lucupun mereka keejar hingga stress dan mengalami depresi dan tekanan jiwa. Lebaran 2006 Farhan dan Angga ngotot pingin bawa pulang seekor ayam kate. Mereka ingin memeliharanya (maksud sebenarnya sih ingin main-main dngan ayam itu…) di rumah. Padahal rumahnya di perumahan tanpa kebon dengan halaman yang begitu sempit.Ibunya : Trus kalo bawa ayam itu mau ditaruh dimana?Farhan: Di kandang…!Ibunya : Kandangnya mana? Wong di rumah gak ada kandang koq….Farhan : Ya beli….Ibunya : Bli dimana yang jual kandang…????!!!!!Farhan : Di GardenaIbunya : Hhhhrrrggghhhh….!!!! 

10. Tidak pernah sinau

Kalau ada anak yang gak pernah sinau, itulah Lia. Dia lebih suka makan daripada mambaca buku. Barangkali karena waktu bayi tubuhnya terlalu kecil (dan hitam, lagi) sehingga sebagai kompensasi ia menjadi banyak makan dan badannya membesar. Atau barangkali karena tubuhnya besar menjadikannya malas sinau. Setiap kali ibunya menyuruh sinau, sinau, sinau, tapi ia selalu berkelit. Ibunya sampai kehabisan akal. Tapi tahukah kau mengapa Lia tidak pernah mau disuruh sinau? Ternyata ia tidak tahu arti sinau (belajar). Katanya: “ ….sinau itu apa…????”. Oh ternyata begitu. Yah biarlah Lia tidak pernah sinau, asal ia mau belajar….hehe!   

11. “…nGGak dengar…..!!!”

Iid kecil kadangkala main ke tempat Mbah. Sebagai anak kecil sudah seharusnya ia mengikuti aturan yang dibuat oleh anak yang lebih besar. Mustinya ia mau disuruh-suruh. Tapi saat itu ia bandel sekali. Saya memangilnya, dan ia diam saja. Saya menyuruhnya sambil mengancam, dan ia santai menjawab, “…..gak dengar…..!” Sambil lari ketawa-ketawa. Huh, dasar pemalas! 

12. Bu Mak’e

Pada jaman kecilnya Iid panggilan Mak sedang nge-trend. Iid dan Andik memanggil ibunya Mak (Mamak). Saya menyarankan agar ia memanggil Ibu, biar lebih keren. Ia pun setuju. “Ya deh, nanti saya panggilnya….Bu Mak”. Dasar kampungan!    

13. Balita Diktator

Kalau ada seorang pemimpin yang dictator, itu wajar. Tapi kalau masih balita sudah jadi dictator ……..itupun juga wajar! Seperti halnya Anis. Saat bayi rambutnya sudah berdiri kayak ulat bulu, dan saat usia balita galaknya bukan main. Bukan hanya galak, tapi semua yang dia rasa bisa dinikmati orang lain, dianggap menjadi miliknya. Kalau pagi-pagi orang berkumpul dan bermain di halaman sambil menikmati anggunnya Gunung Merapi, ia mengklaim Gunung itu miliknya, dan tak seorangpun boleh melihatnya, apalagi menikmatinya. Kalau malam hari lihat bintang dan bulan, itu juga miliknya. Dan lebih-lebih lagi kalau pas acara nonton TV di ruang keluarga, ia bilang TV itu punya Anis, dan orang lain gak boleh ikut melihat TV. Ia akan mengamati semua orang yang ada untuk memastikan tidak ada seorangpun yang memandang ke arah TV. Kalau ada yang ketahuan memandangi TV ia akan teriak marah. Pokoknya semua yang ada saat itu adalah milik Anis. TV punya Anis, Burung punya Anis, awan punya Anis…..semua punya Anis.Karena galaknya Anis, Mbah Kakung mengira itu karena dulu ibunya ngidam ‘bayam duri’. Tapi kalau mengamati hingga sekarang ajan Anis masih galak gitu, lebih mungkin dulu Ibunya ngidam urap bayam duri ditambah sambal durian dan lotis isi kedondong…. 

14. Teroris kecil

Dari jaman dulu sekolah memang tidak menyenangkan. Sejak jaman Mbak Tri sampai jaman Fano, anak-anak harus diancam untuk mau sekolah. Apalagi kalau belum kenal sama teman-temannya. Seperti Fano ketika akan masuk TK kecil. Ia susah sekali disuruh masuk kelas dan bermain bersama teman-temannya. Pagi itu Fano diantar Ibunya. Sampai di sekolah Fano tidak mau masuk kelas. Ibunya langsung aja ninggalin Fano, tapi Fano terus mengikutinya sampai sekolah tempat Ibunya mengajar. Tapi Fano tidak hanya malas sekolah, ia juga tidak mau Ibunya sekolah (mengajar di Sekolah). Ia pun melancarkan ancamannya,”Nanti sekolahannya Ibu saya bakar, nanti gergaji sekolahan aku curi……”Mendengar ancaman Fano, teman-tman Ibunya langsung beranjak pergi ke kelas mengajar,”Yuk segera pergi ke kelas aja….nanti keburu sekolahannya hangus….” 

15. Durian oh durian

Fano kecil sangat suka durian.Suatu siang (Fano masih TK) dia dititipkan di rumah Dimas seebelum pulang ke rumah bersama ibu + bapaknya. Di rumah Dimas ada beberapa butir durian. Beberapa durian itu dibuka dan dimakan brsama-sama. Fano ikut makan. Beberapa butir lagi belum di buka. Jam 2-an ibunya datang mnjemput untuk diajak pulang bersama, tapi Fano berkeras blum mau pulang. Ibunya heran.Ibunya Fano: ”Kenapa gak mau pulang…?”Fano : Durennya belum habis….masih ada!O alah dia nunggu durn itu di buka semua. Emang punya nenek lo! 

15b.

Fano kecil yang suka durian, suatu sore pulang sekolah bersama ayah ibunya. Di depan mobilnya ia melihat dua orang berboncengan sepeda motor. Yang dibonceng menenteng durian. Wah! Fano yang biasanya selalu suka kalo mobilnya nyalip-nyalip, hari itu tidak mau mobilnya menyalip motor tersebut.Fano :”Ojo…ojo nyalip Pak….”Ibunya :”Kenapa? Nopo gak boleh nyalip…?”Fano :”Nanti kalo duriannya itu jatuh…..”Oalah ternyata Fano nunggu dan berharap durian itu jatuh dan ia bisa mengambilnya. Makanya ia ingin setia berjalan pelan di belakang motor tersebut. 

15c.

Fano kecil yang suka durian suatu kali dibelikan durian sewaktu pulang sekolah. Durian di taruh di mobil dan pulang ke rumah. Dalam perjalanan Fano tidur di mobil, dan sesampai di rumah langsung ditidurkan di kamar. Sore menjelang maghrib Fano dibangunkan oleeh bapaknya untuk mandi tapi sulit sekali. Ia nggak mau bangun. Tiba-tiba ia bangun dan langsung memukuli ibunya tanpa alasan. Ibunya pun heran.Ibunya:”Kenapa? Nopo? Bangun-bangun kok langsung ngantemi Ibu….”Fano:”…Huu…Hu…Ugh, ugh!Ibu ngabisin durenne No…..”Oh, ternyata Bapaknya Fano mbangunin dengan berbisik:”..itu lho No, durennya dihabisin sama ibu” 

16. Salah eja: nusil, cakep,

Salah eja dan salah ucap pada anak-anak sangat sering terjadi. Beberapa hal serupa juga terjadi pada para percil, biasanya pada saat balita.Lia dulu pingin belajar nusil (nulis)Ria minta makan pake cakep (kecap)Angga pingin melihat ‘nggeng (burung) 

17. Arab-Indonesia

Kemalasan sekolah dan belajar juga menimpa Angga. Tahun 2006 adalah tahun ke-dua ia di kelas satu. Tapi mengulang di kelas satu juga tidak membuatnya lebih pinter dari temen-temennya. Ia tidak mahir dalam menyusun kalimat, memahami soal, bahkan dalam menuliskannya. Ia sering salah memahami urutan dalam bacaan latin/indonsia dan urutan dalam bacaan Arab. Saat membaca buku pelajaran ia membuka dari kiri ke kanan, dan ketika disuruh mengerjakan PR oleh gurunya, ia menandai halaman itu dengan tulisan RP. Salah satu soal dalam PR itu adalah :Bagaimana wujud kasih sayang Ibu ketika kamu mengerjakan PR? Dan apa jawaban Angga? Ia menjawab….dengan memberi roti! Dasar! 

18. Umbul Sukiyat

Umbul sukiyat sebenarnya nama yang bagus. Dan punya makna yang bagus. Anak yang dinamai dengan nama Umbul Sukiyat akan gagah perkasa, kuat dan berprestasi. Tapi sayang nama itu belum digunakan. Saat Angga lahir (eh saat itu blum angga namanya, karena masih bayi baru lahir) Lia sudah merencanakan memberinama adiknya dengan nama2 yang bagus; Fani! tapi hari itu ia kcewa berat. Sepulang sekolah ia mendapat kabar bahwa adiknya yang masih di RSI dinamai Umbul Sukiyat.”Lia…adikmu sudah lahir…………. namanya Umbul Sukiyat! Lia sangat sedih. Ia memukul-mukul jendela.Akhirnya karena kasihan mlihat Lia, nama bayi itupun diganti dengan Angga.  

19. Domba = Nanas

Saat Iid kecil, saya sring mngajarinya mengenal benda-benda mlalui gambar. Saya tunjukan gambar ayam dan ia bilang…pitik! Betul. Saya tunjukkan gambar ikan ia jawab…iwak; betul juga! Tapi saat saya tunjukkan gambar domba brbulu lebat ia mnjawab…nanas!.  

20. Salah ngerti;Kapan? Kapok!

Namanya anak kecil salah memahami kalimat adalah hal yang biasa. Pertanyaan mengenai pengenalan benda, waktu dan tempat dimulai saat balita. Saat Lia masih balita ia bisa menjawab ketika ditanya; Ini apa? Ibu dimana? Dst. Tapi kalo ditanyai; Kapan Ibu berangkat? Atau; Lia mau makan kapan? Ia akan menjawab kapan!Osa lain lagi kalo ia jatuh karena ceroboh, atau nangis dimarahi ibunya, kemudian ditanyai,”Hayo…..sekarang kapok nggak?!”  Dia akan bilang ,”Nggak……..!!!” 

21. Deg-degan

Suatu sore Farhan mengeluh kepada ibunya tentang kakinya yang semutan. Tapi ia belum tahu yang namanya semutan.

“Bu ini lho kakiku kok deg-degan…..”

Kalau Angga dulu bilangnya, “ Bu kakiku gerimis……”

Emang susah ya …..

   22. Warung Ibu makan Wiryo dan As-solik-HAH!

Belum sempat ditulis……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s