Mengenang kelucuan masa kecil

Berbagai kenangan kisah lucu masa lalu

Saat aku dipatoki ayam, saat aku nelen uang rp 25, saat kakaku ketakutan sama ulet bulu, saat salah jawab soal ujian, dan saat2 lain yang membuatku masuk jenjang S3 (sering senyum sendiri)

1. Aku duwe Adik…ditotoli pitik…!

Mengenang masa kecil, banyak sekali hal membuat kita merasa geli. Dan saat diungkapkan kembali tawa pun meledak kembali. Tapi ada satu cerita andalan bagi Puji yang selalu saja diulang-ulang tiap tahun, sehingga smua orang tahu. Huh!Waktu itu kami masih kecil-kecil. Sebagai kakak, Puji harus ‘momong’ saya, selain ikut membantu pekerjaan dapur. Suatu saat entah kenapa saya dan Puji berselisih. Mungkin Puji memarahi saya, sehingga saya menangis. Melihat saya menangis Puji bukannya menghibur, malah memukul kepala saya dengan ‘kalo’ (saringan kelapa) yang masih berisi ampas kelapa. Tentu saja ampas kelapa itu bertebaran di kepala saya yang brambut pendek. Saya menangis semakin menjadi dan berguling-guling di tanah halaman depan. Ketika lelah menangis dan tinggal isak sesenggukan, pada berdatanganlah ayam tetangga menghampiri saya yang tergelatak di halaman. Mereka bukannya mau menolong saya, tapi …..tertarik mematuki ampas kelapa di kepala saya!!!. Fenomena ini menjadi cerita andalan bagi kakak saya, setiap kali kami berkumpul.  

2. Suarane Meriam :” Mak…….

Masa kecil memang masa anak belajar membangun interpretasi sendiri. Salah interpretasi adalah hal yang wajar pada anak SD, karena bahkan seorang yang sudah tua dan kenyang pebgalamanpun tak luput dari kesalahan itu. Saat SD (kelas 4 atau 5, lupa) saya harus mengrjakan ujian/test kenaikan kelas. Salah satu mata pelajaran ‘Bahasa Daerah’ yaitu bahasa jawa. Salah satu soal essay berbunyi begini: Suarane Meriem Mak…….. (saya harus melengkapi kalimat itu). Saya bingung memikirkan jawabannya. Menurut saya trserah pada si_Meriem itu mau bilang apa kepada si_eMak nya. Mau bilang lapar kek, mau bilang pingin baju baru, atau perhiasan, atau sepeda pun boleh. Bukankah seorang anak kecil biasa minta apa saja kepada emaknya? Tapi kemudian saya berfikir hal yang global dan universal; bahwa kebanyakan anak kcil ketika merengak kepada eMaknya adalah minta jajan atau….minta uang! Yap benar. Akhirnya soal essay itu kulngkapi shingga kalimatnya menjadi: Suarane Meriem Mak – aku njaluk duwite—( Suaranya Meriam Mak aku minta uang….)Sungguh saat itu saya tidak tahu bahwa yang dimaksud dalam soal itu adalah suara meriam (sejenis alat peledak) yang harusnya berbunyi Gelegerrrrrr atau Bummmmm!!!! 

3. Menabung yuuukk di perut….

Menabung uang memang sikap terpuji. Bagi anak kecil jaman dulu tidak setiap hari seorang anak kecil memegang uang. Ibu/Bapak hanya memberi uang untuk bekal sekolah, atau untuk belanja di warung. Tapi waktu kecil kami memiliki uang upah dari membantu pekerjaan orang tua. Stiap keeping uang pasti kita pegang erat-rat sebelum masuk celengan. Tapi memegang uang tidaklah aman, bisa lepas atau terlupa. Mungkin karena itulah maka saat itu aku memilih menyimpan uang Rp 25 itu di mulut. Uang jadi aman dan kita bbas beraktivitas. Dan kamipun bercanda ria diatas tumpukan karung beras yang baru selesai digiling. Bercanda ria tertawa-tawa, sampai tiba-tiba saya sadar uang Rp 25 itu tertelan. Saya nggak sempat mengingat bagaimana rasanya. Begitu tahu aku menelan uang candatawa bersama kakak-kakak pun terhenti. Semua panic dan ketakutan, dan saya  diam membisu dalam pangkuan Mbak Erni. Kakak-kakak yang lain mulai menangis … bukan karena prihatin terhadapku tetapi ketakutan membayangkan amarah Ayah. Melihat aku terdiam saja, Mbak Erni ikut menangis: “….nih kan gara-gara nelan uang jadi gak bisa bicara…” Nah lho!. Padahal saat itu aku juga bingung melihat kakak-kakak pada bingung, jadi gak tahu harus berkata apa.Akhirnya sore itu saya dibawa ayah ke dokter di Tlatar yang jaraknya sekitar 2 km dari rumah. Sayang hari sudah terlalu sore sehingga dokter sudah berkemas pulang dan tidak sempat memeriksaku. Ia hanya memberi sedikit saran singkat…bukan saran kesehatan tapi saran ekonomi….bagaimana mendapatkan kembali uang Rp 25 itu:” …besok cari aja …siapa tahu keluar bersama pup saat ke belakang….”Rupanya dokter itu mengira kami datang untuk bisa mendapatkan uang 25 itu. Weleh-weleh………. 

4. Mari bertanam kwaci…

Menurutku bukan karena tempat tinggalku yang di plosok pedalaman yang membuat aku tidak mengenal kwaci saat itu. Karena pasti selalu ada saat pertama bagi seorang anak mengenal sebuah benda baru. Dan aku mengenal kwaci pada masa ketika aku SD. Saat itu saya diberi beberapa biji aneh itu oleh Mas Sup. Sayangnya Mas Sup tidak mngatakan apa gerangan biji aneh itu dan digunakan untuk apa? Tapi saya mengenal biji aneh itu sebangsa biji semangka atau ketimun. Dan tanpa pikir panjang biji-bijian aneh itupun saya tanam di depan rumah. Untung Mas Sup melihatnya dan mmberi tahu bahwa kwaci bukan untuk ditanam, tapi untuk dimakan. Jadilah biji-biji yang sudah saya tanam itu saya ambil kembali dan saya makan. Ternyata rasanya asin……karena cara makannya pun saya gak tahu. Biji kwaci itu Cuma saya emut, tidak saya buka. Wah tinggal makan aja koq masih salah! 

5. Awas…..ulat bulu!!!

Ketika kami masih kecil, di belakang rumah ada sbuah kolam. Disamping kolam ada banyak pohon jambu, pohon sirsak, pohon salam, dll, selain sederetan pohon bambu yang membuat kebun kami menjadi tempat paling romantis bagi ular-ular untuk berpacaran. Konon katanya kakak-kakak selalu mencuci piring habis makan di kolam itu. Suatu hari giliran Endang yang kebagian jatah mencuci piring. Ketika sedang mencuci tiba-tiba ia mrasa ada sesuatu yang jatuh di bajunya. Ia melihat ke bahu kirinya, dan melihat seekor ulat bulu hitam menempel di sana. Ia pun menjerit mencari Ibu. Ibu (yang juga takut sama ulat bulu) mencoba mengambil ulat bulu itu dengan tongkat, tapi ulat itu tidak bergeming. Ulat itu seakan menempel pada baju. Ibu terus mencoba tapi ulat itu terus mnempel, dan Endang semakin ketakutan. Ibu juga ketakutan, tidak berani dekat dengan Endang. Karena saling takut, mereka saling berkejaran. Endang mengejar Ibu, ingin agar ulatnya diambil, dan Ibu lari menjauhi Endang karena gak berani terlalu dekat dengan ulat bulunya. Berkejaranlah mereka.Untung ada yang datang membantu. Ia membantu melepaskan ulat bulu bandl itu dari baju Endang.Tahukah kau apakah gerangan si-ulat bulu bandl itu? Ternyata itu adalah sehelai pita yang memang merupakan aksesoris dari baju itu. Huh, dasar ulat bulu gadungan….!!! 

6. Jangan disuntik…..

Yang namanya disuntik pasti menakutkan bagi anak kecil. Apalagi kalau dokternya terkenal serem. Ketika aku kecil, Dokter di daerahku (namanya Pak Salikun) terkenal seremnya. Kalau menyuntik sangat menyakitkan. Bayangkan, setelah jarum suntik ditusukkan di bokong pasien, jarum itu akan digoyang-goyangkan, atau menurut istilah teman-teman kecilku dulu ‘di-engkol-engkol’. Bisa dibayangkan betapa sakitnya. Tapi jaman itu memang semua anak yang ke Dokter pasti disuntik. Saat itu aku masih SD, atau mungkin belum sekolah, ketika jatuh sakit. Entah sakit apa, tapi saya dibawa ke Dokter Pak Salikun itu. Bayangan sakitnya sudah terasa ketika hendak k Dokter itu. Tapi apa dayaku si anak kecil, tidak kuasa menolak paksaan orang tua untuk periksa. Dan saya bersama Bapak pergi ke Dokter Salikun. Dokter itu kayaknya tidak teerlalu menyeramkan. Ia mengusap bokong dengan kapas alkohol dan siap menyuntik. Saat itu aku sadar akan kekejamannya. Maka jarum suntik yang siap menusuk  itupun kurebut dan aku menjerit,” Aduh, aduh…gak mau, gak mau!….takut nanti di-ongkel-ongkel…”. Dokter itupun menasihati dan mengatakan tak akan sakit, dan akhirnya gimana ceritanya lupa, si-sakit ya disuntik lah…..dan sembuh! 

7. Perkedel super jumbo….

Jaman aku kecil, Ibu masih sehat, aktif, kreatif dan perfec dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Kalo nyapu harus benar-bnar bersih hingga kolong yang dalam…, kalo nyapu halaman harus sampai terlihat garis bekas lidi berjajar membeentuk goresan rapi di tanah berpasir. Suatu hari saya harus membantu Ibu membuat perkedel. Ibu yang menggoreng dan saya yang harus membentuk/mencetak adonan menjadi bulatan-bulatan siap digoreng. Padahal saat itu harusnya saya main sama teman-teman dan bukannya kerja sambil momong Iid. Mungkin karena kesal sehingga saya menctaknya smbarangan dan asal comot, sehingga kekecilan. Ibu bilang supaya digedein dikit. Tapi aku jadi sebel, dan adonan itupun kucetak dengan ukuran jumbo, seekitar 3 x ukuran semula. Ibu pun jadi ikut kesal,” Wah kalo gini ukurannya kegedean….coba berapa kali lipat ini besarnya….berapa?????!!!”Aku diam aja. Tegang.Iid yang saat itu baru bisa belajar menghitung sampai tiga, langsung aja nyeletuk,”Tiga ya Mbah….”“Ya benar sekali …Iid yang anak kecil aja tahu berapa kali,….bla-bla-bla….”Huh dasar anak kecil, baru belajar aja udah sok tahu …! 

8. Sumbangan sukarela

Namanya juga menyumbang. Berarti memberi secara sukarela untuk meringankan beban orang lain. Dan pemberian secara sukarela tidak etis kalau disebutkan. Apalagi di lingkunagn masyarakat jawa. Di masyarakat kampungku setiap ada orang berhajat atau meengalami peristiwa istimewa orang-orang sekitar baik saudara, tetangga maupun sekedar kenalan akan segera dengan antusias mengulurkan tangan untuk memberi bantuan. Mulai dari orang membangun rumah, hajad khitanan dan menantu, maupun peristiwa kematian. Orang-orang akan datang dengan berbagai jnis barang sumbangan. Tidak hanya berupa uang. Kadang berupa beras, gula, the, muinyak, bahkan kelapa. Sering juga orang menyumbang bermacam-macam barang di kemas dalam satu wadah untuk diserahkan kepada si-empunya hajat. Crtia mengenai sumbangan ada beberapa cerita menarik yang patut disimaka. Puji pernah nyumbang satu bungkus bumbu dapur yaitu beberapa butir cabe. Sbenarnya bukan bungkusan itu yang akan disumbangkan. Niatan awal adalah menyumbang sejumlah uang yang dibungkus dalam lipatan kertas. Karena takut uang itu hilang maka slain bungkusan uang ia juga membawa bungkusan cabe rawit. Konon thuyul atau setan kecil pencuri uang tak akan berani mengambil uang yang disimpan bersama bumbu dapur tersebut karena takut kepedasan. Tapi kemudian apa yang terjadi? Ternyata ketika berpamitan pulang dari kondangan itu dan harus menyerahkan uang sumbangan tersebut ternyata ia kliru memberikan….bukannya memberikan bungkusan uang, malah mmberikan cabe bungkus…… wah!b.  

9. Kayub dan Nemes dan anake Ibunya

Di hari tuanya, Mbah Kung kadang kurang mengenal anak-anak kecil baru di desa kami. Terhadap orangtua mereka Mbah Kung pasti kenal, tapi trhadap anak-anak kecil yang terus bertambah…..seringkali terlewat dari perhatian Mbah Kung yang semakin menua. Maka setiap ada anak kecil yang tak dikenalnya ia selalu bertanya,”Kamu anak dari mana? Kamu anaknya siapa?…….” Tapi apa jawaban anak-anak itu? Mereka seringkali menjawab anaknya Ibu…….. Wah segitu banyak anak koq semua anaknya Ibu.Mungkin anak-anak itu tidak tahu prsis nama Ibu bapaknya. Seperti aku dulu…saya kira nama orangtuaku adalah Kayub dan Nemes…(padahal Jakob dan Mentes)   

10. Pelukis yang demokratis

Mungkin terinspirasi oleh Jalaluddin Rumi yang dalam salah satu bait puisinya adalah ‘…wanita bukanlah ciptaan, tapi pencipta…’ atau mungkin oleh Annemarie Schimmel, atau mungkin oleh Paulo Coelho, atau Kahlil Gibran, atau    … (lupa namanya), atau oleh Bunda Maria, atau oleh Salome si putri Herodes, atau oleh siapa entah, sehingga saya suka melukis keindahan sosok perempuan. Keindahan perempuan dalam arti sosok perempuan yang natural, lugas, dan tegas. Perpaduan antara spiritualitas dan sensualitas. Yah dalam bahasa sederhananya ya perempuan-perempuan tanpa penutup tubuh, gitulah. Hingga suatu hari Dian bertanya,” Tante kok sukanya nggambar perempuan kok gak pake baju sih….?”Dan lugas kujawab,” Yah Tante kan gak tahu dia sukanya pake baju kaya apa….jadi ya mendingan gak usah dipake-in aja…..”Demokratis kan?

gimana….???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s