Ketika Ibu dianugerahi sakit

Ketika Ibu dianugerahi sakit….

Ketika Ibu tidak bisa berjalan, ketika salah makan obat silica gel, ketika ibu tetap berusaha mencintai kami hingga detik2 terakhir kehidupannya

 1. Yang tak bisa berjalan…Kami semua bisa mengerti bahwa [almarhum] ibu tentu sangat menderita dengan sakit stroke yang dideritanya. Dia yang dulu dapat beraktivitas kemana-mana, melakukan banyak hal, menjadi tulang punggung keluarga [bersama ayah, tentunya], kemudian harus menjadi orang yang ‘terpaksa’ tidak mandiri. Stroke itu membuatnya tidak bisa mlakukan banyak aktivitas. Sebenarnya ia masih bisa berjalan dengan tongkat, tapi pada saat kambuh pada tahun ke-7 sakitnya, ia menjadi semakin lemah. Dan kadang berkeluh. Saat berkluh itulah kita harus bisa menanggapinya se-arif mungkin, sebuah bentuk sikap yang lebih sering gagal kami praktekkan.Mbah Uti : Oalah…sakit kok koyo ngene, rak mari-mari….kapan to iki le arep iso mlaku ki to……Puji : Ibu ki wis lumayan lho Bu, Ibu masih bisa jalan meskipun pake tongkat, meskipun lambat. Coba lihat ada yang lebih parah dari ibu seperti ‘lek’ Maryoto itu, kalo mau ngapa-ngapa harus digotong, gak bisa bangun…apalagi jalan….Mbah Kung : haiyo. Malah ono sing sejak lahir gak bisa jalan…..Mbah Uty    : Sopo Pak…sing dari lahir gak bisa jalan…?Mbah Kung  : Lha iwak – iwak (ikan2) kae, kan sejak kecil di air terus…. gak punya kaki, gak bisa jalan….. 2. Obat silica gelSetiap kemasan pil/kapsul dalam sebuah botol biasanya disrtai silica gel. Mustinya silica gel dipisahkan tersendiri dalam sebuah kantung sachet, sehingga tidak tercampur dengan bahan/obat yang akan dikonsumsi. Tapi tidak demikian dengan kemasan kapsul suplemen dari Daxen (DXN). Dalam botol DXN kapsul dan silica gel bercampur jadi satu. Padahal tidak semua orang tahu penggunaannya. Begitu juga dengan mBak Giani, orang yang kerja di rumah kami pada sekitar tahun 2000-an. Saat itu Ibu baru awal terkena stroke, dan kami memberikannya DXN untuk melancarkan metabolisme tubuhnya. Mbak Giani dan mbak Karni yang biasa membantu Ibu meminum obat-obatnya. Suatu hari keetika ditanya tentang persediaan obat-obatnya, dia menjawab,”Wah hamper habis Mbak….yang gede-gede sudah habis, tinggal yang kecil-kecil dua butir….”Saya heran kok ada yang kecil dan yang gede? Bukankah dalam satu paket hanya ada satu jenis kapsul? Penasaran saya buka dan ternyata disitu hanya ada dua butiran kecil silica gel. Ternyata selama ini ia selalu memberikan semua yang ada dalam botol, satu kapsul DXN dan satu butir silica gel. Tapi kami maklum. Mereka bukan sedang melakukan malpraktek, apalagi konspirasi untuk tujuan tertentu.Toh kami gak tahu feknya bagi Ibu. Jadi kami hanya bisa terharu, dan berharap semoga semua baik2 saja. 3. Cetakan kue … Ibu yang tahuMemasuki tahun kesekian sakit stroke Ibu, kadangkala ia menjadi pelupa dan imaginasi mengembang. Sebuah kisah kecil bisa-bisa akan mengembang menjadi sebuah roman. Karena kondisinya, seringkali kami, anak-anaknya memilih untuk tidak melibatkan Ibu dalam bberapa hal. Bukan karena tidak sayang atau tidak hormat, tetapi karena terhadap setiap peristiwa kecil pun Ibu akan menanggapinya panjang lebar, dan kadangkala kami tak sempat meresponnya. Kasihan, kan? Seperti misalnya kalau kami mencari sesuatu barang. Ibu akan ikut sibuk (bukan mencari tentunya), tetapi sibuk bertanya kepada semua orang mengenai barang yang kita cari itu. Dan semakin banyak orang yang menjadi ikut repot. Jadi kadangkala kalau kami lagi srius atau sibuk, kami tidak menjawab yang sebenarnya, atau menjawab sekenanya terhadap pertanyaan Ibu. Suatu hari Puji mencari loyang cetakan kue. Dicari kesana kemari, ke dapur-ke gudang, lemari sini-lemari situ, gak ketemu juga. Ibu yang melihat Puji bolak-balik sibuk mencari-cari bertanya,’…sedang nyari apa sih…? Puji menjawab sekenanya,”Cari redofiles! (redofiles = kata sekenanya yang tidak akan diketahui artinya oleh Ibu). Tapi ternyata apa jawaban ibu?“Kalau redofiles Ibu gak tahu,….tapi kalau nyari loyang cetakan kue Ibu tahu….”Nah lho! 4. Nasihat untuk pencuriNiat baik kadang-kadang tidak memberikan efek yang baik juga. Pada masa tua Ibu, dengan sakit strokenya tiap hari ia duduk-duduk di depan rumah. Banyak orang datang, atau mampir atau menyapa sekedar lewat. Banyak informasi tertangkap, gosip dan nasihat. Demikian pula banyak peluang untuk bertgur sapa, bercanda maupun berpetuah. Suatu saat ada gossip santer tentang seorang remaja gadis kampung yang suka mencuri. Kabarnya gadis itu telah mencuri beberapa barang-barang milik keluarga dan tetangganya. Suatu hari si-gadis itu datang ke rumah akan membeli telur. Sambil menunggu diambilkan telur, ia duduk dan berbincang dengan Mbah Uti. Barangkali Mbah Uti menganggap inilah saatnya ia berpetuah. Maka ia pun memberikan nasihat kepada si gadis peencuri,”Nok…kunasehati ya….mulai sekarang hentikanlah kebiasaanmu mencuri…………bla-bla-bla….”Tentu saja si gadis pencuri tersinggung dan marah. Ia menjawab, marah-marah, dan pergi….. 5. Mangut bumbu switsal, telor bumbu ….Ikan tawar di goreng di beri bumbu bersantan kuning dan cabe rawit utuh …. Dimakan sore-sore. Mmmh enak banget. Itu namanya mangut. Mbah Kung sangat suka. Maka ia sering minta dimasakin mangut.Suatu hari Puji memasak mangut buat Mbah Kung. Supaya cpat, maka ia menggunakan bumbu-bumbu sachet. Ikang yang telah digoreng sudah matang di wajan. Tinggal nambah satu bumbu sachet. Ia pun mengambil bumbu sachet. Tapi bungkus sachet itu sudah buram dan tidak tampak tulisannya. Ah mungkin ini bumbu masako. Dan bumbu itupun masuklah ke dalam wajan. Tapi kok tiba-tiba air dalam wajan itu mengembang dan…berbusa!Ternyata bumbu aneh itu adalah shampoo. Wah mangutnya jadi wangi dong!Eh ternyata belum selesai penderitaan sampai di situ.Suatu hari Mbah Uti pingin diceplokin telur. Telur itu dipecah dituang di atas wajan kmudian ditaburi sedikit garam. Dimakan sama nasi putih juga cukuplah. Tapi akan berbeda kalo yang ditaburkan bukan garam melainkan……sari manis! Rasanya jadi pahit dan wangi. Itulah yang dilakukan Mbak Murni, dulu. Tentu saja Mbah Uti tidak doyan.  6. Ning stasiun mBalapan….Tahun 1999/2000 adalah awal sakitnya Ibu, saya tidak ingat apakah ibu sudah stroke. Sekembali dari rumah sakit ibu istirahat di rumah. Sekitar waktu itu saya bertandang ke Medan. Sekembali dari medan, Ibu mengungkapkan kesedihannya dan bahwa selalu teringat saya setiap mendengar sebuah lagu perpisahan di radio. Ibu lalu mencritakan kisah dalam lagu tersebut, yang ceritanya kurang lebih begini: Ada sepasang kekasih. Yang prempuan prig merantau ke Jakarta. Pada saatnya harus pulang yaitu menjlang hari lebaran, si-lelaki menjemput di stasiun. Dengan sabar ia menunggu setiap kereta yang datang dari arah Jakarta. Setiap kereta datang dan ia mengamati setiap orang yang turun, tapi tak seorang pun dari mereka adalah adalah si-kekasih. Waktu sudah siang dan kemudian sore dan menjelang malam, si kekasih belum juga datang. Untung laki-laki itu membawa sehelai tikar. Dan setelah makan nasi bungkus seadanya, lelaki itu pun tidur di emperan stasiun beralaskan tikar. Keesokan harinya pagi-pagi benar ia sudah terbangun dan kembali mngamati setiap penumpang yang turun dari kereta. Namun ia masih belum menemukannya. Setelah dua hari menanti dengan sia-sia iapun memutuskan kembali ke rumah di kampong, karena disamping persediaan bekal uangnya sudah menipis, iapun harus mempersiapkan menyambut lebaran. Pada saat lebaran tiba si-lelaki sudah pasrah akan hubungannya dengan si-kekasih. Pagi itu setelah acara bubaran dari sholat Idul Fitri di lapangan, ketika orang-orang sudah beranjak pulang ke rumah masing-masing, saat itu tiba-tiba si perempuan kekasihnya pulang ke kampung. Sepasang kekasih itu bertemu dan saling bersalaman. Happy ending deh!

Yang menjadi keheranan saya adalah: kok ada sih lagu yang bercerita kisah yang begitu panjang dan detil? Dan saya mulai penasaran dengan lagu itu. Tapi baru beberapa hari kemudian saya bisa mendengarkan lagu yang dimaksud oleh ibu saya itu. Lagu itu berjudul ‘Stasiun Balapan’ dinyanyikan oleh Didi Kempot. Setelah saya dengarkan bait-bait syairnya ternyata cukup sederhana, jauh dari yang dikisahkan oleh ibu saya. Hahaha…rupanya diam dalam sakit memberi ruang bagi Ibu untuk berimajinasi. Hm ceritanya boleh juga tuh!, setidaknya saya sempat mengira bahwa itu nyata kisah yang tertulis dalam lagu itu. I love U Mom!

 7. Dingin yang tak berwarnaHari-hari menjelang wafatnya, ibu yang stroke menjadi lemas dan sering kedinginan. Ia tak mampu lagi duduk ataupun sekedar miring. Kami (aku nggak ding!) menungguinya setiap saat. Tapi saat larut malam kadang kami tertidur dan selimut ibu tersingkap sehingga ia merasa kedinginan. Ibu kadang berkeluh karena dingin. “…..Aduh Gusti ademe kok koyo ngene …. (Ya Tuhan dinginnya kok kaya gini….)…” Endang yang sering menunggui (walopun suka marah2, tapi dia sangat sering nungguin Ibu) berkomentar.End : Kaya gini gimana — dinginnya—?Ibu : Yo koyo ngene ikiEnd : Koyo ngene kaya apa? Merah apa kuning apa biru….?

Ibu : Ya nggak merah, nggak kuning, dan nggak biru…tapi kok dinginnya koyo ngene. Minta jeruknya aja lah…..

???

  == Semoga Almarhum Ibu dan Ayahku mendapatkan tempat yang diberkati, yang indah dan nyaman di sisi-Nya. Amin.  ==

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s