Kebijakan Romo babe dan Ibuku

Ada beberapa kisah yng terekam ketika waktu dulu kami masih anak-anak. Tentang bagaimana Bapak Ibu mengajari kami memaknai makna hidup. Bahwa dimanapun kita tinggal, itu adalah tempat terbaik kami kami. Bahwa sekecil apa pun yang miliki, itu adalah rahmat Tuhan yang harus kita syukuri. Bahwa seberapapun kesalahan yang kita perbuat, itu terjadi karena kita selalu berusaha untuk menjadi lebih baik….dan ketika menyadari semua kekurangan kita, kita hanya bisa tertawa. Menertawai diri sendiri, karena saat mencoba untuk tulus, kita seringkali menjadi begitu lugu.

Eh tapi semua jadi tampak lucu lho………

1. Tempat terbaik

Dimana kita tinggal, itulah tempat terbaik bagi kita. Tuhan telah menempatkan berbagai macam orang di setiap sudut bumiNya. Tapi kadang-kadang orang merasa kurang dengan apa yang ada di skitarnya. Wuih!Para suetepa kecil kadangkala mengeluh dan protes kepada Romo. Mengapa kita tinggal di pelosok kampong yang terpencil ini? Jauh dari kota, dari pusat keramaian? Dan berbagai kekecewaan lain. Tapi Romo yang menjawab dengan bijak,”Beruntunglah kita semua tinggal di tempat ini. Kita punya langit yang lebih tinggi, paling tinggi malah. Coba lihat di ujung sana…..langitnya lebih rendah, bahkan hampir menyentuh bumi. Bayangkan kalau kalian tinggal disana, mungkin kepala kita sundul (menyentuh) langit….”Kata Romo orang-orang yang tinggal di ujung-ujung dunia itu tubuhnya pendek-pendek nggak bisa tinggi…..karena kepalanya membentur langit.Oh begitu…..untung kami tinggal di rumah kami, sehingga kami bisa tinggi. Makasih Babe! 

2. Bumi itu bulat, Tuan!

Kata orang Galileo lah yang pertama kali menmukan bahwa bumi itu bulat. Ia membuktikannya dengan melihat lengkung langit yang menyentuh bumi pada ujung cakrawala, dan penampakan tiang layer perahu yang mengawali pemunculan sebuah perahu. Tapi bagiku Ayah lah orang pertama yang mengatakan bahwa bumi itu bulat. Pernyataan Galileo mungkin baru ada (baru aku tahu) ketika saya SMP, tapi jauh sebelum itu, yaitu ketika saya masih SD, ayahku sudah bilang bahwa bumi itu bulat (jangan-jangan Galileo berguru sama Ayahku, ya…?)Saat itu aku masih kecil. Biasanya setiap malam selalu ada orang yang datang sekedar main ke rumah (kalau tidak, kami – saya ikut ayah saya- yang main ke rumah tetangga). Malam itu kami di sebuah balai panjang rumahku. Di depan beberapa tetangga dan seluruh keluarga, ayahku menyatakan bahwa bumi itu bulat, seperti kepalan tangan ayahku. Dengan peragaan tangannya, ayahku menerangkan fenomena siang dan malam, posisi bulan dan matahari, serta pengaruhnya terhadap gelap dan terang. “Kalau siang kita disini, matahari di sini jadinya terang.…. kalau malam hari posisinya begini; matahari di sini, bumi begini, jadinya gelap…. Jadi kalau malam posisi kita terbalik. Yang di atas jadi di bawah, yang di bawah jadi di atas”Wah keren banget penjelasan ayahku. Malam itu juga saya keluar ingin melihat posisi benda-benda yang serba terbalik; pohon yang akarnya di atas dan daunnya di bawah, rumah-rumah yang atapnya di bawah, dan kalau mungkin…melihat orang yang berjalan terbalik. Tapi malam itu saya tidak melihatnya. Mungkin karena saya masih terlalu kecil, jadi belum bisa melihatnya. Atau barangkali kalau saya keluarnya agak lebih malam lagi, saya akan bisa melihatnya. 

3. Ikan-ikan yang kedinginan

Sore itu saya pulang dari sawah bersama Romo babe. Siang tadi Romo membeli bibit ikan dan sorenya kami tebarkan benih ikan itu di ‘leleran’ sawah. Pulang dari sawah hujan turun yang tadinya rintik-rintik kecil menjadi deras dan lebat.Saya : Aduh Be kalo hujan2 gini kasihan kan ikan-ikan tadi kedinginan….mengapa tadi kita taruh di sawah ya……Rom-Be: Oh, iya!  (tampak terkejut) tadi juga ayah taruh di air… jangan2 jadi busuk ya…kerendam lama gitu…Dan kami terdiam berdua merenungi kejadian hari itu. 

4. Terlalu sore untuk belanja

Hidup di pedalaman tanpa tape recorder sungguh tidak enak. Apalagi disaat hujan turun, mau menghidupkan radio takut kena petir, nonton TV tak punya TV [boro-boro TV, tape recorder aja nggak ada…]. Saat itu aku membayangkan betapa enaknya kalo punya tape recorder, bisa nyanyi-nyanyi di sela-sela suara hujan dan gemuruh sungai di belakang rumah yang seringkali banjir dan membabat pohon-pohon ditepi aliran jalannya.

Saya : Mo mbok kita beli tip yuk…. Kan enak didengerin hujan2 gini…bisa sambil ngapalin lagu2….Romo Babe: yah…boleh saja beli…. Tapi kalo sore-sore gini kan tokonya sudah pada tutup semua…Saya : Huh !Aku tahu itu cume alesan gak punya uang, karena di hari lain aku minta lagi, ayah tetap punya alasan yang lain lagi. 

5. Statistikakung

Di peternakan ayam pedaging PT Tri Halimah Sukarsono, setiap satu periode pemeliharaan ditebar anak ayam sebanyak sekitar dua ribu ekor pada setiap kandangnya. Anak ayam pedaging agak rentan daya tahan hidupnya. Dalam pertumbuhannya selalu saja ada yang mati setiap hari. Baru setelah memasuki usia sekitar 15 hari, ia menjadi lebih kuat. Walaupun kematian anak ayam adalah hal yang biasa, tetap saja ada ksedihan setiap kali harus membakar para jenazah ayam-ayam itu. Tapi Gono dan Mbah Kung punya cara tersendiri untuk tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, yaitu dengan menyadari bahwa walaupun terjadi kematian, masih ada ayam yang hidup.Gono : Wah untung kita nebar ayamnya 2000 ya Kung, jadi walaupun mati lima puluh masih banyak sisanya…..Kung : Iya. Jadi bersyukurlah masih ada yang tersisa…. Coba bayangkan kalau nebarnya hanya duapuluh dan mati lima puluh……kan harus nombok…..Gono manggut2.Ah mengapa Romo tidak mengikuti kaidah peluang dan kejadian? Apa karena gak tahu mata kuliah statistika?. Ia tak peduli bahwa sebenarnya sebuah peluang hanya terjadi dalam lingkup ruang contoh. Ah, tapi mungkin juga justru pemikiran Romo yang tidak terbatas pada dimensi ruang.  

 6. Pohon kayu manis seharga Rp.2500

Sekitar tahun 80-an, dibelakang rumah masih terdapat kolam panjang dan di salah satu tepi kolam itu hidup sebatang pohon kayu manis. Pohon itu sudah cukup besar, tidak sebesar kayu gelondong tapi sudah cukup besar untuk dipanjat. Tapi tak seorangpun yang suka memanjat pohon itu karena tidak banyak bercabang. Suatu hari ada seorang asing melewati kolam itu dan berniat membeli pohon tersebut. Mungkin karena merasa tidak butuh terhadap pohon itu akhirnya Mbah Uti menjual pohon itu seharga Rp.2500. Mbah uti merasa senang dan bangga karena bisa mendapatkan uang Rp.2500 dari pohon yang tidak penting bagi kami, tapi kami yang mendengar cerita itu jadi sedih campur geli. Kok bisa-bisanya jual satu batang pohon dngan harga 2.500. uang segitu kalo buat beli kayu manis di pasar paling dapat satu genggam aja! 

7. Obat lidah buaya

Pasca tahun 2000 marak dengan berbagai isu seputar pola hidup yang alami. Beragam tips dipublis berkaitan dengan kehidupan yang harmoni dengan alam, back to nature. Dalam bidang kesehatan pun demikian.  Berbagai bentuk pengobatan alami menyeruak. Model pengobatan dengan self healing menjadi trend baru.Mulai dari pengobatan herbal, dan ramuan tanaman local. Hingga kemudian muncul pengobatan dengan buah noni (mengkudu), apple vinegar, serbuk mahkota dewa, nata lidah buaya dan lain-lain. Romo Babe yang kreatif pun tak mau ketinggalan. Meskipun telah sangat sring keluar-masuk Rumah Sakit, ia masih selalu mencoba bereksperimen. Cuka apel ia coba. Mengkudu ia ramu. Dan lidah buaya pun ia siapkan. Romo berharap, sesuai teorinya, bahwa lidah buaya itu bisa menghilangkan lender di tenggorokan dan membuat pernafasan menjadi lebih lega. Sayangnya ia tak tahu jenis lidah buaya yang bagaimana yang berkhaasiat obat yang sesuai untuknya. Sehingga ia mngambil sembarang lidah buaya. Yang ia ambil saat itu adalah lidah buaya yang ada di pot tanaman hias rumah kami. Entah bagaimana meramunya, tapi tidak berapa lama kemudian romo sudah berada di Rumah Sakit. Tidak diketahui apakah lidah buaya itu bisa membersihkan lendir di tenggorokan…tapi yang jelas telah menimbulkan gatal dan nyeri di lambung.Tak ada yang tahu cerita ini sebelumnya. Juga ketika Romo tiba-tiba sakit dan harus dibawa ke RS. Tak ada yang tahu apa penyakit Romo dan apa penyebabnya, sampai suatu ketika saat hari kesekian di kamar RS dan seorang sahabatnya menjenguk….barulah ia menceritakan asal muasalnya. Oh ternyata Romo menjadi korban eksperimnnya sendiri. Senjata makan tuan?  

8. Buah kesemek

Siapa tahu buah kesemek? Mirip apel tapi seperti brtabur tepung, dan tentu saja tidak seenak apel. Siapa pernah makan buah kesemek? Kami belum pernah makan. Suatu hari Puji pulang membawa buah jaman kuno tersebut. Konon sebelum masak buah itu harus disimpan dalam beras supaya cepat matang. Dan Te Put pun melakukannya. Tapi ternyata buah itu masih saja sepet dan mengkal.Kung: Coba disiram pake air ‘leri’ (air cucian beras), nanti kan cepet mateng.Wah bener juga kali. Kan buah itu biasa agak bertepung keputihan, mungkin karena endapan air leri itu. Dan Puji pun kembali merendam buah kesmek dalam leri. Tapi bagaimana hasilnya? Ternyata buah itu masih tetap setia dengan rasa aslinya; sepet!Lalu apa komentar Kung?“…..Lha wong memang buah itu makanan monyet, yang doyan juga cuma monyet …..!”Oh…..lalu ngapain Kung nyaranin orang ngerendam air leri segala….huh! 

9. Negara dengan dua presiden

Sebagai pengamat politik amatiran, semestinya Romo sudah bisa menulis buku. Romo telah membuat penomoran wajah orang sedunia. Katanya wajah orang Indonesia masuk dalam urutan nomor tiga dari lima kelas. Sampai sekarang saya masih belum bisa mencerna parameter apa yang dipakainya. Tapi kalo tentang adanya dua presiden pada satu Negara, saya sudah bisa mengerti. Then, Negara manakah yang mempunyai dua presiden? Tanya Romo suatu hari. Hihihi….mana ada?Ada!Presidennya adalah Slobo dan Milosevic! Oalah……  

10. Formalin!! pembasmi hama …..dan tanaman!

Setiap habis satu periode panen kandang ayam di peternakan di belakang rumah selalu dibersihkan dan disemprot dengan formalin, untuk mematikan berbagai serangga dan kuman penyakit pengganggu. Ayah tahu betapa formalin itu sangat ampuh membasmi serangga hama. Maka ia menggunakannya untuk menyemprot bagian-bagian pojok luar rumah kami. Ibu tidak mngetahui hal itu. Tapi pohon cabe di ‘longkang’ [taman dalam rumah] tiba-tiba trlihat layu dan daunnya mongering. Ibu : Apa aku salah ngasih pupuknya ya….kemarin2 pohon cabe itu tampak subur dan gemuk….tapi koq sekarang tiba-tiba layu….Ayah sebenarnya mendengar keluhan ibu itu, tapi pura-pura gak tahu….tapi di lain hari Ia bilang pada saya, bahwa ia telah menyemprot tanaman cabe itu …dengan formalin. Pantes aja langsung gosong dan mengering gitu….Oh formalin…formalin, ia memang sangat ampuh…tidak hanya membasmi serangga tapi juga tanamannya sekaligus! 

11. Bunglon’e Le’ Naryo

Bukan hanya Ibu yang penuh kasih. Romo babe pun penuh kasih. Buktinya ketika saya menanam anggur dia bikinkan pagarnya, ketika saya bertanam jamur dia buatkan rak-raknya, ketika kami ingin menghiasi rumah dengan bougainville ia pasang palangnya. Saat SMP ada nilai mrah di rapor ialah yang menghibur (katanya ada temenku yang nilai merahnya dua…). Suatu hari saya harus membawa bunglon untuk bahan praktikum di kampus. Saya minta ke Romo, dan ia pun membuat sayembara “Barang siapa yang bisa mendapatkan bunglon atau cleret gombel…akan dibeli seharga sribu perak!”. Dan sore hari itupun kudapatkan seekor bunglon untuk kerja praktikum ke kampus. Dan saya bisa ikut praktikum dengan sukses. Thank you Dad!Tapi ternyata ada yang kurang pada sayembara yang diselenggarakan oleh Romo Babe, yaitu batas waktunya. Dan karena tidak ada batas waktunya maka pada keesokan harinya Lek Naryo menyerahkan seekor Bunglon untuk ditukar dengan uang seribu rupiah. Wah padahal kan butuhnya dah kemarin! Kasihan lek Naryo. Tapi kemudian Romo Babe menyarankan agar bunglon itu digiring ke Muntilan….. kalo sudah agak deket sama Jogja siapa tahu bisa laku! Maafin kami yo lek…… 

12. Proyek tanah untuk le’ Naryo

Lek Naryo, yang tinggal disamping rumah kami itu juga yang selalu bantu2 kami untuk membersihkan halaman rumah dari rumput2 liar. Rumput2 bertebaran kadang bisa dicabuti dengan tangan, tapi kadang terlalu banyak sehingga harus di cabut serempak dengan pacul (cangkul). Kami menyebutnya besrik. Seperti petani kampung yang lain, disamping bekerja di sawahnya yang tidak seberapa lek Naryo juga buruh mencangkul dan pekerjaan apa saja termasuk bantu2 kami membersihkan halaman. Tapi kadang sering terjadi kesalahpahaman di antara kami. Lek Naryo menganggap pekerjaan bersih2 rumput itu setara dengan mencangkul dan berharap bayaran seperti orang mencangkul. Katanya,” Orang macul itu dibayar 12 ribu se petak (sekitar  4×4 meter)”Dan kami pun menjawab; Ya udah besok kami kasih proyek yang luasnya 1 meter aja, yaitu menggali sumur. Nanti tak bayar se petak…..”Dan le’ Naryo Cuma garuk2 kepala…..Wah siapa yang berani……..!Bayarannya di tambah deh…..  

13. Kamal Tugu vs Kamal Warung

Suatu hari Andik cerita kepada Mbah Kung tentang teman sekolahnya yang rumahnya di Kamal.Andik: “….dia itu rumahnya di Kamal yang dipinggir jalan itu…….”Kung: Kamal tugu po Kamal warung?Andik: Kamal tuguKung: kan di Kamal tugu gak ada rumah…..Andik: Yo Kamal WarungKung : Kalo dah punya warung ngapain juga dia punya rumah…????Andik: A Mbuh! 

14. Salah baca-1; Hari Tohari

Ketika belum ada stasiun TV swasta, semua yang ditayangkan oleh TVRI pasti akan ditonton oleh jutaan orang dari sgenap pelosok negeri Indonesia. Tak heran kalo orang selalu mengikuti program acara yang ditayangkan. TVRI jaman dulu hanya tayang mulai jam 5 sore. awal tayang dimulai dengan display logo TVRI (kami membacanya ‘TURI’). Beberapa menit sebelum on air orang baru muncul logo itu, dan orang mengatakan “…wah TV-nya masih TURI….” Baru setelah lagu Indonesia raya seorang penyiar akan membacakan “tinjauan acara” hari itu, dan dilayar muncul tulisan program acara tersebut.

Sore itu Ibu juga melihat tinjauan acara. Dan malamnya ia begadang terus di depan TV menunggu acara yang dinanti2kannya tayang. Saya heran acara apa gerangan yang bisa memaksa Ibu bertahan di depan TV (soalnya ia hanya suka acara ketoprak, wayang dan flora fauna…).Saya : Ibu nunggu acara apaan sih kok belum tidur…?Ibu   : Itu tadi di tinjauan acara sepertinya ada acara yang bagus… mungkin ada drama atau fragmen…Saya : Memang acara apa? Judulnya?Ibu    : Judulnya ‘Hari Tohari’ jam 10-anSaya berfikir masak ada acara fragmen malam kamis jam segitu? (waktu itu sinema produk dalam negeri masih sangat jarang, dan biasanya hanya diputar pada malam libur dan diulang-ulang). Setelah dipikir2, rupanya yang dimaksud Ibu adalah acara Film serial Hart to Hart…. Oalah…ternyata Ibu salah baca.* [Pada era serial Hunter, SilverHawk, Remington Steel, etc-etc…, ada sebuah serial berjudul ‘Hart to Hart’. Serial-serial itu biasa tayang sekitar pukul 10 malam].   

15. Salah baca-2; Di bawah katul istimewa

Suatu hari Ayah membaca sebuah tulisan. Mungkin dari sebuah buku atau sebuah majalah. Tulisannya pendek saja, tapi membuat ayah cukup pusing…. Judul tulisan itu  adalah “Di bawah garis katul istimewa…”. Ayah bingung apa maksudnya; katul istimewa itu apa? (di negeriku, katul adalah sejenis dedak atau kulit ari dari padi yang lembut dan banyak mngandung vitamin B). Apa istimewanya katul?  Dan setelah dibaca berulang ternyata tulisan itu berbunyi;”Di bawah garis katulistiwa…”

Oh….

 16. Pohon alpukat berbuah labu=pohon rambutan berbuah koro

Memiliki pekarangan yang cukup luas membuat kami selalu berfikir bagaimana cara memanfaatkannya. Tidak pduli sudah begitu banyak tanaman yang ada, kami selalu ingin menanam dan menanam lagi, mnambah lagi dengan tanaman baru. Beragam tanaman tumbuh di halaman depan, samping dan kebun belakang rumah. Tanaman yang sudah tua (dan belum pernah berbuah) disusul tanaman2 baru (yang kemudian terbukti tidak berbuah juga). Pohon-pohon susul menyusul ditanam, hidup meliar, merana, kemudian nestapa. Dari pohon cengkeh, duku, rambutan, dondong (almarhum), jambu almarhum, kelapa almarhum, sirsat almarhum, mangga almarhum, alpukat, durian, anggur almarhum, mahkota dewa, pisang, papaya, nangka, dan berbagai macam jenis bunga bercampur dengan pohon2, rumput dan tanaman liar. Dari sekian tanaman yang ada mungkin hanya alpukat yang pernah berbuah dan bisa dinikmati hasilnya. Pohon cengkeh yang berderet di halaman depan berdaun lebat tetapi buahnya melarat. Pohon rambutan menjadi arena main panjat bagi anak-anak tetangga. Pohon alpukat disamping rumah pada musim-musim tertentu berbuah alpukat, tetapi lebih sering berbuah labu. Dan pohon durian, rambutan, dan jambu di tepi kolam belakang rumah berbuah koro…..!!! wah sungguh ajaib tanaman2 kami ini. 

 17. Awas…durian runtuh!!!

Sebegitu banyak tanaman dan kami masih selalu berfikir untuk menanam dan menanam lagi. Kakak-kakak sering datang membawakan benih2 buah2an, benih tanaman obat, dan lain-lain. Walopun tanaman-tanaman itu sangat jarang berbuah, kami terus saja giat menanam. Dan ayah selalu mendukung.  Tahun 90-an saya dan puji membeli bibit tanaman buah ke Purworejo. Dua cewek jalan-jalan ke luar kota untuk beli benih buah-buahan, dewasa banget! Kami membeli satu tanaman kedondong, satu alpukat, dan dua tanaman durian. Konon menurut penjualnya tanaman durian kami adalah durian genjah yang bisa berbuah dalam usia lima tahun. Kami pulang dengan bahagia membayangkan bahwa paling lama lima tahun lagi kami bisa panen durian sendiri sehingga tidak harus  patungan membeli durian dan memakannya sambil rebutan. Pohon durian kami tanam di kebun belakang rumah. Dengan banyak pupuk kami selalu berharap durian itu akan segera berbuah. Pohon durian pun tumbuh membesar, tapi tahun demi tahun kami tunggu tak pernah ada tanda-tanda pembungaan. Walo begitu kami tetap bersabar. Dan setiap kali ada para cucu, Mbah Kung selalu berpesan: “Awas…jangan main-main di dekat kolam…nanti kejatuhan durian…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s